Suasana sangat sejuk, sore itu Jungwon sedang membantu nenek mencabut pohon stroberi yang sudah tidak layak. Dengan telaten dan wajah serius, ia melakukan pekerjaannya tanpa memperhatikan sekitar. Ia begitu fokus hingga beberapa orang yang lewat sempat mengagumi ketekunannya. Seorang bapak-bapak dengan mobil pengangkut stroberi bahkan sempat berteriak dari balik kemudi,
"Hei nak, tempatmu seharusnya bukan di ladang seperti ini!"
Jungwon hanya nyengir lebar sembari mengelap peluh di keningnya dengan punggung tangan, tidak terlalu memedulikan gurauan tersebut.
Tanpa ia sadari, sebuah mobil berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri. Jungwon yang membelakangi jalan masih sibuk dengan tanah dan tanaman di depannya.
"Itu Jungwon... Jungwonie!"
Jungwon menghentikan aktivitasnya seketika. Suara itu terasa sangat familiar dan sudah lama hilang dari ingatannya. Ia berbalik perlahan, dan mata bulatnya menangkap sosok Sunoo yang sedang berlari kecil ke arahnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Tanpa memedulikan tanah yang menempel di baju Jungwon, Sunoo langsung menerjang dan memeluk Jungwon sangat erat. Ia terisak di bahu Jungwon, melepaskan kerinduan yang selama dua tahun ini ia tahan. Jungwon yang terkejut hanya bisa mematung sejenak, sebelum akhirnya membalas pelukan sahabatnya itu dengan hangat.
Di belakang Sunoo, Sunghoon berjalan santai dengan senyum tipis yang tulus. Ia menatap Jungwon dengan pandangan seorang kakak yang sudah lama merindukan adiknya. Meski Jungwon kini tampak lebih dewasa dan tinggi, bagi Sunghoon, anak di depannya ini tetaplah sosok yang menggemaskan.
"Ayo, kita pulang ke rumah Nenek saja, kalian pasti lelah karena perjalanan" ajak Jungwon dengan suara lembut.
Sepanjang jalan, Jungwon mengayuh sepedanya dengan semangat, terlebih kehadiran kedua sahabatnya mengobati rasa kesepian yang selama ini ia pendam, sementara itu di dalam mobil Sunoo dan Sunghoon mengikuti perlahan di belakang. Dari balik jendela mobil, Sunoo terus memperhatikan punggung Jungwon.
"Dia sudah banyak berubah ya, terlihat lebih tenang dan dewasa, tapi... entah kenapa, dia masih terlihat gemas untuk dipeluk, dia tetap adik yang aku sayang" gumam Sunoo.
Sunghoon hanya mengangguk setuju dengan senyum lebar.
"Hm, aura dewasanya keluar, tapi mata bulat itu masih sama."
Sunoo melirik sinis ke arah Sunghoon, merasa tidak suka jika ada orang lain yang memuji Jungwon selain dirinya.
Sesampainya di rumah, Jungwon langsung memperkenalkan kedua sahabatnya kepada sang nenek. Nenek menyambut mereka dengan sangat antusias dan segera bergegas ke dapur untuk membuatkan teh hangat. Sunoo pun tidak datang dengan tangan kosong, ia mengeluarkan berbagai kue dan makanan ringan yang ia beli khusus untuk Jungwon.
Perbincangan kecil pun mengalir di ruang tengah. Sunoo menatap ke luar jendela, memuji pemandangan desa yang indah dan sejuk.
" Ini pertama kalinya aku ke desa, ternyata hidup di sini sangat damai ya, Won."
Sunghoon menyesap tehnya, lalu menatap Jungwon dengan serius.
"Won, sebenarnya aku penasaran... kenapa kamu tidak ikut kakakmu itu ke Amerika saat itu?"
Jungwon yang baru saja memegang cangkir tiba-tiba menghentikan aktivitasnya. Bahunya menegang mendengar nama itu. Ia mencoba menyembunyikan kegugupannya dengan menyesap teh perlahan, matanya gelisah.
Sunoo melanjutkan perkataan Sunghoon tanpa merasa canggung,
"Beberapa hari yang lalu, kami berdua sempat mengobrol dengan Jay. Dia menanyakan kabarmu terus-menerus pada kami...itu alasan utama kenapa kami nekat datang ke sini, kami khawatir, sekaligus rindu"
Jungwon menunduk dalam, mencoba menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu hebat.
"Aku... aku suka di sini bersama Nenek. Amerika bukan tempat untuk orang seperti diriku, sejujurnya aku merasa sangat nyaman menjadi guru di desa ini dan hidup tenang bersama Nenek."
Mendengar nama Jay, Sunoo langsung mendengus kesal lagi.
"Aku tidak suka Jay, dia itu kakak yang tidak peduli. Kalau memang peduli, kenapa dia tidak menemuimu langsung saja? Kenapa harus menanyakan kabarmu lewat orang lain?"
Sunoo menatap Jungwon tajam.
"Memangnya, Jay tidak pernah menghubungimu secara langsung selama ini?"
Jungwon terdiam cukup lama. Ia menatap cangkir tehnya yang mulai mendingin.
"Aku dan Jay... kami..."
Suaranya tercekat. Jungwon tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, membiarkan keheningan menyelimuti ruangan sementara bayang-bayang masa lalu yang rumit kembali memenuhi kepalanya...
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE DISTANCE (Jaywon)
FanfictionHal yang tidak terduga terjadi pada Jungwon, kedatangan siswa pindahan dari Amerika mengubah hampir seluruh kehidupannya. BXB JAYWON
