Gebi mengekor suaminya di sepanjang jalan yang ramai. Ia menjaga jarak satu meter di belakang pria itu. Kaki mungilnya tidak mampu menyamai langkah lebar Kaffi. Dengan cueknya pria itu menyusuri jalanan dan menerobos kerumunan wisatawan asing serta beberapa warga lokal setempat yang bersatu padu di depan restoran demi menonton sebuah pertunjukan jalanan.
Menggulirkan pandangan ke sekeliling, Gebi berdecak kagum. Bali memang indah. Tidak peduli siang atau malam, tempat ini selalu terlihat eksotis menurutnya. Gadis itu malah menyempatkan diri mengukur tinggi badan dengan beberapa orang asing yang melewati. Dia tertawa kecil mendapati diri hanya setara dengan sikut tangan para tourist tersebut. Sampai saat dia menubruk punggung Kaffi dan terpental ke belakang. Gebi mendapati Kaffi menatapnya seolah ingin menelannya bulat-bulat.
"Apa isi tulangmu itu seperti lendir siput?" cibir lelaki itu. "Lambat sekali jalanmu!"
Gebi menyengir. Tidak sempat katakan apapun, Kaffi sudah meninggalkannya lagi. Bibir gadis itu tercebik. Ingin sekali dirinya melemparkan papan reklame besar itu ke kepala Kaffi.
Beberapa restoran di sini memang berkonsep outdoor. Semuanya ramai. Setelah menyeleksi, pilihan Kaffi jatuh pada sebuah restoran Italia yang tidak terlalu banyak pengunjung. Mereka memilih meja dekat dengan pintu keluar menuju pantai.
Pelayan menggunakan pakaian khas Bali menghampiri keduanya. Berikan dua buah buku menu. Kaffi membaca menu sambil sesekali mengelus-elus ujung alisnya dengan telunjuk.
Di depan, Gebintang mengabaikan buku menunya sendiri. Dia malah sibuk menatap Kaffi. Gadis itu tersenyum. Wajah oriental lumayan enak dilihat. Kulit putih, hidung mancung, alis hitam, dan bulu mata lentik. Bibir tipis merah. Ya, walaupun Kaffi bukan termasuk tipe Gebi—karena gadis itu penyuka pria-pria yang sedikit berantakan dengan kulit kecoklatan—tapi, dalam penilaian objektifnya, Gebi akui Kaffi cukup manis. Setidaknya buat gadis-gadis belia penyuka drama Korea.
Senyuman samar di wajah Gebi hilang ketika Kaffi balik menatapnya dengan satu alis terangkat. Gadis itu mencoba menutupi salah tingkahnya dengan pura-pura melihat ke arah lain.
"Gebintang?" panggil Kaffi.
"Huh? Ada apa?"
"Kau tidak dengar?"
"Oh. Tentu saja aku dengar," dustanya. Kaffi menatap Gebi seolah ingin melemparkan buku menu ke wajah gadis itu. "Ada apa, sih, lihat-lihat?”
"KAU MAU PESAN APA?"
"Nona mau pesan apa?"
Pertanyaan serupa dari dua orang berbeda terlontar dalam detik yang sama. Gebintang tergeragap malu.
"Oh. Maaf. Uhm... " Gebi menutup buku menu. "Aku sama seperti dia saja,” ujar Gebi menunjuk Kaffi. Alis pria itu hanya terangkat dengan dahi yang berkerut kemudian wajahnya kembali berubah datar.
Pelayan kembali menawarkan, "Tidak ada yang lain lagi, Nona?" Menyambut gelengan Gebi, pelayan itu tersenyum kemudian meninggalkan mereka.
Kaffi kembali sibuk dengan ponsel. Sementara Gebi melempari tatapan kesalnya pada pria yang malam itu hanya mengenakan kaos putih polos tersebut. Gadis itu meruntuk, "Sialan! Bahkan di suasana seperti ini pun dia sibuk dengan ponselnya"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Marriage Roller Coaster
RomanceSetelah kecelakaan merenggut nyawa ibu yang merupakan keluarga satu-satunya di dunia ini, Angkasa Gebintang dipertemukan dengan keluarga Chanzu yang seolah-olah menghembuskan nafas baru ke dalam hidupnya. Disisi lain, menjalani profesi sebagai seora...
