SEASON II : 16

667 26 0
                                        

Selamat Membaca






Setelah selesai sarapan, Kenrick mengantar Luke kembali ke rumahnya dan menemaninya di sana. Mereka hanya berdua di rumah itu karena Ayah dan Papi Luke masih berada di hotel. Mereka naik ke kamar Luke dan beristirahat di sana.

"Nanti sore aku jemput" ujar Kenrick

"Kabarin dulu kalo mau jemput"

"Iya, sayang"

Kenrick lalu duduk di sisi ranjang, tangannya terulur mengusap rambut halus Luke yang sudah mulai menutup mata. Luke menggeliat pelan, kemudian tanpa sadar menarik lengan Kenrick untuk dijadikan bantal.

“Kamu jangan kemana-mana dulu, ya” gumam Luke setengah sadar.

Kenrick tersenyum tipis. “Hm, iya sayang. Aku di sini. Tidurlah.”

Luke akhirnya benar-benar terlelap. Kenrick menatap wajah itu lama sekali, ekspresinya tetap tenang namun matanya menyimpan sesuatu yang lembut. Ia menunduk, mencium pucuk kepala Luke sebelum perlahan melepaskan diri agar bisa turun ke ruang tamu.

Di bawah, Kenrick duduk di sofa, memainkan ponselnya sekadar mengisi waktu. Sesekali ia berdiri, melihat keadaan rumah, bahkan sempat merapikan meja kecil yang berantakan dengan majalah. Walau sikapnya tampak santai, pikirannya masih tertuju pada Luke.

Dua jam kemudian, suara langkah pelan terdengar dari tangga. Luke turun dengan rambut acak-acakan, mata masih sembab karena tidur lama.

“Kamu belum pulang?” tanyanya serak.

“Belum. Aku janji nunggu kamu bangun,” jawab Kenrick singkat, kemudian berdiri menghampiri. Ia mengulurkan tangan, merapikan rambut Luke. “Masih ngantuk?”

Luke menggeleng, senyum kecil terbit di bibirnya. “Enggak. Cuma enak banget tidurnya. Karena kamu ada.”

Kenrick menaikkan sebelah alis, ekspresinya datar tapi ada sedikit senyum di ujung bibirnya. “Jadi kalau aku nggak ada, kamu nggak bisa tidur nyenyak?”

Wajah Luke langsung memerah. Ia memukul pelan dada Kenrick. “Jangan gangguin.”

Kenrick menahan tangan itu, lalu menarik tubuh Luke ke pelukannya. “Aku seneng kalau kamu nyaman karena aku. Itu cukup buatku.”

Omega itu menyembunyikan wajahnya di dada sang alpha, merasa hatinya seperti diremas. Ia suka sekali sisi dingin tapi romantis Kenrick yang selalu muncul tiba-tiba.

Tak lama kemudian, suara pintu depan terbuka. Luke menoleh, lalu berlari kecil. “Ayah! Papi!”

Bagas dan Evan masuk sambil membawa beberapa kantong belanja. Begitu melihat Kenrick yang berdiri di ruang tamu, mereka agak terkejut, namun segera tersenyum ramah.

“Oh, Kenrick, ternyata kamu di sini,” ujar Evan sambil menaruh kantong di meja.

“Iya, Papi. Aku habis anter Luke pulang, jadi sekalian nemenin,” jawab Kenrick sopan, suaranya tetap datar tapi penuh hormat.

Bagas ikut menambahkan, “Baguslah, terima kasih sudah jagain anak kami.”

Kenrick melirik sekilas ke arah Luke yang kini sibuk membantu menaruh belanjaan, lalu kembali menatap ayahnya. “Itu sudah tugasku, Yah.”

Luke spontan menunduk malu, wajahnya panas karena kalimat sederhana itu terdengar seperti pengakuan serius.

Suasana rumah jadi hangat. Mereka sempat berbincang ringan, bahkan Evan sempat menawarkan Kenrick untuk makan siang bersama.

“Kamu nggak buru-buru, kan? Makan dulu sebelum pulang,” ujar Evan dengan senyum ramah.

Kenrick melirik Luke yang diam-diam menatapnya penuh harap. Ia menghela napas singkat, lalu duduk kembali. “Baik pi, saya ikut.”

It's Mine | ABOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang