Happy reading
Jangan lupa vote, comment
Hujan mengguyur tanpa jeda sejak sore, membasahi halaman luas mansion keluarga Elang. Suara tetes air di atap seperti denting jam yang menghitung waktu menuju sesuatu yang besar.
Di kamar lantai atas, Varo berdiri memandangi jendela kaca, matanya kosong, namun pikirannya berputar tajam.
Sejak pertemuan terakhir dengan Elang, ia tahu satu hal pasti Daddy nya tidak pernah berhenti bermain.
Setiap tekanan, setiap “ujian” yang diberi padanya hanyalah cara halus untuk mengendalikan arah hidupnya.
Namun malam ini, Varo tidak berniat hanya menjadi pion. Sudah saatnya bidak itu berjalan ke sisi lain papan.
Ia membuka panel rahasia di balik dinding sebuah terminal data kecil yang ia rakit sendiri, tersembunyi dari jaringan mansion. Di layar, peta digital dengan garis merah menyala menampilkan pergerakan orang-orang di bawah Elang.
Tapi yang membuat napas Varo berhenti sesaat adalah notifikasi kecil di pojok layar
> Sinyal Lama Terdeteksi — Kode Leone.
Sumber: Pelabuhan Utara.
Nama itu.
Leone keluarga yang dulu menjadi simbol kekuatan mafia internasional, tempat dirinya berasal sebelum transmigrasi. Dan kode itu… hanya satu orang yang bisa menggunakannya.
Ares.
Varo menarik napas panjang, menggenggam cincin perak di jarinya satu-satunya peninggalan dari kehidupan lamanya.
“Jadi kau benar-benar di sini, Ares.”
•••
Pelabuhan Utara, tengah malam.
Kabut laut menebal, menelan cahaya lampu jalan yang berkelip samar.
Langkah Varo terdengar teratur di antara genangan air, setiap gerakannya tenang, penuh perhitungan.
Di ujung dermaga, sebuah bayangan berdiri tegak di bawah lampu kuning pucat. Jas panjang hitam, sarung tangan kulit, dan kalung logam bergoyang ringan di dada. Sosok itu menunduk sedikit ketika Varo mendekat.
“Tuan,” ucapnya datar namun tegas.
Nada itu rendah, penuh disiplin. Nada yang dulu selalu menyertai setiap laporan di markas Leone.
Varo berhenti tiga langkah di depannya.
“Kau masih memanggilku begitu.”
“Dan selalu akan begitu,” jawab Ares tanpa mengangkat kepala.
“Sampai kau memerintah sebaliknya.”
Varo memandangi bawahannya lama. Ares tidak berubah tubuh tegap, mata dingin, sikap penuh hormat tapi berbahaya.
“Hidup setelah kehancuran markas seharusnya mustahil,” kata Varo pelan.
“Tidak jika seseorang menyelamatkan saya,” jawab Ares.
“Seseorang yang mengenal Tuan lebih baik daripada siapa pun.”
Varo menajamkan mata. “Elang.”
Ares mengangguk pelan.
“Dia memerintah saya diam sampai saatnya tiba. Tapi saya datang malam ini bukan atas perintahnya. Saya datang karena permainan ini sudah mulai melampaui batas.”
“Permainan?” Varo mendekat, suaranya lebih rendah.
“Kau bicara seolah dia masih mengaturku.”
Ares menatapnya lurus.
“Karena itu kenyataannya, Tuan. Elang tahu siapa Tuan sebenarnya. Dia tahu tentang Leone, tentang markas yang runtuh, bahkan tentang darah yang mengalir di tangan Tuan sebelum semua ini dimulai.”
KAMU SEDANG MEMBACA
TRANSMIGRASI ALVARO [End]
AksiAlvaro Almaraja Aston dikenal sebagai murid bermasalah. BK adalah tempat yang hampir setiap hari ia datangi. Kenakalan itu bukan tanpa alasan, Alvaro hanya ingin satu hal: perhatian dari orang tuanya yang tak pernah ia dapatkan. Hidup sebagai anak b...
![TRANSMIGRASI ALVARO [End]](https://img.wattpad.com/cover/359839263-64-k567788.jpg)