Hiii, adakah yg masih simpan work ini di library? wkwk
Sebenernya ini udah lama bgt ada di draft tapi isinya kayak percakapan doang huhu... tapi sayang kalau gak di upload, jadi anggap saja ini bonus yaa... throwback sebelum Alvan dan Rania dikaruniai anak yang kedua.
enjoyyy~~~ yuk mampir di work ku yg lain, thank you!
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Alvan percaya bahwa cinta bisa tumbuh karena terbiasa. Ia bisa melihat semakin hari, Rania semakin perhatian kepadanya. Ia sangat bersyukur akhirnya Rania membalas perasaannya. Malam itu, Rania mengeluarkan isi belanjaan yang ia titip pada suaminya sepulang Alvan dari kantor. Ia terkejut mendapati benda yang tidak masuk ke dalam daftar belanja yang ia kirim pada suaminya sore itu. Berhubung di rumah hanya ada mereka berdua, ia pun langsung bertanya pada sang suami yang sedang mencuci tangannya di wastafel.
"Mas, beli kondom?" tanyanya to the point.
Alvan mengangguk salah tingkah. "Kenapa?" Rania kembali bertanya.
"For... protection?" jawab Alvan sambil mengerutkan keningnya karena sejujurnya ia masih bingung menjelaskan alasannya pada sang istri.
"What do you mean?" tanya Rania untuk ketiga kalinya.
"Aku takut kamu hamil," Alvan akhirnya menjawab jujur. Kini ia berdiri di samping sang istri setelah mengeringkan tangannya.
"Emang kenapa kalau aku hamil? Kan kita udah nikah," jawab Rania yang masih tampak bingung.
"Sayang, maaf kalau jawabanku bikin kamu bingung. Tapi, aku pengen kamu sembuh dulu. Aku gak mau bikin kamu tambah repot dengan kehamilanmu andaikan nanti Tuhan menitipkan buah hati pada kita." Alvan tentu saja ingin punya anak dari Rania, tapi mengingat kondisi sang istri yang belum pulih total, ia tidak boleh egois.
"..."
"Aku pengen kamu fokus sama terapi kamu dulu sampai sembuh total," lanjut Alvan yang kini menyentuh kedua tangan sang istri untuk menenangkannya.
Rania tidak menjawab melainkan beringsut memeluk sang suami. Betapa beruntungnya ia memiliki Alvan. "Makasih ya, Mas. Aku sayang Mas Alvan."
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Beberapa bulan kemudian, akhirnya Rania sudah bisa berjalan normal tanpa bantuan tongkat lagi. Malam itu, ia pun menghampiri sang suami yang masih sibuk dengan laptopnya. Ia pun meletakkan minuman hangat yang diminta sang suami.
"Mas, sibuk banget sampai jam segini masih buka laptop," ujarnya sedikit menyindir sang suami. Rania tahu bahwa sang suami juga perlu istirahat.
"Dikit lagi, Yang," jawab Alvan yang masih fokus dengan laptop di depannya.
"Sibuk banget sampe istrinya dicuekin," ucap Rania sedikit merajuk.
Oke, Alvan yang tahu istrinya sedang kesal, akhirnya menutup laptopnya. Ia tahu bahwa hari ini ia cukup cuek dengan sang istri karena deadline yang menanti.
"Maaf ya, Sayang. Seharian ini aku gak ngabarin kamu."
Rania kemudian beringsut memeluk sang suami. Hal itu membuat tanda tanya besar di kepala Alvan, tumben sekali sang istri manja begini?
"Ada apa, Yang? Tumben peluk aku duluan?" ucap Alvan sambil mengelus kepala sang istri yang tengah bersandar di dadanya.
"Mas pengen punya anak gak?"
"Hmm? Kenapa tiba-tiba nanya itu?"
"Mas gak pernah bahas soal anak sama aku."
Hening di antara keduanya.
