18

1.7K 85 2
                                        

Happy reading
Jangan lupa vote, comment


Hujan belum berhenti sejak malam itu.
Langit tampak seperti tirai kelabu yang enggan terbuka, menutup kota dengan aroma besi dan tanah basah.

Varo berdiri di depan jendela kantornya, menatap jalan yang basah oleh genangan air. Di tangannya, laporan dari tim lapangan hasil investigasi sementara mengenai kebakaran pelabuhan.

Tidak ada nama, tidak ada bukti yang bisa menjerat siapa pun. Hanya satu catatan kecil dari anak buah kepercayaannya:

> "Ada seseorang di lokasi, wajahnya mirip dengan seseorang yang pernah Anda sebut... sebelum semua ini dimulai."

Jantung Varo berdegup sekali lebih cepat. Ia menatap kalimat itu lama, lalu menutup berkas perlahan.

"Tidak mungkin," gumamnya pelan.
Namun bagian lain dari dirinya tahu  di dunia ini, tidak ada yang mustahil.
Terutama jika Elang sedang bermain di balik layar.

Di sisi lain mansion, Elang menatap layar besar di ruang bawah tanah rekaman yang sudah diperjelas oleh tim pengawasnya. Sosok itu muncul hanya dua detik sebelum ledakan. Langkahnya tegap, gerakannya tenang, dan kalung perak di lehernya berkilat terkena cahaya.

Kalung itu berbentuk sayap kecil lambang lama dari sindikat yang dulu dikenal sebagai Seraph Noir, sindikat asal dunia tempat Varo berasal.

"Dad." Suara Gavano memecah keheningan.

"Dad yakin bukan manipulasi kamera?"

Elang menggeleng perlahan.

"Aku sudah lihat orang itu sekali... bertahun-tahun lalu. Bukan di dunia ini."

Gavano terdiam, tidak paham maksudnya. Tapi Elang tidak menjelaskan lebih jauh. Ia hanya mematikan layar, menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca hitam.

"Kalau bayangan itu benar-benar kembali," katanya pelan,

"maka Varo bukan satu-satunya yang menyeberang."

Sementara itu, Varo memutuskan untuk bergerak diam-diam. Ia pergi sendirian ke bekas lokasi pelabuhan, mengenakan mantel hitam panjang. Hujan masih turun, membuat aroma gosong di udara semakin kuat.

Sisa gudang itu kini hanyalah kerangka besi berasap. Namun di tengah puing-puing, sesuatu menarik perhatiannya sebuah peluru kecil, dengan ukiran halus di sisi selongsong, huruf "Σ".

Huruf itu tidak asing. Simbol yang hanya digunakan oleh unit bawah tanah dari organisasi lamanya.
Organisasi yang seharusnya hancur bersamaan dengan kematian dirinya di dunia lama.

Varo menunduk, menggenggam peluru itu erat. Tangan kirinya bergetar halus  bukan karena takut, tapi karena amarah.

"Jadi kau benar-benar ke sini..." bisiknya pelan.

"Kalau begitu, permainan ini berubah."

•••

Di malam yang sama, Elang berdiri di balkon lantai atas mansion. Ia menerima laporan dari mata-matanya  bahwa Varo diam-diam pergi ke pelabuhan tanpa pengawalan.

Ia tersenyum tipis.

"Sudah waktunya," katanya.

"Kalau dia ingin berburu bayangan, biarkan dia... karena bayangan itu akan memburunya juga."

Dari balik pintu, Gavano muncul.

"Dad... siapa sebenarnya orang itu?"

Elang menatap langit, matanya redup namun tajam.

"Seseorang dari masa lalu yang seharusnya tidak ada lagi. Dan jika dia benar-benar kembali, maka seluruh rencana harus berubah."

Ia memutar cincin di jarinya, cincin yang sama dengan lambang di peluru yang ditemukan Varo.

"Kadang," katanya lirih,

"bayangan tidak datang untuk menakut-nakuti. Mereka datang untuk menagih sesuatu... yang belum selesai."

•••

Varo kembali ke rumah larut malam.
Ia menyembunyikan peluru itu di dalam kotak besi di balik dinding, lalu duduk lama di kursi kerjanya.
Pikirannya berputar cepat.

Jika orang itu benar-benar ada di dunia ini, maka transmigrasinya bukanlah kebetulan. Ada sesuatu yang lebih besar, lebih dalam  sesuatu yang mungkin bahkan Elang tahu sejak awal.

Ia menatap foto keluarga di meja Elang, Gavano, dan dirinya. Senyum di foto itu terasa seperti ironi. Dunia ini terlalu rapuh untuk menampung rahasia sebesar ini.

"Kalau kau benar-benar kembali," gumamnya pelan,

"aku akan menyelesaikan yang dulu belum sempat selesai."

Lampu padam, menyisakan hanya kilat yang sesekali menerangi ruangan.
Dan di luar jendela, sosok berjas hitam berdiri diam di bawah hujan, menatap kamar Varo dari kejauhan.

Kalung sayap perak itu berkilau sekali lagi lalu menghilang di balik kegelapan.

•••

Jangan lupa vote gys💗

TRANSMIGRASI ALVARO [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang