Sawamura Eijun, jadi Ace tim Seido di tahun keduanya. Namun ia hilang disaat Seido berhasil ke Koshien musim semi, ia begitu saja meninggal seido saat musim dingin, di bulan oktober. Dua tahun kemudian Seto Takuma dan Okumura Khooshuu memasuki tahu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Miyuki tercengang saat melihat data yang diberikan oleh Teri, ia kini tengah duduk bersama dengan tiga orang lain yang tengah menatapnya. "I... ini... mustahil, anak-anak itu adalah anakku dan Eijun? Bagaimana mungkin........." Miyuki sedikit mengerutkan alisnya.
"Kami tahu mungkin bagi Anda dan semua orang tidak mungkin pria hamil dan melahirkan, tapi itu nyata, dan kami bisa jelaskan semua...."
"Apa Eijun baik-baik saja? Kenapa dia tidak... menggugurkannya?" Miyuki berkata dengan sedikit tekanan.
Semua orang saling pandang, Ryo sedikit menghela napas. Kalau saja Eijun ada di sini, ia mungkin akan berteriak histeris, dan memperburuk situasi mentalnya. "Apa itu artinya kamu tidak mau mengakuinya?" Tanya pria dewasa itu dengan lembut.
"Tidak, saya tidak mengatakan tidak mengakui anak-anak itu. Hanya saja apa dia terpaksa melahirkan anak-anak itu, misal lebih berbahaya menggugurkannya........."
"Tidak...." Ryo membantah apa yang diasumsikan Miyuki. "Justru itu jalan terbaik... Hanya saja Tuan Sawamura tidak mau melakukannya, dia ingin melahirkan anak-anaknya dan meninggalkan semuanya demi anaknya, meninggalkan yang akan jadi ancaman pada hidup anak...."
"Termasuk saya?" Miyuki tersenyum pahit. Eijun seharusnya lebih percaya padanya, seharusnya ia bisa tahu kondisi Eijun secepat mungkin dan ia akan memenuhi keinginan Eijun apapun itu, Miyuki akan bekerja keras untuknya.
"Ya, dia takut Anda akan memisahkannya dengan anak-anaknya, dia takut Anda mengambil anak-anaknya dan mencarikan ibu bagi mereka." Pria tertua dari ketiga pria yang ada di ruangan itu berkata dengan tenang.
Miyuki sedikit tersenyum. "Lalu kenapa Anda memberitahu saya, jika Sawamura tidak ingin memberitahu saya?"
"Karena tidak ada waktu..."
"Waktu?"
"... Anak-anak Anda memiliki kelainan, Misa terkena sindrom X0 dan Junya memiliki kekebalan sangat rendah hingga harus minum obat untuk menjaga kesehatan. Hanya saja itu pedang bermata dua, akibat minum obat-obatan dari umur lima bulan itu membuatnya kelebihan sel darah putih dan menjadi kanker darah tahap dua..."
"Sebenarnya kami ingin melakukan pengobatan untuk kekebalan Junya di Amerika tapi harus menunggu sampai umurnya lima tahun, tapi kanker darahnya harus secepatnya ditangani. Sebenarnya kami sudah menjadwalkan pencangkokan sumsum tulang belakang pada Junya dari Tuan Sawamura, dan sekarang keadaannya tidak memungkinkan untuk mengambil sumsum tulangnya, sedangkan penyakit Junya cepat menjalar tiap detik menyakitinya makin parah, jadi..."
"Berapa hari sampai aku bisa pulih dari operasi itu?" Miyuki memotong lanjutan dari perkataan dokter itu.
Sang dokter mengangkat alis. "Sampai bisa bermain lagi sekitar dua bulan."
"Dua bulan... Teri, hubungi manajer klub dan katakan aku meminta cuti sakit tiga bulan..."
"Ah? Kau menyetujui untuk operasi?" Teri sedikit terkejut dengan mudahnya Miyuki menyetujui, ia pikir akan ada penolakan, seperti di drama-drama.
"Why? Apa aku terlihat seperti playboy yang brengsek dan tak mau tahu tentang kekasih dan anaknya?"
Semua yang ada di sana saling tatap dan berpikir hal yang sama. 'Terlihat seperti itu.'
"Baiklah, aku akan urus semua. Tapi apa alasannya?" Teri berkata sambil tersenyum, ia akhirnya bisa lega karena Kazuya bisa menunjukkan kedewasaannya, bertanggung jawab.
"Terus terang saja, katakan padanya aku jadi donor leukemia. Oh... bisakah aku bertemu mereka?" Miyuki berkata dan menoleh pada dokter setengah baya.
"Tentu, Anda bisa bertemu anak-anak sekarang."
...................
Di ruangan yang sunyi, hanya terdengar suara mesin monitor jantung.
Mata yang tertutup tenang kini bergerak, dahinya berkerut, kelopak matanya mulai terbuka memperlihatkan bola mata coklat keemasan yang redup. Ia tak tahu berapa lama matanya tertutup, bibirnya kering.
Pemuda yang terbaring, untuk beberapa saat hanya diam, mencerna apa yang terjadi dengannya. Setelah memorinya terkumpul ia membulatkan mata, ia ingin bangun namun tubuhnya kesakitan.
Eijun berusaha bersuara namun suaranya terlalu kecil, pada akhirnya ia merentangkan tangan berusaha terkulai hanya untuk mengangkat tangan.
Ketika itu pintu ruangan terbuka dan seseorang masuk. Ibu Eijun terdiam melihat putranya akhirnya membuka matanya. "Eichan...." setengah berlari ia menghampiri tempat tidur Eijun.
"Ibu?... ah, Misa mana?" Eijun bertanya dengan suara serak dan pelan. Wanita yang akan memeluk anaknya itu berhenti. Ia tersenyum beberapa saat kemudian.
"Dia baik-baik saja...." Wanita empat puluh tahunan itu membelai pipi anak kesayangannya. "Tenanglah. Semuanya baik-baik...."
"Junya tidak baik-baik saja, ibu... sekarang tanggal berapa?" Eijun panik, ia tidak tahu berapa lama komanya, semoga tak terlewat jadwal pengambilan sumsum tulang belakangnya, harapan Eijun.
"Tenanglah, nak. Junya sudah dioperasi, sekarang sedang pemulihan." Ibunya menenangkan.
Mengerutkan dahi, Eijun bertanya-tanya siapa pendonornya, tidak mungkin kan menemukan donor yang cocok di luar ayah dan ibunya dengan cepat, kecuali.... "Siapa donornya, Bu?"
Dengan pertanyaan itu, Ibu Eijun sedikit menunjukkan kekhawatiran di wajahnya, ia berdehem. "Kamu fokus dulu penyembuhan, Eijun. Nanti setelah kau pulih bertanyalah apa saja, ya."
........................
"Boleh kita bicara, Kazuya?" Wanita berpakaian formal memasuki ruangan pasien. Miyuki Kazuya, sang jenius catcher yang terbaring di tempat tidur dengan sedikit pucat, ia mengangguk pada kakak sepupuhnya juga manajer pribadinya.
"Ada apa, Teri?" Miyuki sedang membaca buku, menoleh.
"Eijun sudah bangun...." Miyuki menutup buku yang ada di tangannya, menatap sepupunya. "Tidak boleh bertemu dulu, kami khawatir dia akan panik dan melakukan hal berbahaya bagi diri dan anak-anak, kau mengerti?"
"....Ok." Miyuki menghela napas.
"Dan ibumu tahu kau dirawat di sini." sambung Teri yang membuat Miyuki menatap serius manajer pribadinya. Menaruh buku di meja makan rumah sakit, ia berdecak tak suka.
"Sejauh mana ibu tahu..." tanyanya dengan mengerutkan dahinya, menekan kacamatanya.
"Mungkin, hanya kau dirawat saja, tapi dia bilang akan ke mari sore ini." Teri berkata tak yakin, ia tak tahu sejauh mana bibinya tahu tentang apa yang terjadi pada Miyuki. Terlalu sulit untuk membaca pikiran bibinya itu.
"Pindahkan Sawamura dan anak-anak ke kamar ibu-anak VVIP yang di ujung lantai 28." Miyuki memerintahkan, itu cukup jauh dari kamarnya. Dan cukup besar untuk satu orang dewasa dan dua anak, jadi cukup nyaman.
"Ide bagus, aku akan menyiapkan ruangannya, siang semoga sudah bisa pindah." Ia langsung pergi tanpa pamit dulu dan meninggalkan Miyuki begitu saja.
Miyuki menghela napas, ia cukup senang Eijun sudah bangun dan tidak ada masalah. Ia akan bicara dengan Eijun nanti setelah semuanya sehat. Dan mungkin ia harus memikirkan tawaran dari klub kecil di Amerika untuk membawa Eijun serta anak-anak untuk pengobatan mereka.