Tiba-tiba cahaya biru muncul. Naravan datang, wajahnya penuh keringat, terengah. Tanpa bicara panjang, ia segera memakaikan kalung koala ke leher Winan.
"Gua tepat waktu kan...?" ucapnya, nadanya berat.
Tubuh Winan bergetar. Cahaya samar mengelilinginya, dan perlahan tubuhnya kembali seperti semula walaupun bekas hitam di kulitnya tak sepenuhnya hilang. Napasnya kembali stabil.
"Gua... masih hidup?" suara Winan bergetar, antara tak percaya dan lega.
"WINAN!!" seru mereka serempak, langsung memeluknya. Air mata menetes, bercampur tawa haru.
Winan menoleh, menatap Naravan yang masih terengah, senyum kecil muncul di bibirnya.
"Makasih, Naravan..."
Naravan tersenyum samar, tapi matanya berair. "Lo gak akan gua biarin pergi. Lo harus hidup, Winan."
Raychen ikut tersenyum, tapi suaranya gemetar.
"Gua kira lo beneran hilang... jangan bikin gua jantungan, tolol!"
Tiba-tiba Forlec menjewer telinga Raychen....
"Aduh! Sakit, Forlec! Gua kira lo udah pensiun dari kekerasan fisik!" protes Raychen sambil ngelus telinganya karena di jewer Forlec.
"Makanya jaga ucapan lo! Winan hampir jadi abu, lo malah asal ngomong gitu!" Forlec ngelipet tangan dengan muka jutek.
"Yakan gua cuma nyoba biar suasananya gak sedih banget..." Raychen nyengir kecil.
"Sorry deh kalau omongan gua kasar."
"Eh..." Winan angkat tangan, senyum lemah. "...gua baru sadar, kalung ini baunya kayak keringet Naravan, ya?"
Naravan langsung nyeletuk cepat,
"Lo seharusnya bersyukur, keringet gua limited edition, bukan bau sempak bekas kayak lo."
Winan berdiri perlahan.
"Gua bersyukur banget kalian semua ada disini. Walaupun kadang norak, kadang berisik..."
"Sopan banget tuh mulut." timpal Gama sambil nyengir. "Biasanya lo bilang kita kayak gembel liburan."
"Gua tahan-tahan tadi. Soalnya nyawa gua baru dapet bonus." ujar Winan sambil nyender ke Naravan.
"Ayok masuk dulu ke Castle." ucap Patwan lembut. "Tubuh lo belum sepenuhnya pulih, Winan.
Mereka semua pun bantu Winan masuk ke dalam Castle.
{Di Kamar Winan}
Winan duduk di kasur, berselimut tebal. Wajahnya masih pucat, tapi matanya mulai hidup lagi. Yang lain duduk mengelilinginya.
"Lo tahu gak." celetuk Gama santai,
"Gua udah nyiapin pidato pemakaman lo barusan."
"Gua juga udah cari tempat deket gunung, angin enak, cocok buat nyebar abu." sambung Raychen sok serius.
Winan langsung melempar bantal.
"Lo berdua niat banget ya!"
Tawa pecah di seluruh ruangan. Tegangan yang tadi menggantung akhirnya mencair.
Namun di pojokan, Naravan berdiri diam. Pandangan matanya kosong, menatap keluar jendela tempat hujan tipis mulai turun. Bahu lebarnya naik-turun pelan, seolah menahan sesuatu yang berat di dadanya.
Patwan menghampiri, suara lembut tapi khawatir.
"Lo masih kepikiran soal Phuwiniy?"
Naravan hanya mengangguk pelan.
Suaranya pelan tapi tajam, nyaris seperti bisikan yang terpotong napas.
"Menurut lo... yang gua lakuin ini salah gak? Gua putus sama Phuwiniy karna belain Winan. Awalnya gua kira Phuwiniy itu rumah ternyaman bagi gua, kepercayaan gua sepenuhnya ada di Phuwiniy..." Matanya bergetar.
"Tapi... dia balas dengan pengkhianatan."
Patwan menatapnya tanpa bicara.
Forlec ikut maju, suaranya tegas tapi lembut.
"Lo udah lakuin segalanya buat ngelindungin Winan. Dia masih hidup sekarang karena lo, Naravan"
Naravan terdiam. Dia berusaha tersenyum, tapi gagal. Matanya mulai basah, tapi air mata itu gak pernah jatuh. Di balik tatapan tajamnya, ada badai campuran amarah, kecewa, dan kehilangan yang tidak dia ucapkan. Dan di antara semua itu, ada satu hal yang paling menyesakkan:
Kepercayaan yang hancur pada seseorang yang sangat ia cintai:
yaitu Phuwiniy.
"Gua ke bawah dulu ya, Winan. Kalo butuh apa-apa panggil gua aja." ujar Gama.
Begitu Forlec, Patwan, dan Raychen pun ikut, tapi tidak dengan Naravan.
"Gua temenin Winan disini." ujar Naravan. Lalu mereka pun paham, pergi meninggalkan mereka berdua disana.
{Di Hutan}
KAMU SEDANG MEMBACA
Forbidden Castle ||•END•||
General FictionMenceritakan tentang enam bersaudara yang tanpa sengaja terjebak di sebuah castle misterius. Awalnya, salah satu dari mereka menemukan buku tentang "Forbidden Castle" di sebuah toko buku. Dengan rasa penasaran yang besar, ia mengajak saudara-saudara...
