Gebi mengalihkan pandangannya keluar jendela. Tidak berani menatap Kaffi di sebelahnya yang sedang menyetir dengan tampang tidak bisa ditebak. Wajah Kaffi sedikit memerah. Tangan kirinya, memegang setir sementara tangan kanannya memijat pelipisnya dengan sikut yang menyangga pada pintu mobil.
"Jadi, seperti itu kelakuanmu?" cecar Kaffi memecah keheningan.
Gebi menoleh takut-takut dan mendapati Kaffi dengan ekspresi dinginnya. "Maksudmu?"
"Kau penipu!" tuduh kaffi dengan suara yang masih tenang namun penuh penekanan.
"Penipu?" ulang Gebi tidak yakin.
"Ya. Menipuku! Pura-pura tidak mendengarku, dan bilang kalau lagi rapat dengan pimpinan redaksi. Kaupikir aku tidak melihat kelakuanmu? Hah? Aku sudah menunggumu bahkan sejak kau keluar dari hotel tadi!"
"Kau menguntitku?"
"Jangan alihkan pembicaraan, Gebintang!" Kali ini, nada suara Kaffi sudah meninggi.
"Baiklah, Baiklah. Aku memang berbohong soal itu. Tapi, aku hanya mau makan dengan teman-temanku dan berniat akan cepat pulang setelah itu," terang Gebi sejujur-jujurnya.
Kaffi mengalihkan tatapannya pada Gebi. "Jelaskan padaku, kenapa kau biarkan temanmu menciummu tadi?" tuntutnya.
“Apa? Mencium? Jangan menagada-ada!”
“Aku melihatnya!”
Gebi menggigit bibirnya resah, ia terlihat berpikir keras mencari-cari apa yang dimaksud Kaffi. "Siapa yang mencium siapa, Kaff? Aku tidak mengerti. Sungguh!"
“Kalian... Bisik-bisik lalu berciuman!”
“Kau gila, ya?”
"Jangan berlagak lugu, Gebintang. Aku lihat laki-laki itu merangkul dan menciummu. Oh Tuhan, apa kau sudah gila? Jangan lupa kau itu wanita bersuami! Bagaimana jika keluargaku melihat kelakuanmu itu? Tolong, berpikirlah sebelum berbuat sesuatu. Tingkahmu itu benar-benar tidak termaafkan!"
Gebi diam dan masih berpikir, kemudian seperti mendapat sebuah ilham wajahnya tiba-tiba berubah cerah.
"Ya, Tuhan, Kaff. Dia tidak menciumku! Kau hanya melihatnya dari angle yang salah. Zero itu temanku sejak kuliah. Dia menyukai Putri. Kau ingat wanita yang duduk di depanku tadi? Zero memintaku untuk jadi cupid cintanya pada Putri. Tidak perlu salah paham."
Kaffi terlihat memijat dahinya yang berdenyut. "Jangan besar kepala! Siapa yang salah paham dengan wanita Idiot sepertimu?" elaknya. Kali ini nada suaranya sudah mulai menurun. Wajahnya melunak.
Gebi menghembuskan napasnya lega. Sebenarnya dia marah karena Kaffi menuduh hal buruk yang tidak mungkin dilakukan wanita terhormat sepertinya. Tapi, kali ini, dimaafkan. Karena sikap dia yang mengabaikan telepon pun ikut andil menambah rasa curiga Kaffi. Hari ini, Gebi tidak akan bertengkar. Lagi pula, Kaffi sangat menyeramkan saat marah. Benar-benar menakutkan.
"Kau cemburu?” todong Gebi, menggoda.
“Kalaupun iya, memangnya kenapa? Kenapa bertanya seolah-olah aku tidak legal untuk cemburu? Kau itu siapa? Istriku, bukan? Apa di kepalamu, aku hanya teman les?”
Benar juga. Mencintai atau belum mencintai, saat ini, mereka pasangan menikah. Masalah selingkuh adalah hal yang wajar dikhawatirkan.
“Apa kau mencintaiku?" goda Gebi lagi. Kaffi langsung memasang wajah murka dan kesempatan itu digunakan Gebi untuk menyentuh pipi Kaffi dengan seringai nakal.
"Kau dengar, Sayang? Tidak perlu cemburu karrna aku tidak mungkin berseling—" Gebi terdiam begitu tangan usilnya mendarat di pipi Kaffi. Dirasakannya suhu tubuh lelaki itu sangat panas. Tangannya berpindah ke dahi Kaffi, merabanya dengan punggung tangan. Turun ke leher, suhunya masih sama.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Marriage Roller Coaster
RomansaSetelah kecelakaan merenggut nyawa ibu yang merupakan keluarga satu-satunya di dunia ini, Angkasa Gebintang dipertemukan dengan keluarga Chanzu yang seolah-olah menghembuskan nafas baru ke dalam hidupnya. Disisi lain, menjalani profesi sebagai seora...
