22

107 13 1
                                        

'Because Love is like Bougenville. Sometime we have to cut the branch to make it better.'










Blackthorn

Nomin



Chapter 22





Start

















“Jaemin-ah,” panggil Haechan lirih.

Jaemin melihat sekeliling sebelum turun dari semacam podium yang disediakan untuk permainan mereka lalu berkata acuh, “Aku menang kan?”

“Jaemin, kau mau kemana?”

“Minum. Kalian lanjutkan saja. Panggil aku kalau sudah selesai.” jawabnya lalu lanjut berjalan masuk ke dalam rumah.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Jeno.

“Bokongku sakit, tapi tidak apa-apa.” Jawab Haechan sambil berdiri dibantu Renjun, “Lebih dari itu, lebih baik kita susul Jaemin. Aku merasa aneh dengan tatapannya.”

“Kita bereskan ini dulu.”

Kembali pada Jaemin, sampai di dapur dia langsung berjongkok di balik kitchen island, bersembunyi di sana demi menenangkan nafasnya yang memburu.

Meski bisa menipu teman-temannya dengan ekspresi datar yang ia pasang, faktanya tatapan penuh tudingan dari orang yang melihat dia mendorong Haechan membuatnya gentar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Meski bisa menipu teman-temannya dengan ekspresi datar yang ia pasang, faktanya tatapan penuh tudingan dari orang yang melihat dia mendorong Haechan membuatnya gentar. Kalau diizinkan membela diri, Jaemin juga tidak sadar sudah mendorong Haechan terlalu kuat sampai akhirnya melihat pemuda itu terduduk di tanah.

Lalu tatapan Jeno…

Jaemin lekas menggelengkan kepala berusaha melupakan ingatan menakutkan itu.

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa, Na Jaemin. Semua akan baik-baik saja.” dia terus menggumamkan kata-kata itu berulang kali bagaikan mantra. Saat sibuk menenangkan diri, Jaemin tersentak saat ponselnya bergetar di kantong jaketnya. Saat ia melihat nomor pemanggilnya, dia langsung melempar ponselnya hingga menabrak dinding dan jatuh dibawah meja mesin kopi.

“Berhenti menghubungiku, brengsek!” Umpatnya.

“Jaemin-ah, kenapa kau berjongkok disini?”

Jaemin tersentak dan reflek mendongak saat mendengar suara Hyunjin, “Kenapa kau disini?” alih-alih menjawab dia justru melemparkan pertanyaan yang sama.

“Aku lapar setelah kabur dari Yeji ke kamar, tapi di rumah sebelah tidak ada lagi persediaan mie instan jadi aku kemari.” Jawab Hyunjin, “Lalu kau sendiri? Kau belum menjawab pertanyaanku.”

Jaemin diam-diam merasa lega karena sepertinya Hyunjin tidak melihat dia melempar ponselnya tadi, “Aku juga sama sepertimu. Tapi sayangnya disini juga tidak ada yang tersisa, jadi aku duduk disini.” dia mencoba beralasan. Beruntung tadi setelah bebersih diri dia iseng memeriksa stok makanan, jadi dia tahu kalau mereka memang kehabisan mie instan. Entah siapa yang menghabiskan berkantong-kantong makanan lezat penuh MSG itu.

Blackthorn (NoMin)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang