24

1K 57 0
                                        

Happy reading
Jangan lupa vote, comment


Hujan turun deras malam itu. Di ruang kerja dengan pencahayaan redup, Elang duduk di depan meja kayu mahoni tua yang masih menyimpan aroma bourbon dan darah masa lalu. Jemarinya mengetuk pelan permukaan meja, memantulkan ketegangan yang samar.

Di layar hologram kecil di depannya, berderet laporan transaksi lama catatan yang seharusnya telah dihapus dua belas tahun lalu. Namun di antara arsip buram itu, satu nama muncul jelas Leone.

Elang menatap nama itu lama, bibirnya melengkung samar.

“Jadi, kau benar-benar kembali dengan wajah berbeda, bocah sialan…”

Ia mengingat malam ketika ia pertama kali bertemu Leone muda bocah berusia tujuh belas tahun dengan tatapan dingin dan langkah penuh perhitungan. Bocah yang waktu itu menawar senjata kepadanya, dengan keberanian yang bahkan orang dewasa pun tak punya.

“Kalau kau melanggar janji, Tuan Elang, aku akan pastikan kerajaanmu runtuh dari dalam.” Ancaman bocah itu dulu hanya membuatnya tertawa. Tapi kini… nada suaranya, gesturnya, bahkan cara Varo menatapnya beberapa hari terakhir semua terlalu mirip.

Suara pintu berderit. Gavano masuk, langkahnya tenang tapi tatapannya penuh curiga.

“Daddy, kau memerintah pengawasan tambahan pada Varo tanpa memberitahuku?” Elang tidak menjawab langsung. Ia menyalakan cerutunya, asapnya menari lembut di udara.

“Dia menyembunyikan sesuatu,” jawabnya pelan.

“Dan aku ingin tahu seberapa jauh dia akan melangkah.”

Gavano menatap ayahnya tajam.

“Varo bukan ancaman. Dia mungkin licik, tapi....”

“Licik?” Elang menyeringai.

“Kau pikir aku tidak mengenali langkah itu? Cara berpikirnya, gaya bicara, strategi yang ia gunakan saat menggertak dewan direktur minggu lalu… persis seperti Leone.”

Nama itu membuat Gavano terdiam sesaat.

“Leone sudah mati,” katanya akhirnya.
Elang hanya mengangkat alis, lalu memutar layar hologram ke arah putranya.

“Kalau begitu, jelaskan kenapa bocah yang kau sebut adikmu ini menulis laporan keuangan dengan kode identik milik keluarga Leone sepuluh tahun lalu?”

Sunyi mengalir di antara mereka. Hanya denting hujan di jendela dan suara arloji tua di dinding.

Gavano menatap layar itu lama.

“Jadi, apa maksudmu? Bahwa dia Leone? Reinkarnasi? Hantu?” Elang tersenyum miring.

“Aku tidak percaya pada hal-hal mistis, Gavano. Tapi dunia ini punya caranya sendiri mengulang dosa masa lalu. Dan jika itu benar… berarti aku sedang duduk di meja yang sama dengan anak dari lelaki yang dulu hampir menggulingkanku.”

Ia berdiri, berjalan ke arah jendela besar, memandangi langit yang memuntahkan hujan.

“Leone dulu bukan musuhku,” katanya lirih.

“Kami pernah bekerja sama. Tapi keserakahannya menghancurkan segalanya. Saat dia jatuh, aku tidak menolong dan mungkin itu kesalahanku.”

Gavano memperhatikan Daddy nya dengan tatapan campur antara kagum dan ngeri.

“Dan sekarang?”

“Sekarang aku ingin tahu,” jawab Elang pelan,

“apakah anak itu datang untuk menebus dosa ayahnya… atau menagih janji yang kubiarkan mati bersama nama Leone.”

TRANSMIGRASI ALVARO [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang