Happy reading
Jangan lupa vote, comment
Udara pagi terasa dingin menusuk ketika Varo melangkah keluar dari mansion. Hujan semalam menyisakan genangan kecil di jalan batu, memantulkan bayangan suram dari langit kelabu.
Di sisi kanan gerbang, seorang pria berbadan tegap berdiri tegak wajah asing, tapi mata yang terlalu awas untuk ukuran pengawal biasa.
“Nama saya Adrian,” katanya singkat ketika Varo mendekat.
“Tuan Elang menugaskan saya mendampingi Anda mulai hari ini.”
Suara tenangnya datar, nyaris tanpa ekspresi. Namun ada sesuatu dalam caranya memandang tenang, tapi selalu mengukur. Varo menatapnya balik beberapa detik, lalu mengangguk tipis.
“Baik. Jangan ikut campur urusan pribadi.”
“Saya hanya menjalankan perintah,” jawab Adrian tanpa ragu. Nada itu terlalu halus untuk prajurit biasa.
Varo menandainya dalam hati.
•••
Hari-hari berikutnya berjalan dalam tekanan yang aneh. Adrian selalu muncul di mana pun Varo pergi rapat, gudang, bahkan ketika sekadar mengambil udara di taman belakang.
Tidak pernah bicara banyak, tapi tatapan itu selalu ada seperti bayangan yang tak pernah hilang.
Varo pura-pura tidak peduli. Ia kembali fokus pada laporan yang menumpuk, grafik ekspor yang terus bergerak, dan pesan-pesan dari cabang luar negeri yang anehnya selalu datang tengah malam.
Tapi malam ketiga, sesuatu menarik perhatiannya. Salah satu email yang dikirim dari kantor cabang Singapura berisi lampiran kecil peta gudang, catatan pengiriman, dan di sudut bawah file itu, ada tanda yang membuat darahnya berhenti sejenak.
Inisial.
Tulisan tangan yang ia kenal di luar kepala: A.R.S.
Matanya menyipit.
“Tidak mungkin…”
Ia menatap layar lama, mencoba menenangkan pikirannya. Kalau benar Ares masih hidup, dan mengirim dokumen itu, berarti ia ingin Varo menemukannya. Tapi kenapa sekarang? Dan kenapa lewat jaringan yang jelas-jelas diawasi Daddy?
Ia menutup laptop cepat dan berdiri.
“Aku harus pastikan sendiri.”
•••
Malam itu, tanpa memberi tahu siapa pun, Varo meninggalkan mansion.
Ia mengenakan jas gelap dan sarung tangan kulit, menyelinap lewat jalur belakang yang biasa dipakai Gavano untuk urusan rahasia keluarga.
Namun baru beberapa langkah keluar pagar, suara pelan terdengar di belakangnya.
“Anda mau ke mana malam-malam begini, Tuan Muda?”
Varo menoleh cepat. Adrian berdiri di bayangan pepohonan, wajahnya tenang tapi matanya tajam seperti bilah pisau.
“Kau mengikutiku?” nada Varo menurun, dingin.
“Saya diberi tugas untuk memastikan keselamatan Anda,” jawab Adrian datar.
“Dan keselamatan Anda tidak bisa dijamin jika Anda pergi tanpa izin.”
“Keselamatanku bukan urusanmu.”
Varo melangkah lagi, tapi Adrian menahan lengannya tidak kasar, tapi cukup kuat.
“Kalau saya tidak kembali bersama Anda, Tuan Elang akan tahu.”
Ucapan itu membuat Varo terdiam sesaat. Lalu ia tersenyum tipis senyum dingin yang tidak sampai ke mata.
“Baiklah. Kalau begitu, kau ikut. Tapi kau tidak bicara, tidak bertanya, tidak menyentuh apa pun.”
Adrian menunduk singkat. “Mengerti.”
KAMU SEDANG MEMBACA
TRANSMIGRASI ALVARO [End]
ActionAlvaro Almaraja Aston dikenal sebagai murid bermasalah. BK adalah tempat yang hampir setiap hari ia datangi. Kenakalan itu bukan tanpa alasan, Alvaro hanya ingin satu hal: perhatian dari orang tuanya yang tak pernah ia dapatkan. Hidup sebagai anak b...
![TRANSMIGRASI ALVARO [End]](https://img.wattpad.com/cover/359839263-64-k567788.jpg)