12

3.1K 142 5
                                        

✨Happy reading ✨
Jangan lupa vote, comment, follow

•••

"Baiklah, son... karena kau gagal, maka hukumannya"

Elang tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia berdiri perlahan, langkahnya tenang, namun setiap hentakan sepatu kulitnya di lantai menimbulkan gema yang membuat dada Varo terasa sesak.
Ruang latihan seolah membeku bersama udara dingin yang keluar dari sosok pria itu. Semua mata pengawal menatap lurus ke arah Varo, seakan menunggu aba-aba untuk mengeksekusi sesuatu.

"Berdiri." Suara Elang rendah, berat, dan tak memberi ruang untuk membantah.

Varo menahan pusing di kepalanya. Dunia masih berputar, tapi ia memaksa kedua kakinya menopang tubuh yang terasa berat. Alkohol masih menari di aliran darahnya, membuat pandangan kabur dan langkahnya sedikit goyah.
Namun ia tetap berdiri tegak. Ia tahu, jika ia jatuh sekarang, itu sama saja dengan menyerahkan harga dirinya.

Elang mendekat perlahan. Jarak mereka kini hanya beberapa langkah.

"Tahukah kau, Varo,"  ucap Elang dingin, matanya menusuk lurus.

"Yang paling aku benci di dunia ini adalah keturunan yang berpikir bisa melawan darahnya sendiri."

Varo terdiam. Tidak ada ekspresi di wajahnya selain kelelahan dan sedikit kekesalan.

"Jika kau bermaksud menakutiku, percuma," gumamnya pelan.

Elang tersenyum tipis,  bukan senyum hangat seorang ayah, tapi senyum predator yang baru saja menemukan celah mangsanya.

"Oh, aku tak berniat menakutimu, son. Aku hanya ingin kau mengingat bahwa kekuatan tanpa kendali hanyalah racun. Dan aku, akan pastikan racun itu mengalir di tubuhmu dengan terkendali… di bawah tanganku."

Dengan isyarat kecil dari tangannya, dua pengawal maju, membawa sesuatu sebuah kotak logam hitam panjang.
Varo mengerutkan kening. Ia sudah hafal, kotak itu hanya keluar di saat-saat tertentu seperti latihan militer, atau... hukuman.

Salah satu pengawal membuka kotaknya. Di dalamnya, bukan senjata, melainkan tali kulit hitam dengan ujung logam kecil yang tampak dingin di bawah cahaya lampu.
Elang mengambilnya sendiri, menggenggam gagangnya dengan mantap.

"Dulu, aku belajar dari ayahku bahwa setiap kesalahan butuh tanda," ucap Elang sambil menggulung ujung tali di tangannya.

"Bukan untuk menyakiti, tapi agar ingatan tak mudah pudar."

Varo mendengus pelan. "Kalau tujuannya cuma mengingatkan, ada cara lain selain main cambuk, dad."

Elang melangkah pelan, berhenti tepat di hadapan Varo.

"Dan kalau kau benar-benar memahami arti disiplin, aku tak perlu melakukannya."

Satu hentakan cambuk menebas udara

Crack...

Suara tajamnya menampar dinding beton dan menggema di seluruh ruangan.

Varo menggigit bagian dalam bibirnya, menahan refleks untuk mundur. Tapi cambuk itu tidak mengenai dirinya. Elang hanya mengayunkannya ke udara, sebuah peringatan.

TRANSMIGRASI ALVARO [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang