Kepada angin yang berhembus pelan
Saya adalah pemikir malam
Detak jam dua pagi yang lamban
Dan air mata yang mulai menyulam
Hari ke pagi hati semakin tawar
Ada rasa gundah yang tak mau berlalu
Akal seolah mengolok-olok berkelakar
Teh yang terseduh mendingin membisu
Esok ....
Bolehkan seharian menatap langit kamar saja?
Barangkali ada peri yang bersembunyi di sana
Ia punya sihir perihal surai rambut ibu
Atau pasta pemulus telapak ayah
Gundah, gundah, hilanglah gundah
Besok mari atur napas setapak demi setapak
Biarlah ia berserakan karena tak ada yang mendengarmu di pukul dua pagi
Di bumi, 24 Juni 2026
KAMU SEDANG MEMBACA
Kumpulan Puisi
PoesíaAku hanya ingin berbagi tentang apa yang kurasakan lewat bait-bait puisiku ....
