28

1.2K 58 10
                                        

Happy reading
Jangan lupa vote, comment

Malam turun pelan di atas langit kota.
Cahaya lampu menyusup di sela jendela tinggi apartemen tempat Varo berdiri, menatap pantulan dirinya di kaca.
Jas hitam yang dikenakannya terlipat sempurna, dasinya rapi, tapi di balik kesempurnaan itu, pikirannya berputar cepat seperti mesin perang yang siap beroperasi.

Di tangannya, kartu hitam dengan tulisan ‘Waktunya pulang – E’ masih terselip di antara jemari.

Varo memutar kartu itu sekali lagi, seolah ingin menafsirkan pesan tersembunyi di balik tinta.

“Dia tidak akan memanggilku kalau bukan untuk menguji sesuatu,” gumamnya. Suaranya tenang, tapi matanya tajam  seperti pisau yang baru diasah.

Ares berdiri di belakang, diam.
Sejak malam di pelabuhan, hubungan keduanya berubah. Tidak ada lagi kepercayaan penuh, hanya kesepakatan yang terjaga oleh kebutuhan dan rasa saling tahu bahwa pengkhianatan bisa datang dari arah mana pun.

“Persiapannya?” tanya Varo tanpa menoleh.

“Sudah semua, Tuan. Jalur aman, kendaraan cadangan di posisi dua, dan tim peninjau sudah menyebar di sekitar mansion.”

“Bagus.” Varo menatap refleksi Ares di kaca.

“Ares, kau tahu apa yang paling berbahaya dari seorang Elang?”
Ares menunduk sedikit.

“Ketika dia diam, Tuan.” Varo tersenyum tipis.

“Benar. Dan malam ini, dia sudah terlalu lama diam.”

Ia mengambil mantel panjang hitamnya dan berjalan keluar tanpa banyak bicara. Langkah-langkahnya bergema di lorong marmer yang sunyi, setiap detiknya terasa seperti detak waktu menuju permainan terakhir.

Dalam mobil, kota tampak seperti labirin cahaya dan bayangan.
Varo duduk di kursi belakang, jari-jarinya mengetuk perlahan di atas lutut. Matanya menatap ke luar, tapi pikirannya jauh lebih dalam  memutar ulang tiap langkah, tiap kata yang mungkin akan digunakan Elang nanti.

Bagi orang lain, undangan itu mungkin terasa seperti ajakan damai. Tapi bagi Varo, itu adalah sinyal perang dalam bentuk paling halus. Dan ia tahu, dalam permainan ini, yang bicara terlalu cepat akan kalah lebih dulu.

Ares meliriknya melalui kaca spion.

“Anda terlihat tenang, Tuan.”
Varo menatap balik dengan senyum samar.

“Ketika seseorang berpikir kau tenang, itu artinya mereka berhenti memperhatikan apa yang sedang kau siapkan.”

Hujan mulai turun, menampar kaca mobil dengan ritme lambat.
Di setiap tetesnya, Varo seperti mendengar gema masa lalu  suara senjata, jeritan, dan perintah-perintah dingin yang dulu pernah ia lontarkan di dunia lamanya.

Ia tahu mengapa Elang memanggilnya.
Karena kini, dirinya yang baru mulai terlihat terlalu mirip dengan Varo Leone yang lama.

“Dia sudah tahu,” gumamnya pelan.
Ares menatapnya dari depan.

“Tentang… siapa Anda sebenarnya?”
Varo mengangguk sedikit.

“Dan itu berarti… permainan lama akan dimulai lagi.”

•••

Mobil berhenti di depan mansion.
Bangunan besar itu berdiri di tengah taman sunyi, diterangi cahaya lampu kuning redup. Segalanya tampak sama  pohon tua, gerbang besi hitam, bahkan patung singa batu di sisi kanan masih menatap dingin seperti dulu.

Namun malam ini, semuanya terasa berbeda. Bukan rumah. Tapi arena.

Varo turun perlahan. Udara malam menusuk dingin ke kulit, tapi ia tidak bergeming. Setiap langkah menuju pintu utama terasa seperti ujian sabar  langkah seorang anak yang kembali ke sarang, tapi tidak lagi sebagai anak.

TRANSMIGRASI ALVARO [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang