30 end

965 45 4
                                        

Happy reading
Jangan lupa vote, comment

Pagu itu hujan turun deras, menutup seluruh kota dalam selimut abu-abu.
Mansion keluarga Leone tampak lebih sunyi dari biasanya seperti rumah yang baru saja kehilangan sesuatu, meski tak ada yang tahu apa.

Di ruang kerjanya, Elang berdiri di depan jendela besar, menatap derasnya air yang menghantam kaca. Tangannya menggenggam cangkir kopi yang telah lama dingin, sementara pikirannya melayang pada rencana yang ia susun begitu rapat selama berbulan-bulan.
Rencana yang hari ini... akhirnya selesai.

Di meja, layar besar menampilkan wajah-wajah anggota dewan keluarga.
Mereka sudah menerima bukti penggelapan dana, transaksi ilegal, dan komunikasi rahasia yang semua mengarah pada satu nama Varo Leone.

Semuanya sesuai rencana. Kecuali satu hal anak itu tidak datang ke pertemuan.

"Dia tidak muncul?" suara Gavano dari pintu.

Elang tidak menjawab. Ia hanya memandangi layar yang kini menampilkan pesan otomatis dari sistem

"Sinyal target: tidak terdeteksi."

Gavano menatap ayahnya, suaranya pelan.

"Apakah ini... bagian dari rencana juga, Ayah?"

Elang menaruh cangkirnya perlahan.

"Bukan. Tapi mungkin, ini hasilnya."

•••

Malam sebelumnya. Hujan belum turun, tapi udara di pelabuhan lama terasa berat, berbau garam dan besi tua.

Varo berdiri di bawah bayangan kontainer yang sama tempat ia dulu bertemu Ares. Di tangannya, selembar pesan pendek dari Ares

> "Aku menemukan sesuatu yang harus kau lihat sendiri. Datanglah malam ini. Sendirian."

Ia tahu itu bisa jadi jebakan. Tapi firasatnya entah mengapa membuatnya datang juga. Langkahnya hening, tajam, penuh waspada.

Dan benar saja. Ketika ia tiba di titik pertemuan, Ares sudah menunggu. Tapi kali ini, wajahnya bukan seperti dulu.
Dingin. Terlalu tenang untuk disebut sekadar profesional.

"Kau datang," kata Ares pelan.
Varo hanya menatapnya, matanya menyipit.

"Kau bilang menemukan sesuatu. Apa ini tentang Elang?"

Ares tersenyum tipis.

"Ya... dan juga tentang dirimu."

Dari balik kabut, dua mobil hitam muncul. Lampunya menembus hujan yang baru mulai turun, memantulkan bayangan aneh di permukaan air.
Pintu terbuka. Enam orang keluar, semuanya berseragam hitam, tanpa lambang.

Varo menegang.

"Kau menjebakku." Ares menunduk sedikit.

"Bukan menjebak. Menyelamatkanmu."

"Dengan cara seperti ini?"

"Dengan cara apa pun yang diperlukan," jawab Ares dingin.

"Tuan Elang bilang, kalau kau terus melangkah di jalur ini, seluruh keluarga akan ikut hancur. Ia hanya ingin menyelamatkanmu sebelum itu terjadi."

Varo tertawa pelan. Nada tawanya dingin lebih seperti helaan napas seseorang yang sudah terlalu sering dikhianati.

"Lucu. Jadi sekarang kau bekerja penuh untuknya, bukan untukku."

"Dia menyelamatkanku," kata Ares.

"Ketika markas terakhir kita runtuh, yang menarikku keluar bukan kau... tapi dia."

TRANSMIGRASI ALVARO [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang