Menceritakan tentang enam bersaudara yang tanpa sengaja terjebak di sebuah castle misterius. Awalnya, salah satu dari mereka menemukan buku tentang "Forbidden Castle" di sebuah toko buku. Dengan rasa penasaran yang besar, ia mengajak saudara-saudara...
Bangsat... orangnya dateng! batin Savan panik, keringat mulai mengalir di pelipis.
"K-kak Winan?"
Winan menatap datar. "Kita kenal?"
"Kak Winan lupa? Aku... pacar kamu." Savan berusaha tersenyum, meskipun wajahnya pucat ketakutan.
"Savan goblok! Tarik kembali omongan lo!" geram Fordan dibelakangnya.
"Lo tau nggak? Winan itu nggak pernah pacaran." celetuk Raiycha tajam.
"Kalau mau bohong, yang realistis dikit dong." sindir Nawfaniy.
Tiba-tiba, Winan melingkarkan lengannya di pinggang Savan, menariknya mendekat. "Kalau kamu pacarku..." bisiknya dingin, "Kenapa kita nggak jalan berdua malam ini?"
Savan menegang. "Ta-tapi—"
"Itu beneran pacarnya Winan?" gumam salah satu tamu yang ikut menyaksikan.
"Nggak mungkin! Winan nggak suka cowok!" sahut Raiycha lantang, membuat kerumunan mulai bergumam.
Suasana semakin ramai. Savan makin tak nyaman, mulutnya bergetar. "Aku... aku bohong. Maaf, Kak Winan. Tadi aku ngomongin kamu..."
Tiba-tiba, ruangan penuh dengan sorakan.
"HuuuUuuUuuUuuu~!"
"Gue udah bilang, cowok kayak dia nggak mungkin jadi pacarnya Winan!" ejek Nawfaniy sambil tertawa kecil.
"Dia pacar gue!" Kalimat Winan yang dingin dan tegas memotong keramaian. Savan terkejut.
"Apa?! Tapi dia ngomongin lo Winan!" ujar salah satu tamu disana.
Winan menatap Savan tanpa ekspresi, lalu dengan gerakan cepat, ia meraih dagu Savan dan... "Ngomongin dari jarak sedekat ini maksud lo?"
Sebelum Savan sempat bereaksi, bibir Winan menghantam bibirnya kasar. Ia mencium Savan secara paksa didepan semua orang.
"Mphhh..."
Tangan Winan menekan punggung Savan agar tetap menempel, membuat tubuhnya sulit bergerak. Bibir Savan terasa perih seperti tergigit hingga akhirnya ia berhasil mendorong tubuh Winan menjauh.
"K-kak... sa-sakit..." ucap Savan, menggenggam bibirnya yang mengeluarkan darah.
"Manis." ucap Winan dengan senyum bangga yang menjengkelkan.
"Lo gila!" teriak Savan marah dan ketakutan, lalu berlari keluar dari ruangan pesta itu.
"Menarik juga bocil satu ini." gumam Winan sambil mengusap bibirnya.
[Di luar Night Party]
"Savan! Lo nggak apa-apa?" Marvin dan Fordan menghampiri, nafas mereka memburu karena panik.
Savan terduduk di pojok, tubuh gemetar. "Bibir gue... Vin... sakit banget..." ujarnya terisak, menunjukkan luka dibibirnya.
"Anjir! Winan cium lo sampai berdarah?! Gila!" ucap Fordan murka.
"Gue... gue nggak pernah di cium sebelumnya..." Savan menunduk, air mata jatuh satu-satu di pipinya.
"Berarti... itu ciuman pertama lo..." celetuk Marvin, suaranya pelan.
"Ciuman pertama apa? Gue nggak ngerti. Gue takut... gue mau pulang. Mau telpon Kak Phuwiniy... hiks..."
"Tenang, Savan. Kita tunggu di sini sampai Kakak lo datang." ujar Marvin lembut, menepuk punggungnya pelan.
Savan mengambil hp nya lalu mengechat Kakanya itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.