Suara gaduh dari arah pantry mengusik tidur Gebi. Dari sofa tempat ia tidur, diliriknya Kaffi yang terlihat sedang sibuk di sana. Gadis itu menghampiri suaminya.
"Sedang apa?" tanyanya sambil mengambil segelas air.
Kaffi tersenyum dengan diameter yang lebar. "Aku ingin membuat nasi goreng kornet. Kaumau?" tawar lelaki itu ramah.
Kening Gebi berkerut. Kejutan apa lagi ini? Kaffi dalam mode sumringah? Benar-benar tidak beres! Pikir Gebi. Ia tidak mengerti dengan sifat Kaffi yang berganti-ganti. Kadang, pria itu bersikap dingin. Kadang cerewet, dan sekarang Kaffi sehangat magic jar.
"Sekarang apa lagi? Jin apa yang sudah masuk ke tubuhmu?" Pada akhirnya Gebi hanya mampu melempar pertanyaan mencemooh dan dibalas Kaffi dengan dengan dengkusan pendek.
"Jangan membuat mood-ku hancur, Gebintang. Lebih baik kau pergi mandi. Kalau tidak salah, terakhir kali kau menyentuh air, dua hari yang lalu. Badanmu itu bau!"
Gebintang mencium dua sisi bajunya. Benar saja dia belum mandi sejak kemarin dan badannya sedikit bau. Tanpa menunggu cibirian beruntun, gadis itu melongos ke kamar mandi.
***
Kaffi sibuk menyuapi nasi goreng. Sesekali, dia tertawa menonton film kartun. Gebi masuk ke pantry dan menyambar nasi goreng yang sudah Kaffi siapkan di piring besar lengkap dengan segelas jus jeruk. Disusulnya sang suami yang hari ini seperti malaikat.
"Ha. Ha. Ha."
Tawa Kaffi meledak karena film kartun yang ditontonnya. Gebi melirik Tv dan mencoba mencari sesuatu yang lucu namun gagal menemukan kelucuan apa pun di sana. Yang Gebi lihat hanyalah kepala kotak dan bentuk aneh para tokoh. Entahlah. Gebi tidak mengerti apa yang ditertawakan laki-laki di depannya ini.
"Ck. Ck. Lihat dirimu," cibir Gebi.
Kaffi menoleh malas. "Apa?"
"Kau ternyata punya kepribadian ganda. Kadang serius, kadang misterius, kadang dingin, dan sekarang apa? Kau seperti bocah! Tertawa seperti orang gila dan menonton film seperti ini. Sadarlah kau itu siapa dan ingat umur!”
"Bagaimana denganmu? Membohongi kami dengan berpura-pura lugu. Lalu sekarang apa? Kau berubah jadi wanita jahat! Kau kasar! Banyak makan, dan psikopat! Keluargaku pasti serangan jantung kalo tahu sifat aslimu."
Gebi tersenyum sinis menanggapi komentar Kaffi. Gadis itu memahat aura horor di wajahnya dan berbisik dengan nada mengerikan, "Aku seperti ini hanya padamu. Spesial untukmu. Kupersembahkan semua yang istimewa ini untukmu, Sayang."
Kaffi bergidik. “Kau gila!”
Setelah makan, mereka berdua tidur-tiduran di sofa. Piring bekas makan dan gelas masih di atas meja; Box ice cream dan beberapa bungkusan makanan kecil berserakan di lantai. Keadaan di pantry sama kacaunya dengan ruang Tv. Karena Kaffi tidak membereskan semua alat masak yang digunakannya untuk memasak tadi.
Ting. Tong.
Bunyi bel mengagetkan keduanya. Tidak ada satu pun dari mereka yang mau mengalah untuk membuka pintu. Cukup lama mereka bergeming dalam posisi masing-masing.
"Hei." Kaffi menggunakan ujung jari kaki untuk menekan kaki Gebi.
"Buka pintunya!" perintah lelaki itu seenaknya.
"Kau saja. Aku kenyang!" tolak Gebi.
"Kau akan seperti babi kalau membiarkan perut kenyangmu itu diam saja tanpa digerakkan. Ayo cepat buka pintunya!"
"Kau sendiri? Kau akan seperti chetah kalau—"
"Cepat! Aku sudah membuat sarapan untuk perut babimu itu!” potong Kaffi. Dia menghadiahi Gebintang pelototan garang.
Gebi berdecak kesal dan bangun dengan malas. Gadis itu menggaruk-garuk kepalanya kasar. Dengan langkah gontai, menuju pintu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Marriage Roller Coaster
RomanceSetelah kecelakaan merenggut nyawa ibu yang merupakan keluarga satu-satunya di dunia ini, Angkasa Gebintang dipertemukan dengan keluarga Chanzu yang seolah-olah menghembuskan nafas baru ke dalam hidupnya. Disisi lain, menjalani profesi sebagai seora...
