Happy reading
Jangan lupa vote, comment
•••
Langit malam itu gelap, lebih gelap dari biasanya. Awan tebal menutupi cahaya bulan, membuat halaman depan mansion keluarga Elang tampak seperti panggung tanpa cahaya.
Di ruang kerjanya, Elang berdiri di depan jendela besar, menatap hujan yang turun deras. Setiap tetes air yang menabrak kaca terasa seperti detak waktu lambat, tapi pasti menuju sesuatu.
Ketika pintu diketuk, ia tak segera menoleh.
"Masuk."
Gavano melangkah masuk, jasnya basah sebagian, napasnya berat.
"Laporan baru saja masuk. Gudang utama di pelabuhan timur terbakar. Semua data transaksi hilang."
Elang menoleh perlahan. Tatapannya tajam, tapi suaranya tetap tenang.
"Tidak mungkin kebetulan. Siapa yang berani?"
" Belum jelas, tapi…" Gavano berhenti sejenak, menatap ke lantai.
"...beberapa saksi melihat salah satu anak buah Varo di sana sebelum ledakan."
Keheningan panjang menggantung di udara. Elang tidak menjawab. Ia hanya berjalan ke meja, mengambil sebatang rokok, menyalakannya perlahan.
Asapnya melingkar lembut di udara, kontras dengan ketegangan yang mulai membeku.
"Varo?" suaranya pelan, tapi cukup untuk membuat Gavano menegang.
"Kemungkinan besar orang lain memanfaatkan namanya, tapi waktu kejadian terlalu tepat, Dad. Dua jam setelah dia menandatangani kontrak dengan perusahaan ekspor yang dulu berseteru dengan kita."
Elang tersenyum samar, tapi matanya tidak ikut tersenyum.
"Sepertinya anak itu mulai bergerak tanpa izin."
Sementara itu, di sisi lain kota, Varo duduk di kursi panjang dalam ruang rapat yang sepi. Cahaya redup dari lampu gantung memantul di wajahnya, menampakkan ekspresi dingin yang tidak bisa ditebak.
Di hadapannya, seorang pria muda dengan pakaian lusuh menunduk dalam ketakutan.
"Sa-saya tidak tahu, Tuan. Saya hanya disuruh kirim barang ke pelabuhan. Setelah itu, semuanya meledak."
Varo menatap pria itu lama, lalu menghela napas pelan.
"Dan kau mengira aku akan percaya?"
Ia berdiri, perlahan mendekat, lalu menepuk bahu pria itu dengan ringan sentuhan yang hampir lembut.
Namun nada suaranya berubah dingin.
"Orang yang bermain di belakangku biasanya tidak bertahan lama."
" Su-sumpah, bukan aku"
Sebelum pria itu sempat menyelesaikan kalimatnya, pintu ruang rapat terbuka.
Seorang pria berjas hitam masuk dan berbisik di telinga Varo.
"Tuan muda, ada perintah dari atas. Daddy meminta Anda pulang sekarang."
Varo memejamkan mata sejenak.
Begitu membuka lagi, tatapannya berubah. Ia tahu apa arti panggilan itu.
"Aku akan ke mansion," katanya datar.
" Pastikan orang ini tetap di sini. Hidup."
Ketika ia tiba di rumah, suasana sudah tegang. Gavano berdiri di sisi kanan ruang utama, sementara Elang duduk di kursinya yang tinggi, dikelilingi oleh beberapa penjaga bersenjata.
"Varo," suara Elang tenang tapi berat.
" Kau tahu apa yang terjadi malam ini?"
Varo menatap langsung ke mata ayahnya. "Tentu saja. Aku baru saja dapat laporan."
" Dan kau tahu," lanjut Elang,
" bahwa saksi melihat anak buahmu di lokasi."
" Ya," jawab Varo tanpa ragu. " Tapi aku tidak menugaskannya ke sana."
Gavano menyipitkan mata.
" Terlalu banyak kebetulan, Varo. Gudang terbakar dua jam setelah kau menandatangani kontrak baru. Apa yang harus kami pikirkan?"
Varo menatap abangnya tanpa gentar.
"Pikir apa pun yang kau mau, bang Gavano. Tapi aku tidak sebodoh itu untuk menyerang gudang keluarga sendiri."
Udara di ruangan menegang. Elang masih diam, hanya menatap keduanya seperti mengamati dua bidak yang mulai saling menyerang di papan catur.
Lalu ia meletakkan rokoknya di asbak dan bersuara pelan.
"Cukup."
Keduanya langsung diam. Elang menatap ke arah Varo.
"Aku tidak akan menuduh tanpa bukti. Tapi mulai malam ini, semua transaksi yang berhubungan dengan perusahaanmu akan diawasi langsung oleh Gavano."
Varo hampir tidak menunjukkan reaksi, tapi ada sedikit perubahan di matanya.
Pengawasan langsung berarti pembatasan. Sebuah bentuk hukuman yang dibungkus rapi dengan alasan pengamanan.
"Baik," katanya tenang.
"Kalau itu yang Dad anggap perlu."
Elang menatapnya tajam.
" Kau terlalu tenang untuk seseorang yang sedang dicurigai."
" Karena aku tidak takut, Dad," jawabnya datar.
" Takut hanya dimiliki oleh mereka yang punya dosa."
Elang tersenyum tipis. " Kau yakin?"
Varo tidak menjawab. Ia menunduk sedikit, lalu berbalik meninggalkan ruangan. Begitu pintu tertutup, Gavano berbicara pelan,
"Dad, apakah Dad percaya dia tidak terlibat?"
Elang memutar cincin di jarinya.
" Tidak," jawabnya dingin. "Tapi aku ingin tahu siapa yang mencoba memancing api di antara kami."
Ia menatap layar di meja gambar pelabuhan yang terbakar. Dalam salah satu rekaman, ada sosok misterius berpakaian hitam yang muncul hanya dua detik. Dan ketika wajahnya terlihat sekilas, Elang menyipitkan mata.
Itu bukan anak buah Varo.
Bukan orang dari keluarga.
Dan bukan juga lawan lama mereka.
Sosok itu memakai kalung yang hanya satu orang yang tahu…
orang yang seharusnya sudah mati dua tahun lalu.
•••
Di luar mansion, Varo berdiri di teras, menatap langit yang masih diguyur hujan. Ia belum tahu apa yang terjadi di pelabuhan, belum tahu siapa yang memulai api itu. Tapi sesuatu di dalam dirinya bergetar firasat bahwa kali ini, ancaman tidak datang dari ayahnya.
Mungkin dari masa lalunya sendiri.
Masa lalu dunia yang dulu ia tinggalkan saat berpindah ke tubuh Varo ini.
•••
Segini dulu gys💗
Jangan lupa vote, comment💗
See u next chapter💗
Maaf gys aku gabisa up kemaren, karena aku full sibuk sampe malem😁
KAMU SEDANG MEMBACA
TRANSMIGRASI ALVARO [End]
ActionAlvaro Almaraja Aston dikenal sebagai murid bermasalah. BK adalah tempat yang hampir setiap hari ia datangi. Kenakalan itu bukan tanpa alasan, Alvaro hanya ingin satu hal: perhatian dari orang tuanya yang tak pernah ia dapatkan. Hidup sebagai anak b...
![TRANSMIGRASI ALVARO [End]](https://img.wattpad.com/cover/359839263-64-k567788.jpg)