23

1.1K 58 2
                                        

Happy reading
Jangan lupa vote, comment


Hujan belum berhenti sejak sore.
Langit seperti menahan segala cahaya, menutup kota dengan selimut kelam yang menekan. Di ruang bawah tanah mansion keluarga Elang, suara langkah bergema pelan di antara deretan layar yang menampilkan puluhan rekaman pengawasan.

Elang berdiri di tengah ruangan itu, diam menatap layar utama.
Rekaman menampilkan sosok Varo  berjalan di lorong perusahaan, berbicara dengan staf, menandatangani berkas, semua gerakan teratur, tenang, presisi.

Terlalu presisi.
Terlalu familiar.

Elang menyipitkan mata, memutar ulang rekaman dari beberapa hari terakhir. Gerakan tangan. Tatapan mata. Cara Varo menyusun kalimat ketika memberi perintah. Semua pola itu sama persis seperti seseorang yang ia kenal… dua belas tahun lalu.

“Sial,” gumamnya lirih.

Tangannya mengepal di sisi tubuh, dingin merayap ke ujung jari.

Seseorang mengetuk pintu besi dari luar. Tanpa menoleh, Elang berkata,

“Masuk.”

Langkah berat terdengar mendekat. Gavano muncul, wajahnya kaku. Di tangannya, sebuah amplop hitam.

“Dad… laporan tambahan dari tim di luar negeri. Dan ada satu kiriman khusus tanpa nama pengirim.”

Elang menatapnya sejenak, lalu mengambil amplop itu. Isinya tipis hanya satu foto dan selembar kertas dengan tulisan tangan.

Foto itu memperlihatkan seorang pria muda dengan jas hitam, berdiri di antara reruntuhan bangunan.
Tatapan matanya tajam, ekspresinya dingin. Di lehernya, kalung perak yang sama seperti yang Varo pegang malam di pelabuhan.

Dan di bawah foto itu, tertulis singkat.

> “The First Heir of Leone Syndicate Varo Alaric Leone.”

Gavano menatap ayahnya bingung.

“Siapa dia, Dad?”

Elang tidak menjawab. Matanya masih terpaku pada tulisan itu, dan pada wajah di foto wajah yang identik dengan Varo anaknya.

Dari sela bibirnya, keluar desahan lirih,

“Jadi kau memang bukan milikku…”

•••

Beberapa jam kemudian, Elang duduk di ruang kerja pribadi. Asap rokok menebal di udara, sementara di depannya, laptop menampilkan pesan terenkripsi yang baru saja ia buka  kiriman dari kontak lama, seseorang yang hanya ia kenal dengan inisial A.

> “Kau menanyakan tentang nama itu  Varo Leone.

Dia pewaris sah sindikat internasional yang dulu beroperasi di bawah bendera keluarga Leone. Mati enam tahun lalu… atau setidaknya, itu yang semua orang kira.”

Elang membaca berulang-ulang. Matanya tajam tapi pikirannya berputar cepat, menghitung kemungkinan. Jika benar orang itu mati, bagaimana mungkin wajah dan pola geraknya kini muncul di tubuh anaknya sendiri?

Pintu terbuka pelan. Gavano masuk lagi, ragu.

“Dady, kau belum istirahat....”

“Diam,” potong Elang perlahan, tanpa menoleh.

“Gavano… saat kau memandang adikmu, apa yang kau lihat?”

Gavano terdiam sejenak.

“Varo. Seorang yang keras kepala, dingin, dan… sulit ditebak.”

TRANSMIGRASI ALVARO [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang