Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bab 39 ~> Memperbaiki Semuanya

391 29 3
                                        

{Di Rumah}

Jam di dinding sudah menunjukkan lewat tengah malam. Ruang tamu terasa sunyi, hanya suara detik jam yang berdetak pelan namun menyiksa.

Madam duduk di sofa dengan posisi tegak, jemarinya saling menggenggam erat. Wajahnya tenang, tapi matanya jelas menyimpan kegelisahan.

Sudah terlalu lama.

Savan menuruni tangga perlahan, masih mengenakan sweater tipis. Begitu melihat Madam sendirian diruang tamu, langkahnya terhenti.
"Madam." panggilnya pelan.

Madam menoleh cepat.
"Savan, kamu tidak menemani Winan?"

"Aku haus, jadi turun sebentar mau ambil minum. Madam masih nungguin mereka?" tanya Savan.

Madam belum sempat menjawab ketika suara bel rumah tiba-tiba berbunyi.

Tringg... Tungg~

Mereka berdua menoleh ke arah pintu. Savan merasakan dadanya ikut menegang.

Pintu terbuka, Gama dan Forlan masuk dengan wajah lelah. Madam langsung berdiri dan menghampiri mereka, pandangannya cepat menyapu ke belakang... kosong.
"Abang kamu mana, Gama?" tanya Madam tanpa basa-basi, suaranya jelas menahan panik.

"Aku nggak tahu, Madam. Aku kira mereka sudah pulang duluan." jawab Gama, raut wajahnya ikut berubah.

Forlan menghela napas sebelum bicara, seolah mengumpulkan ingatan.
"Kak Forlec tadi bareng Kak Brayden di kamar bar. Aku nggak tahu mereka ngapain. Kalau Kak Patwan bareng Kak Nayfan, masih di bar juga, tapi beda ruangan sama Kak Forlec. Kak Raychen bareng Kak Dunfiw, kita sempat ketemu, mereka pulang duluan. Aku kira semuanya udah sampai disini duluan."

Madam terdiam sesaat.
"Naravan dan Phuwiniy ke mana?" tanyanya lagi, kali ini lebih pelan... tapi jauh lebih menusuk.

Ruangan mendadak sunyi.

Gama dan Forlan saling pandang, lalu menunduk.
"Aku... nggak tahu, Madam." jawab Forlan lirih.

Savan yang sejak tadi berdiri di dekat tangga akhirnya angkat suara.
"Madam... Naravan kan belum tahu kita tinggal disini sementara. Bisa jadi dia ke Castle."

"Tadi pagi Kak Phuwiniy bilang mau ke toko buku buat ketemu Naravan." tambah Savan.
"Bisa aja mereka lagi bareng."

Madam berdiri tegak.
"Sial... kita nggak tahu kondisi Castle sekarang." Ia menatap Gama tajam.
"Gama, telepon Abang kamu."

"Baik, Madam." jawab Gama buru-buru mengeluarkan ponsel.

Drett... Drett~
Telepon berdering.

"Kenapa, Gama?" suara Forlec terdengar di seberang.

"Ada apa?" Patwan ikut
menyahut.

"Kalian disuruh pulang
sama Madam."
kata Gama cepat.

"Ada apa emang?" tanya Patwan, nadanya mulai serius.

Gama menarik napas.
"Naravan... hilang."

Hening sepersekian detik.
Tutt... Tutt...
Telepon dimatikan.

"Kok dimatiin sih!" Gama menatap layar ponselnya kesal dan panik.

"Gimana, Gama?" tanya Madam.

Forbidden Castle ||•END•||Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang