TMRC - Empat Belas

41.4K 3.7K 505
                                        

"Sialan!" Gebi berbalik "Kau mau mat—"

Deg

Gebi tidak bisa meneruskan agenda marah-marah. Tubuhnya menegang karena saat ini ia berada hanya beberapa senti dari tubuh Kaffi. Puncak kepalanya bahkan sudah bersentuhan dengan dagu Kaffi. Mereka sama-sama terdiam cukup lama, kemudian pelan-pelan Gebi memberanikan diri mengangkat wajahnya dan detik selanjutnya dia sudah terpingkal-pingkal mendapati wajah Kaffi.

"Hahahaha." Tawa Gebi menggema.

Kaffi mundur beberapa langkah. Kebingungan.

"Sepertinya kau sakit jiwa!"

"Hahahaa lubang hidungmu cukup lebar kalau dilihat dari bawah.”

Gebintang tak bisa menghentikan tawanya. Benar-benar menyebalkan di kuping Kaffi sampai laki-laki itu tergoda untuk memasukan daging ayam mentah ke mulutnya.

"Hahaha. Kau mirip siapa, ya? Tunggu! "Gebi memicingkan mata dan berpikir-pikir.

"Wajahmu mirip pelawak siapa, ya?"

"Sudahlah lanjutkan pekerjaanmu, aku sangat lapar!"

Dengan kasar Kaffi membalikkan tubuh Gebi dan menarik kuncir rambut Gebi sampai terlepas. Masih dengan brutalnya, ia merapikan rambut Gebi yang berserakan di sepanjang pelipis dan rahang. Gebi sampai bergidik geli sesekali ketika jari-jari Kaffi menyentuh daerah belakang telinganya, lantas menyisir di sepanjang rambut panjangnya dengan gerakan lambat penuh tekanan.

"Kau menumpahkan berapa liter cologne bayi ke rambutmu?"

"Kau suka wangiku, ya?" goda Gebi

"Bodoh! Kenapa kau gunakan itu di kepalamu? Rambutmu bisa rontok, tolol!"

"Peduli apa? Itu rambutku, bukan rambutmu!"

Kaffi tidak menjawab. Setelah berhasil mengumpulkan rambut Gebi menjadi satu genggam, dia mulai melintingnya ke arah kanan. Mentok ke pangkal. Menyulapnya serupa lilitan kain di tongkat. Setelah itu, Kaffi berniat membuat cepolan besar. Maka lilitan tadi Kaffi putar melingkar dengan kencang sampai rahang Gebi ikut tertarik. 

"Ah. Aahh. Pe-pelan-pelan, Kaff," rintih Gebi terbata-bata. Rahangnya sakit karena ikut tertarik, bahkan mulutnya sampai menganga.

"Ah. Sshh. Aaah. Kaf, Kaf, Kaaaf, itu sak-hit.”

Tanpa Gebi sadari, suaranya lebih mirip rintihan wanita di dalam film porno. Kuping Kaffi dibuat hampir terbakar mendengarnya.

"Jangan mendesah, Bodoooh!" teriak Kaffi tepat di telinga Gebi. Kuping wanita itu sampai berdengung parah.

Bukannya menyerah, Gebi semakin bersemangat untuk menggoda suaminya. "Ouuuuh. Mmmmppph. Khaaaaf. Khaaaafiii! Teruskan, Kaf. Ouohh. Auw! Itu sakit! Sshh. Pelan-pelan, Sayang. Yeaaahh, oh God, oh yesss!" tambah Gebi lagi lengkap dengan liukan badannya. Kali ini, dia sengaja melakukannya dengan berlebihan untuk memancing kemarahan Kaffi.

Dengan perasaan kesal dan gondok setengah mati, Kaffi mengikat rambut Gebi cepat. Setelah itu dia dorong kepala Gebi keras-keras sampai wanita itu terhuyung ke depan.

Bukannya marah, Gebi malah menyeringai.
"Kau horny, ya?" godanya dengan mata yang dikedip-kedipkan. "Coba sini kulihat, pasti sudah menegang, kan?"

"Jidatmu yang menegang!" umpat Kaffi.

Gebi terkekeh pelan. Dia dihadiahi pelototan galak suaminya.

"Baiklah. Baiklah. Ayo lanjutkan. Hm. Aku harus apa lagi? Ayamnya sudah kubumbui?"

Kaffi kembali naik ke meja pantry dan membaca lagi resep dari ponselnya. “Kupas bawang putih, bawang bombai, jahe dan haluskan semuanya.”

The Marriage Roller CoasterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang