Selamat membaca
Setelah sarapan yang penuh drama tadi, keduanya kini berada di ruang tamu. Mereka sudah berpakaian dengan normal. Mereka menonton serial tv kesukaan Luke, si dua bocah kembar yang botak.
"Ken" panggil Luke sembari menatapnya
"Kenapa?" tanya Kenrick dengan senyumannya
"Jadi mulai hari ini, kita tinggal bareng?" tanya Luke yang langsung dibalas anggukan oleh Kenrick
"Beneran?!" ujar Luke diiringi dengan senyumannya
"Iya sayang"
"Kamu udah bilang sama keluarga aku?" tanya Luke
"Udah, diem diem aku bilang nya, aku juga pas itu sekalian minta restu buat ngelamar kamu" ujar Kenrick
Luke pun tersenyum lebar. Dan tanpa aba-aba, Luke langsung memajukan wajahnya dan mencium bibir Kenrick sekilas. Kenrick sedikit terkejut, lalu setelahnya ia tersenyum. Luke kembali mendorong wajahnya untuk mencium Kenrick, kali ini lebih lama.
Kenrick menahan badan Luke agar tak terjatuh dan melumat bibir Luke. Keduanya terbuai dalam ciuman yang saling menyalurkan rasa kasih. Setelah puas, Luke menarik wajahnya yang langsung ditahan oleh Kenrick.
"Masih mau" ujar Kenrick kembali melumat bibir Luke
Mereka berciuman cukup lama hingga Luke memukul pelan dada Kenrick baru terlepas. Luke pun terkekeh dan mencium pipi Kenrick. Ia lalu naik ke pangkuannya dan memeluk tubuhnya.
"Makasih, Ken. Kamu emang calon suami terbaik" ujar Luke
"Sama sama sayang"
Luke melonggarkan sedikit pelukannya lalu mencium sekilas bibir Kenrick. Kenrick tersenyum dan tangannya merengkuh pinggang Luke yang sangat ramping itu.
Kita beralih ke sekolah dimana Zevan sedang kesepian berada di sekolah. Saat ini ia sedang berjalanndi lorong yang sepi, berniat ingin menuju ke kantin karena jam kosong dikelasnya.
Sesampainya dikantin, ia makan sendirian dan memainkan ponselnya. Tidak ada tanda tanda kehidupan disana. Setelah makan ia tak kembali ke kelas, ia ke gudang olahraga dan mengambil sebuah bola basket dan berjalan ke lapangan basket.
Ia main sendirian. Mencetak point, dribble, lari dari ujung lapangan ke ujung lapangan. Bahkan ia sampai melepas seragamnya dan menyisakkan kaos tanpa lengan yang sudah penuh dengan keringat. Ia bermain dari pukul 9 sampai pukul 4 sore tanpa henti.
Dan tanpa Zevan sadari, sedari tadi ada yang mengawasinya. Deon, wali kelasnya mengawasi nya dari pinggir lapangan. Ia merekam nya dan mengirimnya ke Kenrick. Setelah itu ia pergi dengan perasaan sedikit sedih.
Deon sudah mengajar bertahun tahun di sekolah ini, dan ia juga sudah paham dengan karakteristik anak anak di sekolah ini. Dan ia juga paham, apa yang membuat Zevan bermain basket hingga tak kenal waktu.
Sebelum benar benar pergi, ia meninggalkan 2 botol air mineral dingin yang mungkin nantinya tak dingin lagi di dekat seragam Zevan di letakkan.
Zevan yang sedang main pun tiba tiba dikejutkan dengan kehadiran Kenrick yang langsung merebut bola nya dan memasukkan ke ring tempatnya.
"2-0" ujar Kenrick menepuk bahu Zevan untuk menyadarkannya
Zevan yang mematung pun langsung tersadar dan sedikit tersenyum. Ia lalu mengambil bola nya dan berusaha memasukkan ke ring namun hal itu berhasil dicuri Kenrick dan kembali memasukkannya.
"4-0" ujar Kenrick
Zevan tak putus asa, ia lalu meraih bolanya dan mengeluarkan seluruh trik yang ia punya. Lalu akhirnya ia bisa mencetak poin.
KAMU SEDANG MEMBACA
It's Mine | ABO
General FictionSeason II On Going ABO Mpreg BXB Adult Content Kasar
