Corner

32 3 1
                                        

Ah, sudah tiga tahun berlalu, bahkan restoran itu mengganti warna dindingnya. Dulu seingatnya warna cat itu berwarna merah, tapi sekarang berganti putih. Masih sama-sama hangat.

Lampu-lampu gantung yang dulu terlalu redup juga sudah diganti dengan lampu kecil berwarna hangat. Rak kayu di belakang kasir sudah tidak ada. Bahkan menu mereka berubah. Pasta yang dulu selalu dipesan Gracia sudah hilang entah sejak kapan.

Hampir semuanya berbeda. Iya, Hampir.

Shani masih memilih meja dekat jendela.

"Sendirian, Kak?"

Shani mengangkat kepala.

Pelayan di depannya masih sangat muda. Mungkin bahkan belum bekerja di sini ketika semuanya terjadi.

"Iya."

"Untuk satu orang?" tanya pelayan itu ramah.

Shani tersenyum kecil. "iya. Satu."

Pelayan itu mengambil satu buku menu dari meja. Dulu selalu dibawakan dua.

Jogjakarta pukul tujuh malam, lampu kendaraan berbaris panjang, orang-orang berlari mencari tempat berteduh, pengemudi motor berhenti untuk memakai jas hujan sebab sudah mulai gerimis di luar.

Ponsel miliknya bergetar, Shani menghela napas sebentar, membiarkannya beberapa detik sebelum menjawab.

"Halo, Ma."

"Kamu di mana?" Tanya ibunya.

"Lagi makan" jawabnya singkat.

"Sama siapa?"

Shani memandang kursi kosong di depannya, "sendirian."

Ada jeda sebentar, ibunya tak ingin terlalu banyak bertanya. "Oke. Jangan pulang malam-malam ya, Shan."

"Iya."

"Besok jadi datang ke rumah Tante Ainun?"

Shani menghela napas pelan.

"Ma,"

"Cuma makan siang kok, Shan."

"Aku tahu."

"Anaknya baik."

Shani tertawa kecil. "Mama bahkan belum pernah ketemu."

"Tante kamu bilang baik."

"Standar Tante juga meragukan."

Ibunya tertawa. Untuk beberapa detik, semuanya terasa normal. Seperti percakapan ibu dan anak biasa.

Kemudian Mamanya berkata, "sudah tiga tahun, Shan."

Dan dunia berhenti lagi. Bukan benar-benar berhenti.

Pelayan masih berjalan.

Mesin kopi masih berbunyi.

Hujan masih turun.

Seseorang di meja belakang tertawa terlalu keras.

Tetapi di kepala Shani, kalender kembali menunjukkan tanggal yang sama. Jam yang sama. Meja yang sama.

Kursi di depannya tidak lagi kosong.

Gracia duduk di sana.

Tangan terlipat.

Mata merah.

Dan sebuah kalimat yang selama tiga tahun tidak pernah berhasil Shani ubah akhirnya.

Aku rasa kita harus selesai sampai di sini.

Story GrshnCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang