Suara riuh di halaman sekolah perlahan menjauh, berganti dengan dengung mesin mobil yang stabil. Dari kursi penumpang, Geby masih sibuk memeluk buket bunga bertuliskan Happy Graduation Day. Wajahnya cerah meski sedikit lelah, senyumnya belum juga hilang.
Yuda melirik sekilas ke arahnya, lalu kembali fokus ke jalan.
“Capek?” tanyanya singkat.
“Banget!” Geby mendesah panjang, meletakkan bunga di pangkuannya.
Geby melepaskan sepatunya. Ia bersandar sambil mengibaskan tangannya ke wajah. “Duh, panas banget gila hari ini kek lagi dioven.”
Yuda melirik sekilas, bibirnya tersungging senyum tipis. “pantes tu muka kamu merah semua.”
“Hah? Yang bener??” Geby langsung merogoh kaca kecil dari tasnya, memeriksa wajahnya. “bjir, my face so red.”
Yuda terkekeh kecil, kemudian fokus lagi ke jalan. “Kebanyakan nahan senyum jadinya merah.”
“Nahan senyum gimana kak?” Kepala Geby yang awalnya menyender ke jendela langsung tegak dan melihat wajah suaminya.
"Idk sayang, aku cuman liat kamu dari jauh tadi nahan senyum."
"Cerita dong gimana tadi?" Pancing Yuda, dengan nada lembut.
Mata Geby langsung berbinar. Ia mulai ngoceh panjang lebar, tangannya ikut bergerak untuk menekankan ceritanya.
“Tadi tuh chaos banget, Kak. Ada yang bawa balon gede terus meledak, semua orang kaget. Terus aku sama Zara sampai ketawa guling-guling. Ada yang jatuh dari panggung gara-gara kesandung kabel, pokoknya seru banget! Aku ngerasa ini bakal jadi momen yang paling aku inget!"
Yuda hanya mendengarkan. Suaranya kadang masuk di sela-sela cerita, “Terus?” atau “Habis itu gimana?”
Di kepalanya, Yuda berpikir betapa kontrasnya dunia Geby dengan dunianya. Seorang CEO muda yang tiap hari sibuk rapat, laporan, dan strategi bisnis—sekarang duduk mendengarkan gadis SMA baru lulus bercerita tentang balon meletus. Aneh, tapi justru terasa hangat.
"Seru banget ya, aku dulu lulus SMA gak kaya kamu."
"Seru banget, hah terus dulu gimana kak?"
"Ya udah lulus gitu aja, ada sesi foto, dikasih buket, ucapan selamat terus pulang."
"Gak ada coret-coretan kaya gini?" Tunjuk Geby ke bajunya yang dijawab dengan gelengan pelan.
"Pasti sekolah swasta ya." ujar Geby tiba-tiba
"Iya swasta."
"Kaku banget kak sumpahh gak ada kehebohan kaya gini, huh jadi ngerasa dunia kita berbeda."
"Eh kenapa ngomong gitu? Gak baik sayang. Sekarang aku dan kamu jadi kita bukan 2 orang biasa." Ujar Yuda Geby mengangguk paham.
Yuda mengangkat alis, "itu buket dari siapa?"
Geby tercekat sepersekian detik. Dari siapa? Pertanyaan itu gampang, tapi lidahnya rasanya kaku. Ia menoleh keluar jendela, menatap jalanan yang berganti cepat. Menatap buket bunga di pangkuannya. Bibirnya sempat melengkung ragu sebelum akhirnya ia menjawab, "ehmm.. dari temen kak. Buat kenang-kenangan."
"Temen cewek?" Pertanyaan itu meluncur alami, polos dan sedikit seperti teka-teki yang butuh jawaban.
"Cowok kak." Yuda mengangguk paham tanpa menjawab kalimat terkahir Geby.
Tangannya masih mantap di setir, pandangannya fokus ke jalan. Tapi di dada, ada sesuatu yang mengganjal—gambar Geby dan teman-temannya tadi, terutama momen saat seorang cowok tiba-tiba ngasih bunga. Yuda belum tau siapa cowok itu, tapi ekspresi orang-orang di sekitar cukup membuat hatinya terusik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Turtledove [On Going]
FanficMohon untuk tidak PLAGIAT⚠️⚠️ 17+ [Cerita ini di tulis untuk dibaca Dibaca para readers dengan senang hati Apalagi jika di tambah follow, vote dan komen Ini pemberitahuan bukan pantun] ^^ Perjodohan? Di jaman sekarang? Gila sih. Tapi apa jadinya ji...
![Turtledove [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/273886984-64-k775157.jpg)