Terhitung sudah 15 bulan Gebi tinggal di tempat ini, tapi belum pernah sekali pun dia mendatangi taman komplek. Dulu, Gebi selalu menolak jika Kaffi mengajak jogging. Alasannya, dia masih dalam tahap melupakan Bumi. Jadi Gebi tidak bisa melihat apa pun yang berhubungan dengan Bumi termasuk juga dengan taman yang dirancang pria itu.
Duduk di kursi taman, Gebi memegang dadanya. Aneh! Dia tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Mungkinkah semuanya sudah berubah sekarang? Tidak ada lagi Bumi di hatinya? Gebi sendiri tidak yakin. Jika dulu tidak ada yang bisa menandingi rasa nyaman yang dia rasakan saat bersama Bumi, saat ini semua ketenangan dan kelembutan Bumi bahkan tidak mampu menjadi penawar rasa gundah yang dirasakan Gebi saat berjauhan dengan Kaffi.
Yang Gebi tau, dia mulai membutuhkan Kaffi saat ini.
***
Beberapa jam menenangkan diri, Gebi putuskan untuk pulang. Dia mendapati Kaffi sedang tidur di kamar. Gebi ikut bergabung dengan merebahkan dirinya di samping pria itu. Menatap punggung Kaffi yang sangat dirindukannya.
"Aku tidak tau, kenapa takdir bisa menyatukan kita di dalam pernikahan aneh ini. Aku akan bertahan sebentar lagi dan menunggumu. Sampai kau bisa menerimaku. Jangan terlalu bersemangat untuk mengujiku. Karena aku tidak bisa mengukur seberapa besar kesabaranku menghadapimu lagi," ujar Gebi berani. Kapan lagi dia bisa mengatakan semua kalimat itu pada Kaffi? Saat ini, suaminya sedang tidur dalam damai.
"Kau tau? Aku tidak bisa tidur nyenyak tanpamu. Sudah terlalu terbiasa ada kau di sisiku. Jangan pergi lagi. Tetaplah di sini bersamaku sampai aku terbangun lagi. Karena tidak menyenangkan bangun tanpa melihatmu." Punggung tegap itu masih dipandang Gebi sampai alam mimpi memangilnya.
Dalam diam, Kaffi mendengar semua yang dikatakan Gebi. Kalimat yang terdengar begitu jujur dari hati. Kaffi bertanya-tanya, sejak kapan gadis itu mulai membutuhkannya? Padahal selama ini, tidak pernah sekali pun dia melakukan hal yang bisa membuat Gebi tersentuh. Lalu bagaimana bisa gadis itu merasa bergantung padanya?"
***
Paginya Gebi terbangun dan tidak melihat Kaffi di sisinya. Diam-diam, dia merasa sedih. Bukan tempat tidur kosong yang ingin dilihatnya pagi ini. Gebi berpindah di sisi yang tadi malam digunakan Kaffi untuk tidur. Peluk guling yang dipakai pria itu. Wangi Kaffi masih tertinggal di sana; wangi yang menenangkan Gebi.
Kaffi sendiri sudah pergi sejak pagi-pagi buta. Meski dengan jelas dia sudah mendengar keinginan Gebi: ingin melihatnya pertama kali saat dia terbangun, Kaffi malah ingin menyakiti Gebi dengan pergi sebelum gadis itu terbangun. Kaffi hanya perlu membangun sebuah jurang pemisah di antara mereka. Agar Gebi tidak terlalu banyak berharap pada hubungan ini. Karena jika saatnya tiba, Gebi pasti akan sangat terluka dengan keputusan yang akan Kaffi ambil.
Mobil Kaffi menuju pelantaran parkir sebuah apartemen. Keiko keluar dengan senyuman mengembang. Kaffi sendiri bingung di saat masalah yang semakin banyak menghadapina, Keiko bahkan masih bisa tersenyum untuknya.
Keiko membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Kaffi. "Kau sudah sarapan?" tanyanya saat mobil mereka sudah keluar dari pelantaran parkir dan menuju ke jalan raya. Kaffi yang fokus menyetir hanya menggeleng.
Keiko mengamati priia itu. Entah kenapa dia suka melihat pria itu menyetir. Mata Kaffi, fokus ke depan, tangan yang memegang kemudi, membuat Keiko berdesir aneh. Wajah gusar Kaffi ketika sedang menghadang macet, bibirnya yang sesekali digigit ketika menghitung pergantian lampu merah, atau jari telunjuk Kaffi yang diketuk ke setir mobil ketika sedang mendengarkan musik. Semua hal sederhana itu membuat Keiko tertarik.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Marriage Roller Coaster
RomanceSetelah kecelakaan merenggut nyawa ibu yang merupakan keluarga satu-satunya di dunia ini, Angkasa Gebintang dipertemukan dengan keluarga Chanzu yang seolah-olah menghembuskan nafas baru ke dalam hidupnya. Disisi lain, menjalani profesi sebagai seora...
