Selamat membaca
Siang hari tiba. Kenrick hanya bisa berdiam diri di kamar. Ia hanya bisa tidur dan memainkan handphone nya sesekali untuk menghilangkan rasa bosannya. Hingga, ada suara ketukan pintu di kamarnya.
"Masuk"
Terlihat 2 orang yang tak asing muncul dari balik pintunya. Kenrick hanya tersenyum, itu Luke dan Zevan. Lalu mereka pun masuk dan meletakkan buah tangan di atas meja.
"Gimana keadaan lo?" ujar Zevan
"Cuman butuh istirahat aja buat ngumpulin tenaga nya"
"Sorry ya Ken, gara gara lo ikut latihan basket jadi gini" ujar nya merasa bersalah
"Gak, gapapa. Kan lo nawarin dan gue juga yang mau, jadi lo gak salah"
"Ada yang sakit?" tanya Luke
"Semua badan" ujarnya sembari terkekeh kecil
Lalu Naren pun masuk sembari membawa minuman dan cookies yang ia buat sendiri.
"Ini diminum sama dimakan ya"
"Makasih tante" ujar mereka
Naren hanya tersenyum dan ia meletakkannya di atas meja nakas. Luke dan Zevan pun duduk di sofa yang ada di sana. Mereka meminum sedikit minumannya untuk menghilangkan haus mereka.
"Jadi, lo belum bisa berangkat?" tanya Luke
"Bisa, tapi kayaknya gue lebih milih di rumah aja" jawab Kenrick
"Gue takut kalo gue nanti jadi sensitif dan pasti ada efek sampingnya" lanjutnya
Mereka hanya mengangguk dan mulai memakan cookies buatan Naren. Luke dan Zevan lanjut mengobrol hingga matahari mulai jatuh ke barat. Mereka pun berpamitan untuk pulang.
Sepulangnya Luke dan Zevan, Kenrick langsung mengistirahatkan tubuhnya dan hampir tertidur. Ia masih terjaga ketika ayahnya, Juan masuk sembari membawa makanan.
"Makan dulu ya?" ujarnya
Kenrick pun tersenyum lalu berusaha untuk duduk. Meskipun sedikit kesulitan, ia berhasil duduk. Lalu Juan pun menyuapi anaknya itu hingga tak tersisa.
"Masih lemes?"
"Iya yah, kayak gaada tenaga nya"
Juan pun mengangguk. Ia lalu membaringkan tubuh Kenrick dan juga tubuhnya. Ia peluk tubuh Kenrick dan mengeluarkan feromone miliknya yang jarang dicium oleh sang anak.
Kenrick pun sedikit terkejut. Namun, bukannya ia menghindar, ia menikmati aroma dari feromone ayahnya. Sebuah wangi dalam... seperti tanah basah di hutan hujan yang dalam, dedaunan, dan kayu tua. Feromon khas seorang alpha dewasa. Feromon ayahnya.
"Alpha"
"Lagi, keluarkan lagi" ujar Vargan yang berbicara pada Kenrick.
"Lagi yah, lagi" ujar Kenrick
Juan hanya tersenyum kecil, tanpa menjawab. Tapi tubuhnya menghangat, dan aroma feromon itu jadi lebih kuat. Tidak menyengat. Tidak menyesakkan. Justru... menenangkan. Menyembuhkan.
Menit demi menit pun berlalu. Juan masih terus mengeluarkan feromonnya. Hingga alpha nya mengatakan cukup. Juan pun menghentikan feromone nya dan melihat sang anak yang sudah tertidur pulas. Ia tersenyum lalu mengecup kening sang anak.
Setelah itu ia keluar sembari membawa piring yang sudah kosong dan ia bawa ke dapur. Ia melihat sang istri dan anak pertamanya yang sedang duduk di meja makan.
