SEASON II : 7

828 32 4
                                        

Selamat Membaca





Sore itu, setelah memastikan Melvin baik-baik saja dan beristirahat di kamarnya, Kenrick berinisiatif membantu sang bunda, Naren, yang memintanya membeli beberapa bahan masakan untuk makan malam. Ia pun berjalan santai ke arah taman sambil memainkan ponselnya, playlist lagu-lagu favoritnya mengalun lewat earphone, mengiringi langkah kakinya menyusuri jalur pejalan kaki yang teduh.

Namun, ketika ia melewati salah satu sisi taman yang menghadap kolam kecil, pandangannya terpaku pada sosok yang familiar. Seorang laki-laki berseragam sekolah duduk di bangku taman, dengan tubuh sedikit membungkuk dan kepala tertunduk.

Luke.

Kenrick langsung melepas satu sisi earphone-nya dan berjalan mendekat. “Luke?”

Sahabatnya itu tidak langsung menoleh. Hanya matanya yang sedikit melirik sebelum akhirnya menghela napas berat.

“Ken…”

“Ada apa? Lo kenapa duduk sendiri di sini? Bukannya biasanya lo langsung pulang?”

Luke masih diam. Tangannya yang menggenggam tas di pangkuannya gemetar tipis. Kenrick kini duduk di sebelahnya.

“Gue baru pulang dari rumah sakit… tadi pagi. Hasil tes gue keluar.”

Kenrick mengerutkan dahi. “Tes apa?”

Luke menggigit bibir bawahnya, lalu dengan suara pelan nyaris berbisik, ia berkata, “Cek hormon. Tiga kali. Hasilnya… tetap sama.”

Ia menoleh, menatap Kenrick dengan mata berkaca.

“Gue kemungkinan besar bukan alpha lagi, Ken. Gue mungkin omega.”

Seketika itu juga Kenrick membeku. Matanya membulat perlahan, mulutnya terbuka namun tak langsung mengeluarkan suara.

“…Lo… serius?”

Luke mengangguk lemah.

"Kapan semuanya terjadi?" tanya Kenrick

"Waktu lo sakit, gue sering banget keluar kelas karena ngerasa mual. Gue juga dirumah gabisa ngerasain feromone gue sendiri"

"Ayah dan kakak gue udah tau kejadian ini, mereka juga yang suruh gue buat tes hormon" ujar Luke. Ia menghela nafasnya pelan, "Gue kira itu cuman karena gue stres aja, tapi kata dokter gak"

"Apa katanya?" tanya Kenrick

"Dokternya bilang… kemungkinan besar ini respons tubuh gue terhadap stres feromonik berat. Kayaknya kejadian waktu itu, pas gue dihadang sama senior-senior alpha di parkiran, itu jadi pemicunya. Mereka gak nyentuh gue secara fisik, tapi… tekanan feromonnya brutal.”

Kenrick langsung mengepal tangannya. “Mereka ngelakuin itu ke lo?”

Luke hanya mengangguk, wajahnya masih menunduk.

“Setelah itu, gue mulai ngerasa aneh. Tubuh gue lebih sensitif, napsu makan berubah, gampang keringetan… dan feromon gue—kayak hilang kendali. Labil. Di tes pertama, hormon dominasi alpha gue turun. Di tes kedua, dokter udah mulai curiga.”

“Dan hari ini hasil ketiga keluar…” sambung Kenrick, mencoba merangkai semuanya.

Luke mengangguk lagi. “Dan hasilnya konsisten. Level hormon alpha gue terus turun. Tapi, hormon O-nya naik. Belum stabil sih… belum sepenuhnya omega, kata dokternya, tapi… arahnya jelas.”

Kenrick menatap sahabatnya lama. Ia melihat kegelisahan di balik mata Luke. Ketakutan, malu, bingung — semua berkelindan di sana.

Namun, bukan itu yang ia rasakan. Bukan rasa asing atau kehilangan.

It's Mine | ABOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang