Udara pagi di mansion keluarga Elang terasa lebih berat dari biasanya. Langit mendung, dan kabut tipis menyelimuti halaman luas itu seperti bayangan yang enggan pergi.
Varo berdiri di depan ruang kerja Elang, memandangi pintu besar dengan ukiran lambang keluarga yang seakan menatap balik. Ia tidak tahu mengapa tiba-tiba dipanggil pagi-pagi begini, tapi firasatnya tidak pernah salah,
setiap kali ayahnya memanggil tanpa pemberitahuan, selalu ada sesuatu yang besar menunggu.
Ketika pintu terbuka, aroma khas cerutu dan kayu tua menyambutnya.
Elang duduk di balik meja panjang dari marmer hitam, jasnya sempurna tanpa satu lipatan pun. Tatapannya tajam, tapi senyumnya tenang, senyum yang bagi Varo selalu lebih menakutkan dari amarah.
"Duduk," ucap Elang tanpa menoleh.
Varo menurut. Suara detak jam di dinding terdengar begitu jelas di antara diam mereka. Elang menandatangani beberapa berkas, lalu berbicara tanpa menatapnya.
"Kau sudah dewasa, Varo. Cepat belajar, tangkas, dan... tidak mudah dikendalikan." Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu di balik kata tidak mudah dikendalikan itu seperti sebuah sindiran yang dibungkus pujian.
"Dad berlebihan," jawab Varo tenang.
Elang akhirnya menatapnya.
"Tidak. Aku hanya menyatakan fakta."
Ia berdiri, berjalan perlahan ke arah jendela besar, memandangi langit yang suram.
"Sudah saatnya kau memikul tanggung jawab yang lebih besar. Perusahaan utama di bawah keluarga ini Vareon Group akan kuserahkan padamu untuk diawasi sementara."
Varo menatapnya diam. " Mengapa aku?"
Elang tersenyum samar tanpa menoleh.
"Karena aku ingin tahu, apakah kau bisa menanggung beban yang lebih berat dari sekadar darah." Kalimat itu terasa seperti beban itu sendiri.
Varo tahu, mengurus perusahaan sebesar itu bukan sekadar ujian tanggung jawab itu bentuk kendali.
Ia akan terikat dalam rapat, laporan, tanda tangan, dan permainan politik di dalam bisnis keluarga.
Semua waktunya akan habis... tanpa ruang untuk bergerak.
Namun, menolak bukan pilihan.
"Baik," ucapnya akhirnya. "Aku akan melakukannya."
Elang berbalik, menatapnya dalam. " "Bagus. Tapi ingat satu hal." Ia berjalan mendekat, meletakkan tangan di bahu Varo ringan, tapi terasa berat seolah menanamkan beban tak kasat mata.
"Setiap keputusan yang kau buat… aku tahu sumbernya. Jangan sampai kau lupa siapa yang mengajarimu cara berpikir." Ucapan itu lembut, tapi menekan seperti tali yang perlahan melilit.
•••
Hari-hari berikutnya, Varo terjebak dalam tumpukan pekerjaan. Rapat, dokumen, laporan keuangan, panggilan mendadak dari investor semua datang bertubi-tubi. Ia nyaris tak punya waktu untuk bernapas, apalagi menyusun langkah baru.
Gavano sesekali datang, selalu dengan senyum dingin.
"Daddy senang melihatmu sibuk," katanya suatu kali.
"Itu tandanya kau mulai berguna."
Varo hanya menatap tanpa menjawab.
Dalam kepalanya, potongan-potongan mulai terhubung. Ini bukan kebetulan ini bagian dari rencana yang lebih besar.
Elang tidak sedang menguji kemampuan bisnisnya. Ia sedang memastikan agar Varo tidak punya waktu untuk berpikir.Tidak punya ruang untuk melawan.
•••
Malam itu, Varo berdiri di balkon kamarnya, menatap kota yang berkilau di bawah langit kelabu. Angin malam menusuk kulitnya, tapi yang terasa lebih dingin adalah kesadaran baru yang perlahan muncul.
"Dad tahu," bisiknya pelan. “Dan ini semua… hanyalah permainan.”
Bayangan di kepalanya kembali ke percakapan beberapa minggu lalu saat Elang berkata dengan nada ringan.
"Aku ingin melihat sejauh mana kau bisa menipu dirimu sendiri."
Kini Varo mengerti. Ayahnya tidak perlu mengurung atau mengancam. Cukup dengan menjeratnya melalui tanggung jawab, membuatnya sibuk mengejar waktu sampai kehilangan arah sendiri.
Senyum tipis muncul di bibirnya dingin, namun penuh tekad. Jika ini permainan, maka ia harus menemukan celah di dalamnya. Dan saat itu tiba, Elang akan tahu bahwa ia tidak bisa menahan bidak yang sudah mulai sadar dirinya.
•••
Di ruang kerjanya, Elang menatap laporan dari jauh. Gavano berdiri di samping, memperhatikan ayahnya yang tersenyum samar.
"Dia mulai memahami jebakan ini," kata Gavano datar.
Elang menyesap cerutunya, lalu menjawab pelan,
"Biarkan. Kadang, kesadaran adalah bagian dari pelatihan."
Ia menatap foto Varo di layar komputer.
"Langkah berikutnya... buat dia percaya bahwa kebebasan itu ada di tangannya."
Asap cerutu menari di udara samar, beracun, dan indah.
•••
Segini dulu gys. Sorry kemaren gabisa up.
Jangan lupa vote, commet yaa💗
See u next chapter gys💗
KAMU SEDANG MEMBACA
TRANSMIGRASI ALVARO [End]
AksiAlvaro Almaraja Aston dikenal sebagai murid bermasalah. BK adalah tempat yang hampir setiap hari ia datangi. Kenakalan itu bukan tanpa alasan, Alvaro hanya ingin satu hal: perhatian dari orang tuanya yang tak pernah ia dapatkan. Hidup sebagai anak b...
![TRANSMIGRASI ALVARO [End]](https://img.wattpad.com/cover/359839263-64-k567788.jpg)