Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bab 30 ~> Kamu Kembali?

343 25 0
                                        

Tiba-tiba cahaya biru muncul. Naravan datang, wajahnya penuh keringat, terengah. Tanpa bicara panjang, ia segera memakaikan kalung koala ke leher Winan.

"Gua tepat waktu kan...?" ucapnya, nadanya berat.

‎Tubuh Winan bergetar. Cahaya samar mengelilinginya, dan perlahan tubuhnya kembali seperti semula walaupun bekas hitam di kulitnya tak sepenuhnya hilang. ‎Napasnya kembali stabil.

"Gua... masih hidup?" suara Winan bergetar, antara tak percaya dan lega.

‎"WINAN!!" seru mereka serempak, langsung memeluknya. Air mata menetes, bercampur tawa haru.

‎Winan menoleh, menatap Naravan yang masih terengah, senyum kecil muncul di bibirnya.
‎"Makasih, Naravan..."

‎Naravan tersenyum samar, tapi matanya berair. "Lo gak akan gua biarin pergi. Lo harus hidup, Winan."

‎Raychen ikut tersenyum, tapi suaranya gemetar.
‎"Gua kira lo beneran hilang... jangan bikin gua jantungan, tolol!"

Tiba-tiba Forlec menjewer telinga Raychen....
‎"Aduh! Sakit, Forlec! Gua kira lo udah pensiun dari kekerasan fisik!" protes Raychen sambil ngelus telinganya karena di jewer Forlec.

‎"Makanya jaga ucapan lo! Winan hampir jadi abu, lo malah asal ngomong gitu!" Forlec ngelipet tangan dengan muka jutek.

‎"Yakan gua cuma nyoba biar suasananya gak sedih banget..." Raychen nyengir kecil.
"Sorry deh kalau omongan gua kasar."

‎"Eh..." Winan angkat tangan, senyum lemah. "...gua baru sadar, kalung ini baunya kayak keringet Naravan, ya?"

‎Naravan langsung nyeletuk cepat,
"Lo seharusnya bersyukur, keringet gua limited edition, bukan bau sempak bekas kayak lo."

‎Winan berdiri perlahan.
"Gua bersyukur banget kalian semua ada disini. Walaupun kadang norak, kadang berisik..."

‎"Sopan banget tuh mulut." timpal Gama sambil nyengir. "Biasanya lo bilang kita kayak gembel liburan."

‎"Gua tahan-tahan tadi. Soalnya nyawa gua baru dapet bonus." ujar Winan sambil nyender ke Naravan.

‎"Ayok masuk dulu ke Castle." ucap Patwan lembut. "Tubuh lo belum sepenuhnya pulih, Winan.

Mereka semua pun bantu Winan masuk ke dalam Castle.

{Di Kamar Winan}

‎Winan duduk di kasur, berselimut tebal. Wajahnya masih pucat, tapi matanya mulai hidup lagi. ‎Yang lain duduk mengelilinginya.

‎"Lo tahu gak." celetuk Gama santai,
"Gua udah nyiapin pidato pemakaman lo barusan."

‎"Gua juga udah cari tempat deket gunung, angin enak, cocok buat nyebar abu." sambung Raychen sok serius.

‎Winan langsung melempar bantal.
"Lo berdua niat banget ya!"

‎Tawa pecah di seluruh ruangan. Tegangan yang tadi menggantung akhirnya mencair.

‎Namun di pojokan, Naravan berdiri diam. ‎Pandangan matanya kosong, menatap keluar jendela tempat hujan tipis mulai turun. ‎Bahu lebarnya naik-turun pelan, seolah menahan sesuatu yang berat di dadanya.

‎Patwan menghampiri, suara lembut tapi khawatir.
‎"Lo masih kepikiran soal Phuwiniy?"

‎Naravan hanya mengangguk pelan.
‎Suaranya pelan tapi tajam, nyaris seperti bisikan yang terpotong napas.
‎"Menurut lo... yang gua lakuin ini salah gak? Gua putus sama Phuwiniy karna belain Winan. Awalnya gua kira Phuwiniy itu rumah ternyaman bagi gua, kepercayaan gua sepenuhnya ada di Phuwiniy..." ‎Matanya bergetar.
"Tapi... dia balas dengan pengkhianatan."

‎Patwan menatapnya tanpa bicara.
‎Forlec ikut maju, suaranya tegas tapi lembut.
‎"Lo udah lakuin segalanya buat ngelindungin Winan. Dia masih hidup sekarang karena lo, Naravan"

‎Naravan terdiam. ‎Dia berusaha tersenyum, tapi gagal. ‎Matanya mulai basah, tapi air mata itu gak pernah jatuh. ‎Di balik tatapan tajamnya, ada badai campuran amarah, kecewa, dan kehilangan yang tidak dia ucapkan. ‎Dan di antara semua itu, ada satu hal yang paling menyesakkan:
Kepercayaan yang hancur pada seseorang yang sangat ia cintai:
yaitu Phuwiniy.

"Gua ke bawah dulu ya, Winan. Kalo butuh apa-apa panggil gua aja." ujar Gama.

‎Begitu Forlec, Patwan, dan Raychen pun ikut, tapi tidak dengan Naravan.

‎"Gua temenin Winan disini." ujar Naravan. ‎Lalu mereka pun paham, pergi meninggalkan mereka berdua disana.

{Di Hutan}

Forbidden Castle ||•END•||Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang