Oke, ini part terakhir yang kupost di Wattpad.
Terima kasih sudah membaca kisah Gebi yang absurd ini. Terima kasih sudah betah mengikuti cerita ini dalam kemampuan mengolah cerita authornya yg masih terbatas waktu itu. (Skrg masih sih) wkwk.
Yang mau beli ebook, sampai jumpa besok siang! Nanti aku kasih no Wa yg dihubungi.
Setelah aku kasih pengumuman penjualan, langsung kuhapus yaa! Tnggalin berapa part doang!
Sampai ketemu Kaffi dan Gebi versi ebook! 😘
.
.
.
.
.
Kau boleh mundur selangkah meninggalkanku.
Tapi aku akan maju dua langkah untuk menangkapmu.
Aku mungkin pernah lengah sesaat dan membiarkanmu lepas dariku
Tapi, tidak untuk kali ini.
Karena aku akan mengikatmu dalam hidupku.
Sampai kau lupa caranya lari dariku.
***
Akhir bulan November lalu, Kaffi mendatangi sebuah acara penghargaan di bidang hukum. Penghargaan ini rutin diadakan setiap tahunnya oleh ALF di Singapura. Nama Kaffi sebenarnya masuk sebagai kandidat pemenang di tiga kategori sekaligus. Namun, ia hanya berhasil memenangkan dua kategori saja: The Best Young Lawyer dan juga Lawyer Of The Year.
Selain mendapatkan piagam, semua yang menjadi pemenang mendapatkan Law Simbolic Miniature yaitu berupa gold cup berbentuk Neraca. Dan juga reward tour ke benua Eropa selama satu bulan.
Kaffi sendiri cukup senang dengan penghargaan yang didapat. Ini adalah bayaran termahal untuk kerja keras, dedikasi, dan konsistensinya yang diberikan selama beberapa tahun ini. Sudah banyak kasus yang ia tangani, sudah banyak masalah yang ia pecahkan dengan tangan dinginnya.
Namun, Kaffi sama sekali tidak tertarik untuk mengikuti tur ke Eropa. Masih banyak pekerjaan yang harus dia handle. Walaupun firma hukum yang dibangunnya sudah mempunyai staf-staf andal yang berprestasi dan tidak diragukan lagi cara kerjanya, Kaffi tetap tidak nyaman jika harus meninggalkan pekerjannya begitu saja.
Sampai suatu siang ia mendadak berubah pikiran dan memutuskan untuk ikut tur itu. Seminggu sebelum keberangkatan tim, Kaffi tidak sengaja bertemu dengan Putri di sebuah acara talkshow. Putri sedang membawa sebuah kotak makanan, dan melewati ruang yang biasa digunakan para bintang tamu dan beberapa kru untuk briefing. Dia terkejut setengah mati ketika Kaffi tiba-tiba menghampirinya. Wanita itu tidak menyangka akan bertemu dengan Kaffi di sini.
"Putri, kan?"
Dia tak menjawab. Hanya hadiahi Kaffi dengan tatapan aneh.
“Bagaimana kabarmu? Lama tidak bertemu," tanya Kaffi basa-basi.
Sebenarnya saat itu, Putri terlihat sangat malas menanggapi Kaffi. Terlihan jelas dari mukanya yang kentara tidak senang. Mungkin karena dia tau, sahabatnya sudah banyak terluka karena Kaffi.
"Baik. Maaf, aku buru-buru." Putri lalu beranjak. Dengan sigap, Kaffi menghadangnya. Pria itu berdiri di depan Putri. Menghalang jalan.
"Putri. Bisa kita bicara sebentar? Ada hal penting yang aku tanyakan."
Wanita itu memajang roman galak. Bahkan, jari tangannya dikepal. Kaffi duga, dia mungkin sangat ingin menampar Kaffi. Putri pasti tau, apa pun yang ingin dibicarakan Kaffi pasti ada hubungannya dengan Gebintang.
"Tidak bisa. Aku sibuk. Suamiku kelaparan. Aku harus mengantar makanannya. Minggir!"
Kaffi bergeming dalam posisi. "Aku—“
"Kalau itu tentang Gebi, aku tidak tau apa-apa lagi soal dia," potong Putri tegas.
Bahu Kaffi yang semula tegak, jadi turun beberapa senti. Dia menyandarkan tubuhnya di dinding. Tidak peduli dengan beberapa kru yang lewat dan memandang aneh ke arahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Marriage Roller Coaster
RomanceSetelah kecelakaan merenggut nyawa ibu yang merupakan keluarga satu-satunya di dunia ini, Angkasa Gebintang dipertemukan dengan keluarga Chanzu yang seolah-olah menghembuskan nafas baru ke dalam hidupnya. Disisi lain, menjalani profesi sebagai seora...
