Hari itu, halaman sekolah dipenuhi senyum bahagia, tangisan haru, dan kilatan kamera. Hari kelulusan SMA-hari yang ditunggu-tunggu semua murid, termasuk Geby. Gadis itu berdiri bersama teman-temannya, masih memakai seragam putih abu-abu yang sudah penuh coretan tanda kenangan.
Coretan spidol warna-warni memenuhi seragam putih abu-abu yang kini jadi saksi momen terakhir bersama. Kamera ponsel sibuk bergantian memotret, mengabadikan senyum dan tawa.
"Gebyyy, ayo foto bareng!" teriak Zara sambil menarik tangan Geby ke tengah kerumunan.
Geby terkekeh, lalu berdiri diapit sahabat-sahabatnya. Mereka berpose konyol, ada yang mengangkat dua jari, ada yang menjulurkan lidah. Cahaya matahari sore membuat semuanya terlihat hangat.
Bima datang sambil membawa ponsel. "Gue fotoin ya!" serunya.
"Eh jangan, Bim! Lo ikut juga sini!" sahut yang lain.
Akhirnya, Bima pun berdiri di samping Geby. Ia sempat melirik sebentar ke arah gadis itu, senyum kecil muncul tanpa ia sadari. Klik. Satu, dua, tiga foto tersimpan-dengan Geby yang jadi pusat perhatiannya.
Di sela keramaian itu, Geby sempat berhenti sejenak, memandangi layar ponselnya. Foto-foto kelulusannya penuh senyum, penuh kenangan. Tapi dalam hatinya, ia tahu... perjalanan hidupnya baru saja dimulai.
Keramaian mulai sedikit reda, beberapa murid masih asyik berfoto dan bercanda, mengingat ini adalah momen terkahir mereka sekolah dan akan melanjutkan perjalanan hidup masing-masing.
"Geb..." suara seseorang memanggil pelan.
Geby menoleh, menemukan Bima berdiri di depannya dengan sebuah buket bunga cantik bernuansa pastel, dihiasi pita bertuliskan Happy Graduation Day.
Semua yang ada di sekitar mereka otomatis melirik penasaran.
Bima tersenyum gugup, tapi tetap menyerahkan bunga itu. "Selamat ya, Geb. Gue cuman bisa ngasih ini, semoga lo suka."
Geby terbelalak, tak menyangka. "Ini buat gue?"
Bima mengangguk. "Iya. Gue pengen lo inget hari ini, bukan cuma dari foto, tapi juga dari sesuatu yang bisa lo simpan."
Sebelum Geby sempat menjawab, suara teman-teman langsung riuh.
"Woooo, ciyee Gebyy ada yang kasih bunga!"
"Romantis banget sumpah, kayak di drama-drama!"
"Habis ini tinggal ditembak aja, Bim!"
Geby langsung memerah, buru-buru menunduk sambil menerima buket itu. "Makasih banyak, Bim," ucapnya canggung.
Bima hanya terkekeh, walau hatinya berdebar keras. "Sama-sama, Geb. Lo pantas dapat lebih dari ini."
Sorakan teman-teman makin kencang, ada yang sampai bertepuk tangan, ada juga yang menggoda dengan teriakan cieee. Geby hanya bisa tersenyum kikuk, berusaha menutupi perasaan campur aduk yang berputar dalam dadanya.
Di tengah keributan itu, Zara-sahabat dekat Geby-berdiri sedikit di belakang. Matanya membulat kecil, lalu ia menutup mulut dengan tangan. Bukan karena kaget semata, tapi karena ia tahu sesuatu yang tidak diketahui teman-teman lain: Geby sudah menikah diam-diam dengan Yuda.
Zara menatap bergantian antara Bima yang tampak berbinar dan Geby yang kikuk. Dalam hatinya ia berdesis, "Ya Tuhan ini gak bener!!"
"Bim...lo telat egeee!" gumam Zara lirih, cukup untuk dirinya sendiri. Wajahnya menyimpan kekhawatiran dan kasihan, bukan sekadar ikut heboh seperti murid-murid lain.
Namun, melihat Geby berusaha menutupi rasa canggung dengan senyum tipis, Zara akhirnya hanya bisa menarik napas panjang. Sorakan belum juga reda setelah Bima menyerahkan buket ke Geby. Teman-teman di sekitar semakin berisik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Turtledove [On Going]
FanfictionMohon untuk tidak PLAGIAT⚠️⚠️ 17+ [Cerita ini di tulis untuk dibaca Dibaca para readers dengan senang hati Apalagi jika di tambah follow, vote dan komen Ini pemberitahuan bukan pantun] ^^ Perjodohan? Di jaman sekarang? Gila sih. Tapi apa jadinya ji...
![Turtledove [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/273886984-64-k775157.jpg)