22

1.1K 56 0
                                        

Happy reading
Jangan lupa vote, comment

Suara hujan malam itu belum berhenti sejak senja. Langit hitam bergemuruh, dan di ruang kerja besar di lantai tiga mansion keluarga Elang, hanya satu lampu yang menyala redup.

Cahaya kuning pucat menyoroti sosok pria paruh baya yang duduk di kursi kulit, diam menatap layar monitor hitam-putih.

Rekaman dari gudang sudah berakhir sejak satu jam lalu. Namun Elang tidak mematikannya. Ia membiarkan gambar beku di layar sosok Varo berdiri di antara darah dan bayangan, dengan kalung perak menggantung di tangan.

Wajah itu tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menumpahkan darah.

“Varo…” gumam Elang lirih, suara dalamnya hampir seperti dengusan puas.

“Kau memang anakku.”

Pintu diketuk pelan. Gavano masuk dengan langkah hati-hati, membawa berkas di tangannya.

“Semua laporan dari pengawal sudah terkumpul, Dad. Tidak ada yang selamat di lokasi.”

Elang tidak menoleh.

“Dan kau yakin Varo tidak tahu bahwa tempat itu diawasi?”

“Yakin,” jawab Gavano.

“Dia bertindak spontan. Tapi…” Gavano ragu sejenak.

“Tapi dia juga tidak tampak kaget, seolah sudah memperkirakan segalanya.”

Ucapan itu membuat Elang akhirnya menoleh. Tatapannya tajam menembus putra sulungnya.

“Bagus. Artinya instingnya belum tumpul.”

Ia berdiri perlahan, menyulut sebatang cerutu. Asap tebal menyebar, menari di udara dingin ruangan itu.

“Sudah waktunya aku tahu,” lanjut Elang pelan,

“apakah dia masih bisa diarahkan… atau sudah harus dilenyapkan.”

Gavano menatap Daddy nya dalam diam.
Ia tahu arti kata-kata itu. Bukan sekadar ujian, melainkan ancaman yang tak akan disampaikan dua kali.

•••

Keesokan paginya, Varo dipanggil ke ruang rapat utama perusahaan.
Ruangan itu besar, dengan dinding kaca dan meja panjang dari kayu hitam. Di ujung meja, Elang duduk dengan ekspresi dingin yang sulit dibaca. Gavano berdiri di sisi kanan, bersandar ringan tapi matanya menatap Varo tajam.

“Duduk,” perintah Elang tanpa menatapnya.

Varo menuruti tanpa bicara.
Ia sudah menebak, setelah insiden gudang, ini pasti bukan pertemuan biasa.

Elang meletakkan selembar dokumen di meja.

“Proyek baru dari cabang Eropa. Aku ingin kau tangani langsung.”

Varo membuka dokumen itu cepat  laporan keuangan, data investasi, dan catatan akuisisi perusahaan transportasi laut. Tapi ada satu hal yang menarik, salah satu investor utamanya adalah perusahaan yang dulu berhubungan dengan jaringan mafia lamanya, sebelum ia transmigrasi.

Sebuah sinyal bahaya bergetar di kepalanya. Ini bukan proyek biasa.

“Dan Gavano akan mendampingimu,” tambah Elang tenang.

“Aku ingin kalian bekerja sama.”

Varo menatap daddynya tajam.

“Dengan hormat, Dad, aku biasa bekerja sendiri.”

Elang tersenyum samar, tanpa humor.

“Justru itu masalahnya. Kau terlalu sering sendiri. Sekarang, kau akan belajar berbagi tanggung jawab dan kepercayaan.”

TRANSMIGRASI ALVARO [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang