14

2.2K 103 3
                                        

Langit sore berwarna abu-abu keperakan ketika Varo turun dari mobil hitam di halaman mansion keluarga Elang. Aroma hujan yang belum jatuh memenuhi udara, seolah memberi tanda akan ada badai yang datang entah di langit, atau di dalam rumah itu sendiri.

Hari ini untuk pertama kalinya sejak latihan bawah tanah itu, Elang mengizinkannya ikut operasi kecil bersama Gavano. Sekilas tampak seperti misi pengawalan biasa. Tapi bagi keluarga ini, tak ada yang benar-benar biasa.

Varo berjalan di samping Gavano dengan langkah tenang. Jas hitamnya rapi, wajahnya datar. Namun di balik ketenangan itu, pikirannya bergerak cepat  memetakan, menghitung, menyusun. Setiap tatapan, setiap ucapan, setiap gerak tubuhnya sudah diperhitungkan dengan hati-hati.

Karena Varo sudah punya rencana.
Sebuah rencana yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri  untuk keluar dari bayangan sang ayah, dan menguasai permainan ini dengan tangannya sendiri. Ia tidak ingin lagi menjadi bidak. Ia ingin menjadi pemain.

•••

Malamnya, setelah operasi selesai, Gavano menepuk bahunya.

"Tidak buruk,"  ujarnya ringan sambil menyelipkan rokok di bibir.

"Kau semakin cepat membaca situasi."

Varo hanya tersenyum tipis.

" Aku belajar dari orang yang tepat."

" Manis sekali," balas Gavano setengah tertawa. Lalu, menatap Varo dengan sorot samar.

"Kau tahu... terkadang aku merasa kau ini bukan anak kemarin sore. Cara berpikirmu... seolah sudah pernah hidup di dunia seperti ini."

Tatapan mereka bertemu tenang di luar, tapi di baliknya ada sesuatu yang tak terucap. Ucapan Gavano seperti sebuah pisau tipis: tidak langsung menusuk, tapi cukup untuk membuat dada terasa sesak.

"Entahlah,"  jawab Varo datar.

"Mungkin aku hanya cepat menyesuaikan diri."

" Mungkin," sahut Gavano sambil menghembuskan asap rokok.

"Atau mungkin Daddy benar."

Varo mengangkat alis. " Benar tentang apa?"

Senyum samar muncul di bibir Gavano.

"Bahwa mata seseorang selalu lebih jujur dari kata-katanya."

Suara langkah berat memotong percakapan mereka. Elang muncul dari balik koridor, tangannya terlipat di belakang punggung. Sorot matanya tajam, tapi tenang seperti seseorang yang tak perlu banyak bicara untuk menaklukkan dunia.

"Sudah cukup untuk malam ini," ucapnya pelan, namun nadanya membuat udara di ruangan menegang.

Gavano langsung menunduk sedikit.
Varo menatap ayahnya lurus ekspresi tenang, tapi jantungnya berdegup tak beraturan.

Elang mendekat perlahan, mengelilingi Varo seolah sedang menilai sebuah karya seni yang belum selesai.

"Kau melakukannya dengan baik hari ini,"  katanya tenang.

" Tapi ada hal yang menarik..."

"Hal apa?" tanya Varo tanpa menunduk.

Elang tersenyum samar, tapi tatapan matanya menembus seperti bilah pisau halus.

"Terkadang, seseorang yang berpikir terlalu jauh akan lupa berpijak di tanah. Langkahnya tampak ringan... tapi suaranya selalu terdengar bagi mereka yang tahu cara mendengarnya."

Ia berhenti di belakang Varo, suara rendahnya hampir seperti bisikan.

"Hati-hati, Son. Langkah yang terlalu rapi sering kali justru menandakan arah yang salah."

Ucapan itu menggantung di udara, ambigu tapi menekan. Sebelum Varo sempat membalas, Elang menepuk bahunya ringan sentuhan yang terasa lebih dingin dari kata-katanya.

"Aku percaya kau tahu apa yang sedang kau lakukan," ujar Elang lembut.

" Tapi permainan ini tidak sesederhana yang terlihat."

Ia berbalik, meninggalkan keduanya dalam diam. Gavano masih berdiri di tempat, menatap punggung sang ayah dengan pandangan sulit ditebak.
Varo hanya diam, tapi di dadanya muncul perasaan aneh antara kagum, curiga, dan ngeri.

•••

Di kamar, Varo duduk di depan meja. Ia membuka buku catatan kecil yang disembunyikan di bawah laci. Di dalamnya ada coretan strategi, jalur senjata, nama-nama anggota, dan satu catatan:

>Langkah ketiga – pecah kepercayaan Gavano

Namun ketika ia membuka halaman terakhir, ada sesuatu yang tak seharusnya di sana.
Tulisan baru — rapi, dengan tinta hitam yang masih lembap.

> “Langkah pertama – biarkan anak itu merasa ia sedang memimpin.
Langkah kedua – buat dia percaya bahwa kebohongan itu nyata.”
— E.

Varo menatap tulisan itu lama.
Dingin menjalari punggungnya, tapi yang muncul di wajahnya bukan takut melainkan senyum tipis.

"Baiklah, Dad," bisiknya pelan. "Kalau ini permainanmu… aku akan ikut."

Lampu kamar padam.
Dan di luar, petir pertama menyambar langit.

•••

Segini dulu gys 💗 sebenernya aku udah nulis draft sampe end gys. Dan konflik di chapter ini sudah mulai terasa sedikit ya gys.

 Dan konflik di chapter ini sudah mulai terasa sedikit ya gys

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Jangan lupa vote, comment, follow.

See u next chapter gys💗

TRANSMIGRASI ALVARO [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang