27

1K 46 4
                                        

Happy reading
Jangan lupa vote, comment

Ruang kerja Elang masih sama seperti biasa, senyap, teratur, dan beraroma tembakau tua. Namun malam itu, keheningan itu memiliki bobot lain.
Setiap jam berdetik seperti menghitung waktu menuju sesuatu yang tak bisa dihindari.

Di meja besar dari kayu hitam, Elang menatap selembar berkas lama.
Nama “Leone” terukir samar di sudut atas, bersama tanda tangan seseorang yang dulu ia kenal dengan baik.
Matanya beralih ke foto di dalam map seorang pemuda dengan mata dingin dan tatapan penuh perhitungan.

“Varo Leone,” gumamnya pelan.

“Kau akhirnya kembali.”

Ia menutup map itu perlahan, lalu menyandarkan tubuh di kursi. Tidak ada rasa bersalah di wajahnya, hanya tatapan yang dalam dan tenang.
Seseorang yang sudah menimbang segala sesuatu hingga ke titik paling kecil dan siap menanggung semua konsekuensi.

Langkah pelan terdengar dari arah pintu. Gavano masuk, membawa setumpuk dokumen.

“Semua laporan sudah lengkap, Daddy. Termasuk hasil penyelidikan Ares.”

Elang mengangguk tanpa melihat.

“Letakkan di sana.” Gavano menurut, tapi tetap diam sejenak.

“Dad… Daddy benar-benar yakin akan melangkah sejauh ini?”

Elang memutar pandangan perlahan, menatap putra sulungnya.

“Segala sesuatu yang besar selalu menuntut pengorbanan, Gavano. Kau tahu itu.”

“Tapi Varo.....”

“Varo bukan korban,” potong Elang dingin.

“Dia ujian terakhir.”

Kata-kata itu membuat udara terasa menegang. Gavano menatap daddy nya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Ia tahu Elang bukan pria yang mudah tergoyahkan, tapi kali ini… sesuatu berbeda.

Ada ketegangan di balik tatapan itu bukan keraguan, tapi semacam emosi yang jarang muncul pada sang kepala keluarga.

Elang bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela besar di belakang meja.
Kota di luar sana bersinar dengan lampu malam, tapi bagi Elang, semua itu hanya bidak di papan permainan raksasa.

“Dulu, aku memutuskan menghancurkan keluarga Leone karena mereka terlalu kuat untuk dikendalikan,” katanya tanpa menoleh.

“Tapi anak itu… dia berbeda. Dia tidak hanya cerdas. Dia mempelajari cara berpikir musuhnya.”

“Dan sekarang?” tanya Gavano pelan.
Elang menatap pantulan wajahnya di kaca.

“Sekarang aku ingin tahu… apakah dia sudah cukup dewasa untuk menantangku.”

•••

Beberapa jam kemudian, ruang bawah mansion dipenuhi dengan cahaya redup dari layar-layar monitor. Elang duduk di kursi tengah, diapit dua asistennya. Di depan layar, tampak peta jaringan bawah tanah rute perdagangan, titik kontrol, dan kode operasi yang semuanya milik Varo.

Namun yang menarik perhatian Elang bukan datanya, melainkan pola pergerakan di dalamnya.
Rapi. Disiplin. Tidak meninggalkan celah.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

“Dia benar-benar kembali menjadi dirinya yang dulu,” ujarnya pelan.

Salah satu asistennya, pria berjas abu-abu, menunduk.

“Apakah perintah pengintaian tetap diteruskan, Tuan?”

“Tidak perlu,” jawab Elang datar.

“Biarkan dia berpikir aku masih mengawasinya. Sementara itu… siapkan langkah dua.”

“Asumsi apa yang harus kami gunakan, Tuan?” Elang mengangguk ke arah layar lain.

“Asumsi bahwa Varo akan melangkah terlalu jauh. Aku ingin melihat siapa saja yang akan menjawab panggilannya.”

Mereka patuh tanpa bertanya. Begitulah cara Elang bekerja setiap keputusan diambil bukan untuk bereaksi, tapi untuk mengendalikan arah reaksi.
Baginya, kekuasaan sejati bukan tentang siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling sabar menunggu momen yang tepat.

Sementara itu, di lantai atas mansion, Elang berhenti di depan ruang penyimpanan lamanya. Ia membuka pintu dengan kode khusus ruangan itu hanya bisa diakses olehnya. Di dalamnya tergantung beberapa jas, foto-foto masa lalu, dan satu lukisan besar keluarga Leone.

Ia mendekati lukisan itu perlahan.
Di sudut bawah, ada goresan kecil nyaris tak terlihat: E.L & V.L

Tanda yang hanya ia dan satu orang lain tahu artinya. Elang mengulurkan tangan, menyentuh goresan itu dengan ujung jarinya.

“Dulu aku pikir menghancurkanmu adalah satu-satunya cara menyelamatkan dunia ini,” gumamnya.

“Tapi ternyata aku hanya menciptakan dirimu kembali dalam bentuk yang lebih berbahaya.”

Cahaya redup mengenai wajahnya, memantulkan sesuatu yang nyaris menyerupai penyesalan namun cepat menghilang. Ia menurunkan tangannya, lalu menatap foto kecil di meja bawah lukisan itu. Foto Varo muda, bersama seorang pria tua yang dulu dikenal sebagai pemimpin Leone.

“Dad,” suara dari belakang memecah keheningan.

Gavano berdiri di ambang pintu.

“Sudah waktunya. Tim sedang menunggu instruksi terakhir.”

Elang mengangguk, lalu menutup kembali pintu ruangan itu.

“Baiklah. Mulai tahap satu. Pastikan Varo menerima undangan malam besok.”

Gavano mengerutkan kening.

“Undangan apa?”
Elang berjalan melewatinya, mantel hitamnya melambai ringan.

“Pertemuan keluarga.”

•••

Malam berikutnya, pesan sampai ke tangan Varo.
Sebuah kartu hitam, tanpa nama pengirim, hanya tulisan singkat:

> ‘Waktunya pulang. – E’

Varo membaca tulisan itu dengan tatapan tajam. Ares berdiri di belakangnya, tanpa bersuara.

“Dia memanggilku, Ares,” ujar Varo pelan.

“Dan aku tahu apa artinya.”

“Apakah Anda akan pergi, Tuan?”
Varo menatap kartu itu sekali lagi.

“Ya. Tapi kali ini, aku tidak akan datang sebagai anaknya.”

Sementara di sisi lain kota, Elang berdiri di balkon tinggi markas lamanya.
Angin malam membawa aroma hujan dan besi. Ia menyalakan rokok, menghembuskan asap perlahan, lalu menatap langit yang gelap.

“Dunia ini selalu membutuhkan keseimbangan,” ucapnya lirih.

“Dan jika aku harus menjadi iblis agar ia tetap berjalan… maka biarlah begitu.”

Ia menatap jauh ke arah kota, tempat Varo berada. Ada sesuatu di matanya bukan kebencian, bukan kasih sayang, melainkan campuran keduanya.
Seperti seorang ayah yang menciptakan monster dari darah dagingnya sendiri, dan kini harus menahannya dengan tangan sendiri.

Asap rokok menari di udara, samar menutupi senyum dingin yang muncul di bibirnya.

“Selamat datang di babak terakhir, Varo Leone,” bisiknya.

“Lihat apakah kau benar-benar pantas menggantikan tempatku.”

•••

Jangan lupa vote, comment💗

TRANSMIGRASI ALVARO [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang