Aku berlari menyusuri koridor dengan tertatih-tatih. Hari ini aku ada mata kuliah dengan dosen yang killer abis.
Semboyannya. TIADA MAAF BAGIMU. Beuh...
Gara-gara terlalu asik nonton drama korea di laptop, aku sampai lupa waktu. Akhir-akhir ini, nonton drama korea memang sudah menjadi hal rutin yang kulakukan.
Efeknya, aku mulai sedikit lupa dengan masalah yang sedang kuhadapi. Aku merasa enjoy dengan kesendirianku yang sekarang. Bahkan aku selalu mengabaikan ajakkan Ery untuk nongkrong bareng.
Bruk!
Buku-buku tebal yang kubawa berjatuhan ketika menabrak seseorang dari arah berlawanan. Kenapa disaat genting begini, selaluu ada aja masalahnya.
Buru-buru aku mengutip buku yang berserakan dilantai. Anehnya, orang yang menabrakku ikut ngebantu tanpa ngomong apa-apa.
"Makas—" ucapanku terpotong begitu melihat sosok yang berdiri dihadapanku saat ini.
Sosok ini, sosok yang belakangan ini selalu kuhindari. Setiap hari aku selalu berangkat pagi-pagi dan pulang lebih awal. Dan kalau berpas-pasan di koridor, biasanya aku langsung memilih jalan motong ataupun ngumpet.
Tanpa sadar, jantung ini mulai berdebar nggak karuan. Ini sudah seminggu sejak insiden dimana aku mempergokinya berpelukan di teras rumahnya. Jujur... aku kangen sama dia.
Kalau saja aku tidak ingat dengan janjiku buat melupakan perasaan ini, aku jamin sekarang aku sudah meluk Nimo erat-erat. Sampai detik ini, tatapan Nimo sama sekali tidak berpaling dariku.
Tak mau berlama-lama lagi, aku memilih pergi dari hadapannya. Bisa-bisa aku lupa diri dan seenaknya meluk cowok orang sembarangan.
Itu bisa gawat. Dan lebih gawatnya lagi, sekarang aku diambang kematian. Karena si dosen killer terlihat santai berjalan menuju kelasku.
"MATI!" pekikku tertahan.
Baru saja aku mau lari seribu langkah, tiba-tiba tanganku ditahan seseorang. Aku menoleh dan mendapati tatapan tajam dari Nimo.
"Lo ngehindari gue?"
Glek!
Aku melirik kanan dan kiri, menghindari tatapannya yang bikin aku mengkeret. "Ng, nggak kok. Lagian dari dulu gue emang selalu ngehindari lo kok" kali ini suaraku berubah sewot.
"Berangkat kuliah pagi-pagi, pulang lebih awal. Motong jalan dan ngumpet tiap ketemu gue. Itu namanya apa?"
Deg.
"Ha?" aku menelan ludah susah payah. "It—itu perasaan lo aja kali"
"Karena perasaan gue benar!" bentaknya.
Aku berjengit kaget. "Ap-apaan sih lo nge—ngebentak gue?"
Nimo mengusap wajahnya dengan gusar. Dia menatapku tepat dimanik mata. "Berhenti berbuat konyol. Karena apapun yang lo lakuin gue tau semua"
W O W.
Mendengar ucapannya barusan, entah kenapa aku merasa marah. Dengan kasar aku menyentak tangannya yang mencengkeram kuat pergelangan tanganku. Dan itu, sakit!
"Apapun yang gue lakuin itu sama sekali nggak ada hubungannya sama lo. Emangnya lo siapa gue, hah? Lo tu bukan siapa-siapa gue!"
Nimo terdiam seketika. Matanya menatapku dengan pandangan... lelah? Bawah matanya juga ada lingkaran hitam. Apa Nimo nggak tidur?
Eh?
Buat apa aku perduli. Benar yang aku katakan Nimo bukanlah siapa-siapa. Ya, bukan siapa-siapa buatku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Banana
Teen FictionNana sayang Nimo. Nimo sayang Nana. Itu... DULU! SEKARANG, Nana benci banget sama Nimo. Itu semua gara-gara Nimo merobek-robek surat cinta yang mati-matian dibikin Nana untuk Nimo. Nana bersumpah bakalan dapatin pengganti yang lebih dari Nimo. Da...
