26

1K 44 2
                                        

Happy reading
Jangan lupa vote, comment


Langit sore menampakkan semburat merah tua, seolah mencerminkan tumpahan darah yang tak terlihat di balik dinding kaca mansion keluarga Elang. Varo berdiri di balkon ruang kerjanya, memandangi halaman yang tenang terlalu tenang untuk ukuran keluarga mafia.

Semuanya terlihat damai, tapi ketenangan seperti itu hanya menandakan satu hal badai sedang menunggu waktu untuk pecah.

Sejak pertemuannya kembali dengan Ares, malam-malam Varo berubah menjadi perhitungan dingin tanpa henti. Setiap langkah, setiap kata dari sang Daddy, terasa seperti bagian dari teka-teki yang belum selesai.
Dan kini, potongan itu mulai membentuk gambar besar yang menakutkan.

“Dia tahu,” gumam Varo pelan.

Suara pintu terbuka pelan. Ares masuk, menundukkan kepala sedikit.

“Tuan,” sapanya, suaranya berat tapi terkendali.

“Informasi dari pelabuhan timur sudah dikonfirmasi. Mereka mulai bergerak.”

Varo menoleh setengah. “Dan Daddy?”

Ares ragu sejenak. “Seperti yang Anda duga. Beliau menunggu Anda membuat langkah pertama.”

Tangan Varo mengepal di sisi tubuhnya.
Jadi benar. Elang tidak hanya tahu tentang Ares, tapi juga mengawasi pergerakan mereka sejak awal.
Seolah-olah semuanya sudah disusun agar Varo terpojok lagi.

Namun kali ini berbeda.
Varo tidak akan mundur seperti sebelumnya.

Ia menatap Ares, sorot matanya kembali pada ketegasan khas masa lalunya masa ketika ia masih menjadi pewaris keluarga Leone.

“Hubungkan semua unit bayangan. Kita bergerak malam ini,” ujarnya dingin.

“Tapi Tuan....”

“Aku tidak menunggu izin siapa pun, Ares.”

Nada suaranya cukup untuk membuat udara di ruangan terasa menegang.
Ares hanya menunduk dalam.

“Baik, Tuan.”

•••

Di ruang bawah mansion, Elang sedang menatap layar besar berisi rekaman kamera tersembunyi.
Di sana, Varo terlihat sedang berbicara dengan Ares dalam diam, dalam bahasa kode yang hanya mereka berdua pahami.

Elang menghela napas, samar-samar muncul senyum di bibirnya.

“Masih sama seperti dulu, Varo Leone,” bisiknya.

Gavano berdiri di sisi lain meja, wajahnya tanpa ekspresi.

“Daddy tidak berniat menghentikannya?”

Elang menatap sekilas ke arah putra sulungnya.

“Tidak. Seorang bidak tidak akan tahu nilainya sampai ia digerakkan melawan raja. Biarkan dia melangkah. Aku ingin melihat seberapa jauh darah Leone masih mengalir dalam dirinya.”

Ada nada aneh dalam suara itu campuran kagum dan ancaman.
Gavano hanya mengangguk, tapi matanya gelap.

Ia tahu betul jika ayahnya sudah berkata seperti itu, maka Varo akan dijebak dalam permainan yang bahkan dirinya tak bisa keluar.

•••

Malam datang cepat. Angin membawa aroma laut dan minyak mesin, menandakan kapal-kapal di pelabuhan bawah sudah bersiap. Varo mengenakan mantel hitamnya, langkahnya mantap menembus kegelapan.

Di sisinya, Ares berjalan dalam diam, sesekali menatap ke arah tuannya dengan tatapan tajam penuh waspada.

“Tuan, Anda yakin ingin melakukannya sendiri?”

Varo tidak menjawab langsung. Ia hanya membuka sarung tangannya, memperlihatkan cincin lama berukir simbol Leone lambang keluarga yang seharusnya sudah hancur.

“Aku tidak melakukannya untuk balas dendam,” ucapnya akhirnya.

“Aku hanya ingin tahu, kenapa keluarga Leone harus lenyap… dan kenapa Daddy ada di sana malam itu.”

Ares menunduk. “Jadi Anda sudah tahu?”

“Tidak sepenuhnya,” gumam Varo,

“tapi cukup untuk mencium kebohongan.”

Langkah mereka berhenti di depan gudang kosong di tepi dermaga.
Di dalamnya, seseorang sudah menunggu.

Pria tua berjas abu-abu, dengan tongkat perak di tangannya. Mata tuanya memandang Varo dengan ketenangan yang aneh.

“Varo Leone,” katanya pelan.

“Atau seharusnya kupanggil Varo Elang?”

Varo menatapnya tajam.

“Kau tahu terlalu banyak.”

Pria itu tersenyum samar.

“Semua orang di bawah Elang tahu siapa dirimu. Dia tidak menyembunyikanmu, hanya menunggumu sadar.”

Ares secara refleks memegang senjatanya. Tapi Varo menahannya.

“Pergilah,” katanya dingin.

“Biarkan aku bicara dengannya.”

Ares enggan, namun akhirnya mundur keluar.
Varo menatap pria tua itu.

“Jadi Daddy tahu aku bukan Varo yang dulu?”

“Dia tahu sejak hari pertama,” jawab si pria.

“Dan dia tahu siapa kau sebelum itu. Anak yang pernah menantangnya di meja strategi, di dunia Leone.”

Dunia berhenti sejenak bagi Varo.
Satu demi satu potongan masa lalu terhubung tatapan Elang yang dulu terasa familiar, kalimat-kalimat samar yang seolah menggoda, bukan menguji.

“Jadi dia…”

“Ya,” pria itu menatapnya tajam.

“Elang adalah dalang di balik kehancuran Leone. Tapi bukan untuk menghancurkanmu. Ia menginginkanmu kembali bukan sebagai musuh, melainkan penerus yang bisa ia kendalikan.”

Napas Varo terasa berat. Tiba-tiba semuanya masuk akal. Tekanan, pengawasan, manipulasi semuanya bukan kebencian, tapi perebutan kendali. Namun sesuatu di dalam dirinya menolak. Leone bukan milik siapa pun.

“Jika dia pikir aku akan tunduk, dia salah besar,” ujar Varo dingin.

Pria tua itu tersenyum samar.

“Dan itulah alasan dia memilihmu.”

•••

Sementara itu, dari ruang kendali mansion, Elang mematikan layar.
Tatapannya kosong menembus refleksi bayangannya sendiri.

“Dia masih sama seperti dulu,” katanya pelan.

“Terlalu keras kepala untuk menjadi bidak… tapi terlalu berharga untuk dilepaskan.”

Gavano berdiri di ambang pintu.

“Jadi apa langkah selanjutnya?”

Elang berdiri perlahan, mantel hitamnya jatuh rapi di bahu.

“Permainan baru dimulai, Gavano. Kali ini, bukan tentang kekuasaan… tapi tentang siapa yang pantas disebut keluarga.”

Tatapan itu tajam, nyaris dingin seperti malam tanpa bulan. Karena di dalam kepala Elang, satu rencana baru mulai terbentuk rencana yang akan menentukan apakah Varo akan menjadi penerus… atau lawan terakhir yang harus ia musnahkan sendiri.

•••

Jangan lupa vote, comment 💗

TRANSMIGRASI ALVARO [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang