Aku menatap malas bakso yang biasanya menggugah selera dihadapanku ini. Sambil mangaduk-aduk bakso tanpa berniat memakannya. Aku sedang berada dikantin kampus—sendirian diantara banyaknya mahasiswa lainnya.
Ini sudah seminggu lebih sejak kejadian batalnya pernikahan kak Melo. Sangat kuakui, hari-hariku mendadak sepi dan membosankan.
Aku kangen kak Ecy yang galak tapi baik hati. Aku kangen sama suara cemprengnya yang selalu membangunkanku setiap pagi.
Aku kangen kak Melo yang rentan galau tapi lucu. Aku kangen ocehan kegalauannya yang selalu menjadi pengantar tidurku sebelum tidur.
Hiks. Aku kangen mereka.
Semenjak kepergian mereka, rumah mendadak sepi. Papa sama mama jarang dirumah sebelum jam sepuluh malam. Aku jadi... kesepian.
"Keburu basi itu bakso diaduk mulu" kata Ery yang baru datang dan duduk didepanku.
Kemudian dia memanggil ibu kantin dan memesan menu favoritenya. Mie ayam plus jus jeruk yang menurutnya super segar dan menurutku itu biasa saja.
"Nggak pake lama ya, Bu"
"Sip. Non Ery"
Seperginya ibu kantin tersebut dari meja kami, Ery menatapku penuh prihatin.
"Gue nggak nyangka seorang Banana bisa betah berlama-lama galau"
Aku berhenti mengaduk bakso. "Kayak lo nggak pernah galau aja dibikin bang Dino" cibirku.
Ery meringis. "Nggak usah diingat sih"
"Bete gue,"
"Kenapa?"
Aku menggeser bakso dari hadapanku dan menghela napas berat. "Kakak-kakak gue yang alay itu sama sekali nggak ada kabar. Gue khawatir, terutama sama kak Melo"
"Gue turut prihatin atas kejadian yang menimpa lo deh"
Aku menatap Ery sebal. "Lo kate gue lagi berbela sungkawa?"
Ery terkekeh pelan. "Sewot amat sih,"
Obrolan kami terhenti sejenak karena pesanan Ery tiba di meja. Aroma mie ayam yang menggiurkan sama sekali tak menggugah seleraku mulai merebak.
Aku lagi nggak demen makan.
"Eh, btw. Lo ikut nggak ntar kemping ama kita"
"Kita?" aku mengerutkan dahi.
"Maksud gue, kita itu bang Dino sama gue gitu loh"
Aku menggeleng tak berminat. "Malas gue,"
"Ada Angkasa juga loh"
Ucapan Ery kali ini bikin benih-benih semangatku berkembang biak. Itu terbukti dari mataku yang sekarang berbinar-binar penuh cinta.
"Seriusan lo?"
Ery mengangguk. "Serius gue," jawabnya sembari menyuap mie ayam kedalam mulutnya.
"Kalo gitu gue ikut. Kapan acaranya?"
"Semangat banget lo," cibirnya.
"Iya dong. Angkasa kan mood booster gue" kataku sambil cekikikan.
Ery memutar bola mata malas. "Lebay,"
"Kayak lo nggak lebay aja. Mentang-mentang cintanya diterima bang Dino" balasku.
Wajah Ery langsung bersemu merah. Aih, dasar yang lagi jatuh cinta. Ckckck...
"Gue jadi malu. Aaaahh..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Banana
Teen FictionNana sayang Nimo. Nimo sayang Nana. Itu... DULU! SEKARANG, Nana benci banget sama Nimo. Itu semua gara-gara Nimo merobek-robek surat cinta yang mati-matian dibikin Nana untuk Nimo. Nana bersumpah bakalan dapatin pengganti yang lebih dari Nimo. Da...
