11

4K 198 14
                                        

Apa maksudnya ini? Tanya varo dalam hati. Mengapa ia di suruh duduk di bawah sementara mereka di atas dan aku seperti... Seperti seorang pelayang.... Fuck.

Mereka seperti ingin mengintrogasiku, tapi apa salahku?

"Reflect on your mistakes." Ucap Elang yang membuat Vrao bingung.

Varo tetap diam, ia capek ia ingin ke kamarnya beristirahat. tapi kenapa ini ia di suruh merenungi kesalahan, ia tak punya kesalahan.

"Kau sudah tahu betuh, bahwa setiap tindakan yang kau lakukan akan ada konsekuensinya. Jadi persiapkan dirimu untuk hukumanya." Elang berucap dengan penuh penekanan, tajam dan datar. Aura dominan begitu kuat.

•••

Aku hanya diam, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya, sungguh aku merasa lelah.

"Boy, kau tau kesalahanmu?" Tanya Elang dengan datar.

"Tidak dad." Jawab Varo dengan jujur, karena ia tidak merasa punya kesalahan. Ia hanya mampir ke bar dan bar bukan tempat larangan untuk Varo.

Ruangan tiba tiba hening, tapi auranya sangat mencengkram, masing masing menatap Varo dengan tajam.

"Baiklah seperti daddy yang harus menjelaskan. Kau jelas tau boy bahwa selesai sekolah harus datang ke kantor daddy yang ada di xxx. Tapi lihatlah, kau malah datang ke bar dan minum minum di situ. Apakah kau melupakan peraturan daddy no 14  boy?" Jelas Elang dengan suara dingin dan tatapan yang tidak tersentuh.

aku memang sengaja, aku muak di atur untuk mengelola perusahaan, dan aku hanya ingin melakukan sesuatu yang menyenangkan di kehidupan yang terjebak di raga orang ini.

"Setelah sekolah, aku harus belajar mengelola perusahaan jika tidak, akan ada konsekuensinya." Beber varo menjawab peraturan no 14 yang di maksud.

"Good boy, kau mengingatnya tapi dengan sengaja kau juga melanggarnya, tunggu daddy di ruang latihan." Elang berucap dengan nada yang rendah dan dingin. Setiap kata yang di ucapkannya terdengar seperti perintah yang tidak terbantahkan.

Aku berjalan menuju ruang latihan seperti yang daddy maksud, aku berjalan di belakang daddy dan di jaga ketat oleh bawahan daddy, sehingga jika memikirkan untuk kabur lari sedikit saja tidak bisa.

Setelah sampai ruang latihan, aku sedikit heran, karena  daddy menyuruhku untuk duduk di depannya, dan apa itu?..... itu alkohol?.... alkohol untuk apa?

"Son, minumlah." Ujar daddy elang menyodorkan satu botol vodka yang membuatku semakin bingung.

"Maksudnya dad?" Tanyaku.

"Minum." Elang berucap dengan dingin dan tidak mau terbantahkan sama sekali

Varo menerima satu botol vodka yang di sodorkan, ia tidak bodoh untuk mengerti apa maksud sebenarnya, tapi ia juga tidak bisa mengerti apa yang akan terjadi, dan kenapa harus meminum vodka.

Sebelum Varo membuka tutupnya, mata jeli Varo melihat bahwa kadar vodka yang ia pegang 55% yang artinya jika ia harus menghabiskan 1 botol ini, dan sialnya ia juga sudah minum 1 botol di bar tadi.

Varo memang cukup kuat untuk minum, tapi di kehidupan sebelumnya, tapi tidak dengan kadar alkohol setinggi ini, jika dengan kadar alkohol setinggi ini, ia juga tidak menghabiskan 2 botol dengan hanya beberapa jam saja.

Varo membuka tutup botolnya, karena ia sudah di tatap tajam oleh sang daddy, di tambah bawahan daddynya yang mengelilinginya seperti seorang tawanan.

Varo mulai menengguk vodka yang ada di botol dan tak terasa sudah setengah botol ia tegukkan. Baru setengah botol tapi ia sudah merasakan pusing dan badannya sedikit panas.

Di tambah pandanganya sudah mulai mengabur, yap sepertinya Varo sudah mulai mabok disini.

"Habiskan son." Ucap elang yang menuntut.

Dengan cepat Varo menengguknya hingga habis dan efeknya sudah sangat terasa di tubuhnya, pandanganya sudah tidak terlalu jelas, pusing, badanya juga panas.

"Good boy, mari buat taruhan dengan daddy, daddy dengar jika sekarang kau sudah jago dalam menggunakan senjata menemba." Daddy berucap dengan nada tajam tetapi santai.

"Daddy mau apa?" Tanya Varo to the point meskipun ia sudah sulit untuk mengendalikan dirinya sendiri

"Tembak itu, jika meleset akan ada hukuman." Elang berucap dengan tegas, tanganya menunjuk pada botol vodka yang berjarak 10 meter dari ia duduk.

Pengawal Elang sudah menyerahkan pistolnya ke meja tempat Elang dan Varo duduk.

Sementara Varo sekarang kondisinya jelas sudah mabok, ia sangat susah untuk memgokuskan diri sendiri. Rasanya dunia ini seperti berputar putar.

Tetapi, diam diam Elang tersenyum kecil melihat putranya yang dulu lemah,  sekarang sudah berubah. Ia yakin, segala rencana yang ia persiapkan untuk sang putra perlahan akan berhasil, hanya menunggu waktu untuk mewujudkanya.

"sial, ini rencana daddy."

Varo berucap di dalam hati kala pusing terus terusan melanda tubuhnya.

Ia tidak bisa untuk menembak, tubuh di kehidupan dulu dan sekarang jauh berbeda, Varo akui tubuh yang sekarang lebih lemah di banding yang dulu.

Varo meraih pistol yang di sodorkan sang pengawal, ia menggenggamnya lalu mulai membidiknya, tapi.... sial sungguh sial.... ia tidak bisa melihat dengan fokus.

Pusing menjadi kendalanya saat ini, ia mencoba memfokuskan pada botol itu, tapi? pandangannya mengabur, botol pertama yang akan ia tembak, tapi..... berubah menjadi 2 efek pandangan mengaburnya.

Dor

Dengan segala kemantapan, keyakinan Varo ia meloloskan satu peluru, dan yap tepat sasaran, sisa 1 botol lagi yang akan ia bidik, tapi pusing ini semakin menjadi jadi.

"Good boy, lakukan satu lagi maka akan terbebas dari hukuman, atau gagal maka akan mendapat hukuman yang sebenernya." Elang memberi pujian pada Varo karena berhasil menembak 1 botol.

Varo tau, ini semua rencana daddy, ntah apa yang ia inginkan dan ini hanya penampilan kecil untuk membuat daddy nya tau varo sudah benar benar berubah.

Ia juga tak berani untuk perotes sedikitpun, melihat di belakang snag daddy, pengawalnya yang selalu sigap dan parahnya ada 1 pengawal yang menodongkan senjata ke Varo.

Varo mulai membidik botol yang terakhir, tapi Varo sungguh rasanya ingin muntah  karena efek dari maboknya, pusing yang semakin ke sini semakin menjadi.

Varo menjatuhkan pistol itu ke lantai, tangan yang ia genggam pistol sudah bertumpu pada lantai, tanda ia semakin pusing dan sungguh sangat susah untuk berdiri.

"Dad, aku tidak bisa." Varo berucap dengan menahan pusing.

"Son, seharusnya sudah tahu dari dulu, bahwa daddy tidak suka di bantah, apa yang daddy inginkan harus terpenuhi, daddy tidak suka anak yang lemah, keturunan kita tidak ada yang lemah." Elang berucap dengan tegas.

Varo mencoba mengambil pistol yang terjatuh tadi, dan ia mulai membidik targetnya.

Dor...

sial sungguh sial, itu lah yang ada di benak Varo sekarang, ia meleset, peluru itu tidak terkena pasa botol.

Varo tak habis sangka, apa yang di inginkan daddynya ini, ah ralat dia bukan daddy varo yang asli. Tetapi, ia yakin ini semua permainan sang daddy agar Varo terjerumus ke permainannya dan menjadi bonekanya.

"Baiklah son, karena gagal, maka hukumanya....."

segini dulu gys

hiii, maaf ya terakhir up bulan 11, dan up lagi bulan 4. banyak banget yang terjadi yang bikin aku menunda untuk menulis.

dan author mau ngucapin banyak banyak terimakasih, khususnya buat yang vote dan comment. terimakasih banyak ya, dengan kalian comment "next" "lanjut" itu sebuah dukungan yang membuat author terharu, merasa karya yang ia tulis di hargai.

dan, tetap jaga kesehatan ya teman teman.

see u next chap😁🙏🏻

TRANSMIGRASI ALVARO [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang