"Ponsel anda terus berbunyi dari tadi, tidak anda lihat? Mungkin itu penting." Sela JungBin disaat Jaemin sedang mempelajari beberapa dokumen atas permintaan ayahnya.
Jaemin hanya memberinya lirikan sekilas sebelum menjawab singkat, "Tidak."
JungBin seperti ingin mengatakan sesuatu tapi diurungkannya. Dia akhirnya kembali mundur dan berdiri di belakang Jaemin, memperhatikan Tuan Mudanya itu belajar dengan begitu serius. Dan selama itu pula ponsel Jaemin terus bergetar dan terus diabaikan pemiliknya.
Sampai sebuah nada dering yang baru terdengar dan Jaemin menerimanya meski harus menunggu hingga deringnya hampir berakhir, "Hm."
"..."
"Baik. Aku akan menyiapkan semuanya. Kirimkan saja alamatnya padaku."
Panggilan itu langsung diputus begitu saja. Tapi Jaemin tetap memegang ponselnya untuk menunggu pesan berisi alamat yang ia minta.
"Anda membuat janji dengan Tuan Muda Jung?" Tanya JungBin tiba-tiba yang cukup mengejutkan Jaemin.
"Ya. Kami satu kelompok untuk proyek salah satu mata kuliah." Jawab Jaemin jujur, "Kenapa? Ayah memintamu melarangku? Kau mau mengadukannya pada ayah?"
Ada jeda sebentar sebelum asisten pribadinya itu menjawab, "Karena ini berhubungan dengan kuliah, maka saya tidak akan melakukannya. Saya yakin Tuan besar juga pasti akan mengerti."
Lalu Jaemin teringat sesuatu, jadi dia menunda melanjutkan memeriksa dokumen untuk bicara dengan JungBin, "Jadi sudah dapat apa yang kuminta?"
Yang Jaemin maksud adalah tentang kejadian tak mengenakkan yang terjadi padanya beberapa hari lalu ketika mengerjakan tugas tak jauh dari kampusnya. Dia menerima pesan berisi fotonya yang diambil dari jarak dekat, tepatnya hanya berjarak dua meja dari tempatnya duduk. Dia meminta JungBin untuk memeriksa CCTV kafe itu untuk mencari pelaku dan sekarang Jaemin meminta hasil penyelidikan itu.
JungBin sedikit terkejut tapi di satu sisi dia juga menunggu pertanyaan itu, jadi dia langsung bergerak berdiri di depan Jaemin untuk memberikan jawaban, "Saya sudah memeriksa CCTV dan berhasil mengejar orang yang mengambil foto anda diam-diam."
Jaemin memusatkan perhatian demi mendengar informasi menarik itu, "Lalu?"
"Kami berhasil bicara dengannya. Sayangnya tidak ada informasi berarti yang bisa kami dapat, dia mengatakan tidak mengenal anda dan hanya mengambil foto anda karena disuruh seseorang. Lalu saat kami bertanya tentang orang itu, dia juga bilang tidak mengenalnya dan tidak melihat wajahnya karena memakai masker dan topi."
Antusiasme Jaemin padam berganti dengan kernyitan kening, sambil berpikir dia mengetukkan jari di atas dokumen yang ia pegang, "Kau yakin dia tidak berbohong?"
"Saya sudah memastikan dengan bertanya pada teman-temannya yang ada bersamanya saat itu secara terpisah, dan mereka semua mengatakan hal yang sama. Tapi untuk berjaga-jaga kami juga sudah menanyakan ciri-ciri orang itu dan membuat sketsanya." JungBin mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sketsa yang sudah dibuat oleh timnya, "Memang tidak banyak membantu karena topi dan masker yang orang itu pakai, tapi walau kemungkinannya kecil, apa mungkin anda mengenalnya?"
Jaemin mengamati lekat-lekat sketsa di depannya berusaha menemukan detail yang mungkin ia kenali, tapi tak peduli sedalam apa dia menyelami ingatannya, ia sama sekali tak mendapatkan apa-apa. Orang dalam sketsa itu tak ia temukan dalam memori ingatannya. Dia ikut ke halaman berikutnya yang menyebutkan ciri lain seperti perkiraan tinggi badan dan penampilannya saat bertemu dengan saksi.
"Aku tidak mengenalnya. Tapi kirimkan itu padaku, mungkin salah satu dari temanku ada yang mengenalinya."
"Baik, Tuan Muda."
KAMU SEDANG MEMBACA
Blackthorn (NoMin)
Fiksi PenggemarSeperti Dahlia Hitam yang kau lemparkan padaku, kuberikan Salvia Merah padanya. Dengan Yarrow di tangan, aku bertanya, "Apa arti Hyacinth kuning yang kau pegang?" Main Cast : - Lee Jeno, Na Jaemin of NCT Dream Other Cast : Member of NCT, Aespa, Str...
