TMRC - Satu

111K 7.2K 305
                                        

Bahagia sejatinya tidak pernah benar-benar pergi darimu. Ia hanya bersembunyi di sebelahmu yang terlalu sibuk merenungi nasib.



***


》 Like a Fairytale 《

Gadis itu menatap pria di depannya takut-takut. Laki-laki berkulit putih, dengan sepasang mata sipit yang baru resmi menjadi suaminya beberapa jam lalu itu kini berada dalam radius yang sangat dekat dengannya, berperang dengan sendok, garpu, piring dan gelas untuk sebuah ritual bernama makan malam. Walaupun keduanya dibatasi sebuah meja makan besar di hadapan, Angkasa Gebintang tetap merasa gugup. Itu semua terbaca jelas dari gerak-geriknya yang gusar, juga sinyal wajah yang memancarkan kegugupan dengan warna muka pucat kesi.

Ya, wajar saja Gebi merasa gugup. Ini pertama kalinya dia sangat dekat dengan pria itu. Bagaimana tidak? mereka bukan pasangan kekasih yang jatuh cinta dan berakhir dalam sebuah pernikahan. Mereka hanya dua orang asing yang bahkan baru bertemu delapan bulan lalu ketika gadis itu dibawa oleh sepasang suami-istri ke sebuah rumah. Rumah yang sangat asing baginya, yang sudah membolak-balikan kehidupannya. Dari rumah itulah dia memulai semua peran barunya. Sebagai anak angkat, saudara, istri.

Masih diingat dengan jelas oleh Gebi, pertama kali dia membuat keputusan ini, menikah, dengan anak sulung dari keluarga itu Traymond Kaffiar Chanzu. Sepuluh bulan lalu, Gebi kehilangan ibunya yang mengalami kecelakaan. Beliau tidak sengaja ditabrak oleh mobil yang dikendarai oleh orang tua Kaffi yang menyebabkan ia mengalami pendarahan di otaknya, dan setelah koma berhari-hari, Ibunya dipanggil Tuhan dan kembali ke pelukan-Nya untuk selamanya.

Sejak saat itu, orangtua Kaffi merasa bahwa hidup Gebi adalah tanggung jawab mereka. Tanpa diduga-duga, mereka ingin Gebi menikah dengan putra mereka agar selamanya Gebi tetap berada dalam pengawasan mereka. Tentu saja Gebi menolak. Dia tahu Kaffi tidak seharusnya terseret dan bermain dalam drama kehidupannya yang berliku. Pria itu seharusnya tidak perlu ikut-ikutan merasa bertanggungjawab atas hidup Gebi.

Tapi ... pada akhirnya ... Gebi luluh saat mendengar permintaan Kaffi yang terdengar begitu tulus saat itu.

Bermodalkan perasaan kehilangan, dan perasaan membutuhkan yang besar, Gebi akhirnya menerima lamaran Kaffi.

*"*"*

Flashback (1 bulan lalu),

"Malam ini aku sengaja mengumpulkan kalian di sini karena mau mengumumkan sesuatu yang penting." Suara berat Robbi Adolf Chanzu menggema di ruangan keluarga serbaputih itu. Semua penghuni inti rumah berkumpul di sana, duduk berhadap-hadapan pada sofa dan dibatasi sebuah meja kayu ukir berbentuk bulat.

Gebintang duduk bersebelahan dengan Nyonya Emerald Chanzu yang tengah menggenggam tangannya. Di sisi kanan, duduk si sulung Trista Kiffarah. Sedangkan saudara kembarnya Traymond Kaffiar duduk di seberangnya bersama Trigavari si putra bungsu.

Robbi Chanzu melirik satu demi satu anggota keluarganya lalu melanjutkan ucapannya. "Kalian semua tentu tahu alasanku membawa Gebintang ke rumah ini dan mengangkat dia sebagai anggota keluarga baru kita."

Tidak ada respons. Entah apa yg dipikirkan semua yang ada di situ. Yang jelas, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Delapan bulan lalu, aku tidak sengaja menghilangkan nyawa satu-satunya orang yang dia punya di dunia ini."

Diksi awal yang dipilih Robbi sukses menyedot perhatian. Kelima pasang mata milik anggota keluarganya kini tertuju padanya.

Robbi melanjutkan, "Aku bukannya seorang pengecut yang akan lari dari tanggung jawab begitu saja. Bahkan saat itu aku akan sangat bersedia jika harus mendekam di penjara untuk kesalahan yang aku buat. Tapi ... kalian tahu, dengan alasan jika semua ini adalah ketentuan Tuhan, Gebintang sama sekali tidak mau memperpanjang masalah itu. Tentunya dengan besar hati dan keikhlasannya, dia mau memaafkan keteledoranku dan tidak membawa masalah ini ke jalur hukum."

The Marriage Roller CoasterCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang