19

1.5K 77 1
                                        

Happy reading
Jangan lupa vote, comment


Malam turun tanpa suara. Kota seolah menahan napas di bawah kabut yang tebal, sementara cahaya lampu jalan berpendar samar di antara butiran hujan.

Di dalam ruang kerjanya, Varo menatap peta besar yang terhampar di meja peta jalur pelabuhan dan gudang penyimpanan lama yang sudah ditinggalkan bertahun-tahun. Titik-titik merah kecil menandai lokasi yang baru saja diperiksa anak buahnya. Semuanya kosong. Tapi satu titik paling pojok, dekat jalur air tua belum sempat ia datangi.

Varo meraih jas hitamnya. Gerakannya tenang, tapi matanya menyimpan badai.
Ia tidak memberi tahu siapa pun malam ini. Tidak juga Gavano. Karena kali ini, ia ingin bergerak sendiri.

“Kalau memang benar dia berasal dari dunia lamaku…” gumamnya pelan,

“aku harus tahu untuk siapa dia datang.”

•••

Sementara itu, di ruangan bawah tanah mansion Elang, suasana begitu sunyi hingga suara jam terdengar menusuk.
Elang berdiri di depan layar besar, menatap rekaman yang baru dikirim oleh tim pengintainya.

“Dia bergerak lagi,” ucap Gavano, matanya mengikuti sosok Varo di layar.

“Tanpa pengawalan. Tanpa izin.”

Elang tidak menjawab. Ia hanya menatap layar dengan mata tenang, seolah sudah tahu apa yang akan terjadi.

“Biarkan,” katanya akhirnya.

“Setiap langkah yang ia ambil adalah bagian dari rencana.”

“Rencana?” Gavano menatap ayahnya ragu.

“Kalau dia sampai bertemu dengan orang itu, bukankah...”

“Elang memotong pelan.”

“Justru itu yang aku inginkan.”

Ia memutar cincin di jarinya, logam dingin itu memantulkan cahaya biru dari layar.

“Kadang seseorang harus dihadapkan pada bayangannya sendiri sebelum bisa kau kendalikan sepenuhnya.”

•••

Pelabuhan tua itu sunyi. Hanya suara ombak yang memecah keheningan malam. Varo berjalan perlahan di antara kontainer berkarat, setiap langkahnya bergema di permukaan basah.

Ia berhenti ketika mendengar suara langkah lain. Ritmenya tenang. Berat.
Tidak seperti orang yang berusaha bersembunyi, tapi seperti seseorang yang memang ingin ditemukan.

Dari balik kabut, sosok itu muncul  jas panjang, kalung perak yang menggantung di leher, dan tatapan yang terlalu familiar untuk diabaikan.

Varo menegang.

“Jadi kau benar-benar hidup.”

Sosok itu tersenyum samar.

“Kalau aku mati, kau pikir siapa yang menulis ulang akhir dari kisah kita dulu?”

Suara itu. Nada itu.
Tidak mungkin salah  Ares, mantan tangan kanannya di dunia lama. Orang yang seharusnya mati di bawah reruntuhan markas terakhir mereka.

“Bagaimana kau bisa ada di sini?” suara Varo rendah, mengandung ancaman.

Ares mendekat dua langkah.

“Pertanyaan yang sama untukmu, Bos. Atau… bolehkan aku memanggilmu begitu lagi?”

Varo menggertakkan rahang. Sesuatu di balik sorot mata Ares membuat darahnya berdesir  bukan karena nostalgia, tapi karena firasat buruk.

“Kau bekerja untuk siapa?” tanya Varo akhirnya.

Ares tersenyum tipis. “Untuk siapa lagi kalau bukan dia?”

Varo membeku. Dan saat ia hendak bertanya lagi, terdengar suara klik senjata dari belakangnya.
Empat orang berpakaian hitam keluar dari balik bayangan kontainer  tanpa suara, tanpa ekspresi.

Varo mendengus pelan.

“Jadi, ini permainan yang sudah disiapkan.”

Ares mendekat, menatap Varo dari jarak satu meter.

“Dia hanya ingin tahu seberapa jauh kau akan melangkah sebelum melawan.”

Sementara itu, di mansion, Elang menatap layar diam-diam.
Senyumnya samar, hampir tak terlihat.

“Sekarang kau lihat, Gavano,” katanya pelan.

“Setiap bidak hanya bergerak sejauh yang kuizinkan.”

Gavano menatap layar dengan ekspresi cemas.

“Dan kalau dia melawan, Dad?”

Elang menoleh padanya, tatapan matanya tajam namun tenang.

“Kalau dia melawan, maka dia siap menjadi seperti aku.”

Di pelabuhan, Ares menunduk sedikit, menatap mata Varo yang tetap dingin meski dikepung.

“Dia menganggapmu ancaman sekaligus harapan,” ucap Ares pelan.

“Kalau kau cukup pintar, kau akan bertahan hidup malam ini. Tapi kalau tidak…”

“Kalau tidak?” Varo memutar pergelangan tangannya pelan  di bawah lengan jasnya, pisau kecil tersembunyi siap digunakan.

“…maka aku akan menunjukkan padamu, siapa yang sebenarnya masih mengendalikan permainan.”

Satu gerakan cepat. Pisau meluncur.
Dalam sepersekian detik, suara tembakan memecah udara, bercampur dengan hujan yang mengguyur.

Api, darah, dan suara langkah kabur menyatu dalam kabut.

•••

Di ruangan bawah tanah mansion, layar tiba-tiba mati. Gavano membelalakkan mata.

“Sinyalnya putus!”

Elang menatap layar gelap itu lama.
Namun di wajahnya, tidak ada keterkejutan hanya senyum kecil yang muncul perlahan.

“Bagus,” katanya tenang.

“Berarti anak itu akhirnya belajar.”

•••

Varo berjongkok di balik kontainer, napasnya teratur meski darah menetes dari pelipisnya. Tangan kirinya menggenggam kalung perak yang kini berlumur darah. Ia menatapnya dengan tatapan dingin.

“Ayah, kau pikir aku hanya bidak?”
Ia berdiri, menatap gelapnya laut di kejauhan.

“Baiklah… mulai malam ini, aku ikut main di papanmu tapi dengan aturanku sendiri.”

Petir menyambar langit, menerangi pelabuhan yang porak-poranda. Dan di bawah cahaya sesaat itu, terlihat siluet Ares berjalan tertatih menjauh, membawa pesan yang hanya bisa disampaikan kepada satu orang:

> “Dia sudah berubah, Tuan. Sama berbahayanya seperti dulu.”

•••

Jangan lupa vote, comment💗

TRANSMIGRASI ALVARO [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang