20

1.6K 73 6
                                        

Happy reading
Jangan lupa vote, comment

Fajar baru menembus jendela kaca besar di ruang utama mansion keluarga Elang. Cahaya keemasan memantul di lantai marmer, menyingkap bayangan panjang seorang pria muda yang berdiri diam di tengah ruangan itu Varo.

Ia baru kembali. Setelah malam yang berlumur darah dan kabut, setelah pelabuhan yang terbakar tanpa jejak, setelah wajah Ares yang lenyap di balik asap. Namun di hadapan siapa pun, ia tidak menunjukkan luka. Hanya setelan hitam yang tampak rapi, rambut disisir ke belakang, dan ekspresi tenang seperti biasanya.

Langkah kaki berat terdengar dari arah koridor. Elang muncul, masih dengan pakaian formal abu gelap, aroma tembakau samar mengikuti tiap gerakannya. Ia berhenti di depan Varo, memandang anaknya lama  tatapan yang sulit dibaca, seperti sedang menimbang sesuatu di dalam pikiran.

“Pagi yang tenang, bukan?” suara Elang datar.

Varo menunduk sedikit. “Ya, Dad.”

“Tenang,” Elang mengulangi kata itu pelan.

“Lucu, bagaimana sesuatu bisa terlihat begitu tenang bahkan setelah kekacauan terjadi.” Nada suaranya nyaris seperti gurauan, tapi setiap suku kata terasa tajam.

Varo menahan napas, tapi tetap menjaga nada suaranya.

“Aku tidak mengerti maksudmu.”

Elang menatapnya lebih dalam. “Kau tidak perlu mengerti. Kau hanya perlu siap.”

Ia berjalan pelan menuju meja besar di ujung ruangan, menekan satu tombol di panel digital. Layar besar muncul menampilkan serangkaian grafik dan laporan.

“Mulai hari ini,” ucap Elang tenang,

“kau akan mengurus cabang utama perusahaan. Gudang ekspor, divisi logistik, dan semua laporan keluar masuk barang semuanya di bawah kendalimu.”

Varo menoleh cepat. “Semua…? Itu terlalu luas untuk satu orang.”

“Begitu juga dengan ambisimu,” Elang menimpali, datar tapi tegas.

“Kau ingin membuktikan kemampuanmu, bukan? Maka lakukan.”

Varo menatap grafik-grafik angka, data, jadwal pengiriman. Semua penuh detail rumit dan tersembunyi di baliknya, jalur senjata yang selama ini hanya dipegang langsung oleh Elang dan Gavano.

“Kenapa mendadak memberiku ini?” tanya Varo akhirnya.

Elang menatapnya tanpa senyum.

“Karena aku ingin tahu apakah kau akan melarikan diri dari tanggung jawab atau menggunakannya untuk melawanku.”

Ruangan itu membeku. Varo hampir tak berkedip. Setiap kata sang ayah seperti paku yang menancap di dinding pikirannya.

Ia menunduk sedikit, lalu menjawab pelan,

“Aku akan lakukan dengan benar.”

Elang tersenyum tipis. “Aku tahu kau akan bilang begitu.”

Ia berjalan melewati Varo, lalu berhenti tepat di sampingnya, berbisik rendah, hampir seperti bisikan rahasia.

“Setiap orang punya batas, Nak. Aku hanya ingin tahu kapan kau akan mencapai punyamu.”

•••

Seharian penuh Varo terkunci di ruang kerja baru ruangan kaca di lantai atas yang langsung menghadap taman belakang mansion. Tumpukan dokumen menutupi meja. Telepon berdering tanpa henti.

Setiap laporan yang ia buka, selalu ada sesuatu yang tidak wajar nama yang dihapus, tanda tangan yang diganti, catatan dengan tinta berbeda. Dan setiap kali ia hampir menemukan pola, ada panggilan baru, pesan baru, tugas baru.

TRANSMIGRASI ALVARO [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang