Tenang aja, ebook-nya akan langsung kurilis setelah aku ngepost bbrp bab lagi. Pkonknya aku cut di bab yg tepat. Kalo yang di Google Play Book, mungkin tunggu versi layout. Krn upload di sana harus rapi. Nggak bisa alakadar. Malu😆
Tapi yg versi pdf, bisa langsung kujual, kok. Habis itu, cerita ini langsung kutarik dari Dunia Oren ini krn udah gak sesuai dgn prinsip menulisku. Dan nggak relate dgn kenyataan duniawi zaman sekarang. Wkwk.
***
Malam ini Gebi duduk di meja makan dalam keadaan gelap gulita. Tidak ada lampu yang dinyalakan di dalam ruangan itu. Satu-satunya penerangan yang ada hanya cahaya lampu taman yang menerobos lewat pintu kaca. Wine-nya sudah habis menyisakan es batu di gelas kristal. Dengan telunjuknya, Gebi memainkan kotak es itu sehingga menimbulkan bunyi-hal konyol sederhana yang cukup menghiburnya.
Gebi menuang untuk gelas kelimanya lalu meneguk dalam sekali napas. Terus seperti itu sampai menghabiskan bergelas-gelas.
Gebi sudah bosan menangis meratapi diri. Mungkin sedikit asupan alkohol dapat membantunya melupakan masalahnya sesaat. Gebi bahkan ingin hilang ingatan. Sudah habis cara untuk menenangkan pikirannya yang kacau balau.
"Sial. Kenapa ingatan itu masih ada di kepalaku!" gumamnya tidak jelas. Meskipun lidahnya sudah kelu, dan dunia terasa berputar, tapi kesedihan itu tidak pergi begitu saja.
Tidak cukup dengan sakit hati dan kekecewaan karena sikap Kaffi, Putri menambahkan lagi satu daftar pikiran Gebi dengan memberikan pilihan sulit untuknya. Kalau sudah begini, Gebi rasanya ingin dikubur hidup-hidup saja. Terlalu lelah menanggung beban pikiran.
Dengan kepala yang semakin memberat dan pening. Gebi mengangkat botolnya tinggi-tinggi lalu mencurahkan isi botol itu ke wajahnya hingga membuat cairan merah itu tumpah ruah ke wajah dan merembes sampai ke lehernya.
Praaaaaaang.
Gebi membanting botol itu keras-keras. Ada rasa lega yang lolos ketika melihat botol itu pecah menjadi puing-puing di lantai. Itu mengingatkan Gebi pada hatinya yang sudah hancur dan tak berbentuk lagi saat ini. Lalu ketika ia meneguk botol kedua, setengah isinya hampir lolos ke perutnya, Gebi merasakan botolnya direbut paksa dari dalam genggaman.
Dengan mata sayu, Gebi mengangkat wajah. Kaffi di sini. Berdiri disampingnya. Gebi tidak bereaksi apa-apa ketika Kaffi mengambil botol-botol di atas meja dan membuangnya ke dalam kotak sampah di sudut meja pantry.
Ruangan terang-benderang. Gebi sampai harus menghalau cahaya yang menusuk matanya. Sampai penglihatannya sudah terbiasa, dia mendapati Kaffi sudah berdiri dengan satu tangan yang dimasukan ke saku celananya. Walaupun sedang mabuk berat, Gebi bisa menangkap dengan jelas apa ekspresi Kaffi saat ini. Pria itu terlihat marah. Sangat sangat marah.
"APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN SEMUA MINUMAN INI!?" teriak Kaffi keras hingga urat-urat seketika tercetak dengan jelas di lehernya.
Gebi diam.
"Kau tau? Aku benci ada alkohol di rumahku!" Suara kaffi turun beberapa oktaf, namun tetap penuh penekanan. "Kalau kau ingin minum, pergi saja ke kelab. Dan kau bisa mabuk sesukamu. Kenapa mengotori rumahku dengan benda seperti ini?"
Gebi tertatih-tatih berjalan ke arah Kaffi, setelah dirasakannya jarak antara mereka cukup dekat. Gebi membungkukan badannya memberi penghormatan pada pria itu.
"Maafkan aku." Gebi menegakkan lagi punggungnya. "Aku ... banyak pikiran. Maafkan aku sudah mengotori rumahmu."
Kaffi menatap gebi lekat-lekat, tanpa diberitahu pun dia tau apa yang sedang dipikirkan gadis didepannya saat ini. "Sudah kuduga, ini tidak mudah bagimu. Kau dan semua keras kepalamu itu!"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Marriage Roller Coaster
RomanceSetelah kecelakaan merenggut nyawa ibu yang merupakan keluarga satu-satunya di dunia ini, Angkasa Gebintang dipertemukan dengan keluarga Chanzu yang seolah-olah menghembuskan nafas baru ke dalam hidupnya. Disisi lain, menjalani profesi sebagai seora...
