16

1.9K 86 3
                                        

Happy reading
Jangan lupa vote comment 💗


Minggu ketiga setelah ia ditugaskan di perusahaan, kehidupan Varo berubah total. Hari-harinya dipenuhi rapat, laporan, dan perjalanan bisnis yang tidak pernah berhenti. Ia berbicara dengan investor, mempelajari jalur distribusi, menandatangani kontrak
semuanya tampak seperti bentuk kepercayaan dari sang ayah.

Tapi di balik layar, Varo tahu bahwa kepercayaan di keluarga Elang bukan hadiah, melainkan perangkap.

Sejak awal, ia sudah memutuskan untuk bermain halus. Tidak lagi menentang secara terang-terangan. Tidak lagi melawan dengan amarah. Sekarang ia belajar menunduk untuk bisa melihat lebih jelas dari bawah.

Setiap hari ia mengamati orang-orang di sekitarnya. Sekretaris ayahnya yang terlalu sering mengirim laporan tepat sebelum Elang menelpon, pengawal yang tampak biasa tapi selalu berada di radius pandangnya, bahkan asisten pribadinya yang tatapannya selalu berubah setiap kali menerima pesan dari nomor tak dikenal.

Varo tahu, ia sedang diawasi.
Pertanyaannya hanya satu oleh siapa?

Tapi jauh di dalam hatinya, ia sudah tahu jawabannya. Ayahnya selalu satu langkah di depan.

•••

Suatu malam, setelah rapat panjang dengan dewan direksi, Varo kembali ke kantor pribadinya di lantai 27. Lampu kota di luar jendela memantulkan cahaya dingin di matanya. Ia membuka laptopnya, mulai menulis sesuatu di file terenkripsi yang hanya bisa ia akses melalui kode khusus.

Beberapa kalimat muncul di layar:

> Langkah keempat: buat mereka percaya aku sudah jinak.
>Langkah kelima: temukan siapa yang menjadi mata Ayah di sekelilingku.

Ia mengetik cepat, lalu menyimpan file itu ke flashdisk kecil yang tersembunyi di belakang bingkai foto di mejanya.
Rencana ini belum sempurna, tapi Varo tahu kesabaran adalah senjata paling tajam dalam permainan seperti ini.

Beberapa jam kemudian, pintu ruangannya diketuk. Seorang pria paruh baya masuk, mengenakan setelan hitam rapi.

"Maaf mengganggu, Tuan muda. Daddy ingin Anda menghadiri makan malam keluarga besok malam."

" Baik," jawab Varo tanpa ekspresi.
Tapi di matanya, ada sedikit kilatan tajam.

Makan malam keluarga bukan sekadar acara. Itu biasanya pertanda ada sesuatu yang sedang diuji.

Setelah pria itu keluar, Varo menatap ke arah pintu lama-lama. Ia menyadari sesuatu. Tadi... orang itu bukan pegawai yang biasanya mengantarkan pesan.
Dan di pergelangan tangannya, Varo sempat melihat sesuatu yang sangat kecil  lambang naga perak, simbol keluarga Elang.

Artinya, orang itu bukan sekadar utusan. Ia adalah mata ayahnya.

Varo menghela napas pelan, menyandarkan diri ke kursi. Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Jadi begini caramu mengawasiku, Ayah?"  gumamnya pelan.

•••

Keesokan malamnya, suasana ruang makan keluarga begitu tenang tapi ketenangan yang terasa palsu. Elang duduk di kursinya seperti raja di singgasana. Gavano di sisi kanan, Varo di sisi kiri. Di tengah meja, hidangan daging panggang masih mengepulkan aroma hangat.

"Bagaimana minggu-minggu pertamamu di Vareon Group?" tanya Elang tenang sambil memotong dagingnya.

"Berjalan sesuai harapan,"  jawab Varo dengan nada hormat. Ia tahu bagaimana memainkan ekspresi yang tepat sedikit lelah, sedikit tulus.
Ayahnya menyukai kesan realistis.

Elang menatapnya sejenak.

"Benarkah? Karena aku dengar ada laporan tentang keputusan yang terlalu cepat di cabang barat."

Varo tidak terkejut.
Ia sudah memperkirakan ini.

"Ya. Aku menguji reaksi tim. Kadang, keputusan cepat bisa menunjukkan siapa yang siap menanggung risiko."

Senyum kecil muncul di bibir Elang.

"Kau semakin mirip denganku."

"Semoga saja," jawab Varo, suaranya datar.

Tapi di dalam pikirannya, kalimat itu terdengar seperti racun.

Setelah makan malam selesai, Elang berdiri dan menghampiri putranya.
Ia menepuk pundak Varo perlahan, sama seperti dulu sentuhan lembut yang terasa seperti rantai.

"Teruskan seperti ini,"  katanya pelan.

"Aku tahu kau sedang berusaha keras untuk membuktikan diri. Tapi ingat, aku selalu memperhatikan."

Varo hanya menunduk, seolah menghormati. Namun di matanya yang tertunduk, ada percikan kecil yang mulai menyala.

Ketika Elang berjalan menjauh, Varo memperhatikan langkahnya. Ia menyadari sesuatu yang mengganggu ayahnya tidak pernah menoleh, tapi seolah tahu persis kapan Varo menatapnya.

Seolah... selalu ada seseorang yang memberi laporan secara langsung.

•••

Malam semakin larut. Varo duduk di ruang kerjanya lagi, menatap jendela besar yang memantulkan wajahnya sendiri. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan permainan ini semakin dalam. Setiap langkahnya, setiap gerakannya, setiap napas semuanya bisa saja dicatat oleh mata-mata sang ayah.

Tapi justru di situlah letak tantangannya.

"Kalau kau ingin melihat sejauh mana aku bisa menipu diriku sendiri…"
Varo menatap refleksi dirinya di kaca, suaranya pelan tapi tegas.

"Maka aku akan membuatmu percaya, Ayah, bahwa aku benar-benar sudah kalah."

Ia menutup laptop, mematikan lampu, dan membiarkan kegelapan menelan ruangan. Namun di matanya, bukan kegelapan yang tercermin melainkan rencana yang perlahan menyala, seperti bara yang menunggu waktu untuk membakar segalanya.

Sementara itu, di ruangan lain yang jauh di bawah mansion, seorang pria berjas hitam berbicara lewat perangkat komunikasi tersembunyi.

"Target masih berpura-pura patuh, Tuan."

Suara Elang terdengar dari seberang, tenang seperti biasa.

"Biarkan. Setiap orang butuh ilusi kebebasan sebelum akhirnya sadar bahwa semua langkahnya hanya milik kita."

Ia menatap layar monitor di depannya gambar dari kamera tersembunyi di kamar Varo, menampilkan putranya yang baru saja mematikan lampu.

Senyum tipis terbentuk di bibirnya.
"Permainan baru saja dimulai."

•••

See u gys💗
Jangan lupa vote, comment 💗

TRANSMIGRASI ALVARO [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang