Suara denting jam dinding terdengar jelas di seluruh ruangan, menciptakan gema yang menyesakkan dada.
Varo membuka matanya perlahan. Cahaya lampu kristal menyilaukan pandangan yang masih buram. Kepalanya berdenyut, tubuhnya berat seperti baru diseret keluar dari neraka.
Ia ingat samar suara pistol, botol vodka, tatapan dingin sang ayah, lalu gelap.
Sial.
Tangannya terasa berat, tapi ia bisa merasakan perban tipis di pergelangan kirinya. Luka kecil. Entah dari apa.
Pintu terbuka.
Suara sepatu berderap teratur memasuki ruangan. Sosok tinggi berjas hitam melangkah dengan elegan namun mengintimidasi. Gavano. Abang pertamanya.
"Bangun sudah, little brother?"
Nada suaranya tenang, tapi dingin seperti racun yang dicampur madu.
Varo tidak menjawab, hanya menatap datar. "Apa yang terjadi setelah itu?"
Gavano tersenyum samar.
" Setelah kau mabuk dan gagal menembak, Daddy memutuskan untuk mempercepat ‘pendewasaanmu’. Kau akan mulai latihan penuh mulai hari ini."
" Latihan?" alis Varo terangkat tipis.
" Latihan dunia bawah, Varo," jawab Gavano, lalu menepuk bahunya pelan.
"Kau pikir kau bisa menolak?"
Varo menepis tangannya perlahan.
" Aku tidak berniat menolak."
Gavano menatap Varo dalam diam sejenak. Tatapan yang terlalu dalam, seolah menilai isi kepala adiknya.
"Bagus. Karena mulai sekarang, setiap langkahmu akan menentukan posisimu di keluarga ini."
•••
Ruang bawah tanah mansion itu luas, tapi suasananya menekan. Lampu redup, bau logam dan oli memenuhi udara. Senjata, tinju besi, bahkan meja interogasi berjejer rapi di sepanjang sisi ruangan.
Di tengah ruangan berdiri Elang, sang ayah, memandangi Varo dari ujung kepala hingga kaki.
"Selamat datang di bagian dari dirimu yang baru, son."
Varo hanya mengangguk.
" Apa yang harus kulakukan?"
Elang menatapnya datar. " Belajar menguasai ketakutan. Hari ini, Gavano yang akan memimpin pelatihanmu."
Varo menoleh cepat ke arah abangnya, yang kini berdiri di sisi kanan ruangan sambil memegang pistol.
Gavano tersenyum kecil.
"Jangan khawatir, aku tidak akan menembakmu. Belum."
Varo hanya menarik napas panjang. Ia tahu ini bukan latihan biasa. Ini ujian ujian untuk melihat seberapa kuat dirinya bertahan di bawah tekanan keluarga yang tak punya rasa belas kasihan.
"Mulai," ucap Elang pelan.
Gavano mendekat, menyerahkan pistol ke Varo.
"Targetnya di depanmu. Tembak tiga kali, tanpa meleset. Jika gagal... well, Daddy yang akan menentukan hukumannya."
Varo menggenggam pistol itu erat. Tangannya gemetar sedikit bukan karena takut, tapi karena sisa efek alkohol yang masih menari di darahnya. Ia membidik, menarik napas. dalam-dalam.
Dor.
Satu peluru menembus target.
Dor.
Peluru kedua sedikit meleset.
Dor.
Peluru terakhir—tepat di pusat target.
"Dua dari tiga," kata Gavano pelan.
"Tidak buruk."
Tapi sebelum Varo sempat menurunkan pistol, Gavano bergerak cepat, menendang meja ke arahnya.
Varo hampir kehilangan keseimbangan, namun dengan refleks ia menahan dan membalas pukulan dari arah kanan.
Tubuh mereka beradu. Gavano menahan serangan adiknya hanya dengan satu tangan, lalu mendorongnya mundur keras hingga punggung Varo membentur dinding.
Elang hanya menonton. "Teruskan."
Keringat mulai mengalir di pelipis Varo. Nafasnya berat. Tapi ia tidak berhenti. Ia menyerang lagi, lebih cepat, lebih dalam, memukul balik dengan tenaga penuh. Sampai akhirnya Gavano tersenyum puas, menahan tinju Varo tepat di depan wajahnya.
"Begitu. Lihat, Dad? Api di matanya mulai menyala."
Elang mendekat perlahan, meletakkan tangan di bahu Varo.
"Kau mengerti sekarang, son? Keluarga kita tidak butuh orang lemah. Kita menciptakan kekuatan, bukan memohonkannya."
Varo menatap ayahnya dalam diam. Ada sesuatu di balik kata-kata itu yang terasa salah… tapi ia belum tahu apa.
Mungkin benar ini caranya menjadi kuat. Atau mungkin ini caranya hancur tanpa sadar.
"Latihan selesai untuk hari ini," ucap Elang akhirnya.
" Mulai besok, kau ikut Gavano di lapangan. Dia akan mengajarkanmu dunia yang sebenarnya."
•••
Malamnya, di kamarnya sendiri, Varo duduk di tepi ranjang. Tangan kirinya masih terasa sakit. Ia menatap jendela yang terbuka sedikit, membiarkan udara dingin malam masuk.
Di cermin depan tempat tidurnya, ia melihat sosoknya sendiri: wajah yang masih muda, tapi mata yang mulai kehilangan cahaya.
"Apakah ini yang disebut ‘menjadi kuat’, huh?" gumamnya pelan.
Ia tidak sadar, pintu kamarnya terbuka sedikit. Di luar sana, Gavano berdiri bersandar, mendengarkan.
Senyum miring muncul di wajahnya. "Kau akan mengerti nanti, little brother. Kekuatan... adalah saat kau berhenti mempertanyakan semuanya."
Dan pintu kembali tertutup perlahan.
•••
Jangan lupa vote, comment, follow, shere.
Jumlah chapter di cerita ini hanya 30 gys, aku udah buat rancangan untuk sampai bab 30, jadi aku bakal sering sering up
See u next chapter gys💗
KAMU SEDANG MEMBACA
TRANSMIGRASI ALVARO [End]
AksiAlvaro Almaraja Aston dikenal sebagai murid bermasalah. BK adalah tempat yang hampir setiap hari ia datangi. Kenakalan itu bukan tanpa alasan, Alvaro hanya ingin satu hal: perhatian dari orang tuanya yang tak pernah ia dapatkan. Hidup sebagai anak b...
![TRANSMIGRASI ALVARO [End]](https://img.wattpad.com/cover/359839263-64-k567788.jpg)