9 | Wanita Bodoh

131 9 5
                                    

Suasana pagi benar-benar membuatku malas beranjak dari tempat tidurku, aku memandang lurus kearah jam dinding rupanya waktu merebut kemalasanku, hari ini kuliah jam pagi, rasanya aku malas dan berencana untuk membolos karena aku yakin Panji pasti masuk kampus hari ini. Kreteg. Sialan aku lupa meletakkan pigura-pigura foto kecilku bersama Panji, yang dia serakkan dikasurku kemarin malam. Tuhan aku jadi teringat foto profile line Panji yang nyaris membuat mataku menangis darah.

Sampai kapan aku menjaganya seperti satpam? Mengikuti kemauannya, menjadi pacar pura-puranya, bersembunyi dibalik perasaanku, dan selalu takut akan kehilangan. Sampai Panji dan Intan berumah tangga, kedengarannya sangat berlebihan. Tuhan aku takut kehilangan Panji.

Sial. Pagi begini selalu saja ada yang mengganggu. Aku mengangkat telpon dengan mata setengah tertutup.

"Halo, yah apa?" Aku menyambar tidak sopan. "Eh Bim, ada apa telpon pagi buta?"
Eh Tam sadar ini jam 8 pagi matahari bisa ketawa ngeliatin kamu. "Ralat Bim kenapa nelpon?"

"Tam aku ke toko ya, kayanya sore nanti aku gak ada kerjaan deh habis kuliah." Suara disebrang sana terdengar sangat bersemangat.

"Boleh Bim, okedeh sampai ketemu di kampus ya, see you Bim." Aku mematikan sambungan telpon tanpa tau repon apa yang akan Bima katakan. Aku pikir Panji yang menelpon, mungkin sekedar minta maaf atau mengucapkan selamat pagi, baiklah itu pemikiran terbodoh dari seorang wanita bodoh.

pukul 9:15

"Bu, Tami berangkat, ada kuliah pagi, dan nanti Tami langsung ke toko ya." Aku berpamitan pada ibu yang merapikan tempat tidurnya, aku pikir ibu tidak berangkat kerja hari ini, atau bahkan ke luar kota. Kadang aku rindu duduk bersama dan menceritakan semua kenyataan tentang aku dan Panji, mungkin ini belum waktunya.

"Tam ada apa? Yuk berangkat sana, salam juga buat Panji ya, oh iya kemarin malem dia nunggu kamu di kamar." Ibu masih sibuk merapikan semuanya dan sekarang mulai menatapku dengan tatapan menyelidiki.

"Oh iya Bu nanti aku sampein." Aku memasang jaketku, tapi ibu tetap memandangku aneh. " Kenapa Bu?"

"Jangan sakitin Panji, Tam. Ibu tau kamu dekat dengan Bima, ingat kamu sudah punya Panji." Ibu mulai lagi. Ini peringatan terbodoh. Omong kosong. Bodoh. Sialan. Mengenaskan. Itulah aku si wanita bodoh.

"Ayolah Bu, jangan memikirkan hal aneh-aneh, aku tau apa yang harus aku lakukan, aku berangkat, bye Bu." Aku memeluk ibu sesaat, sebelum aku pergi meninggalkan kamar.
Entah kenapa aku merasa harus mengakhiri semua ini, aku merasa aku harus membuka hati untuk orang lain. Payah! sangat lemah.

pukul 9:55

Kampus ini benar-benar sangat kokoh, aku duduk di kursi taman sebelum masuk ke dalam kelas dan menerima semua materi busuk, yah aku tau kampus ini mimpiku, dan sangat sulit mendapatkannya, belum lagi dulu Bapak selalu mengatakan anak tari? masa depanmu gak akan berjalan lancar, apa yang bisa diharapkan dari seorang seniman, Tam. Pikirkan itu. Kata-kata itu yang selalu membuatku bertekad untuk menjadi seniman tari yang hebat, bahkan akan aku buktikan bukan hanya dokter, pengacara, dan apalah itu, yang hanya bisa sukses, seniman juga akan bisa lakukan itu. Sebuah mimpi yang besar, selalu bergandengan dengan tekad yang matang.

Rasanya hidupku, selalu tertimpa bom atom yang sewaktu-waktu dapat meledak dan menghancurkan. Bapak selalu menjadi tamengku, tapi kadang Bapak terlalu lepas kontrol, atau bahkan gila kontrol. Belum lagi ibu yang selalu sibuk dengan urusan kantornya, yang membuatku harus bersabar dan mengurungkan rasa rinduku, aku tau ibuku itu sangat sibuk, dia wanita carrier. Dan lihat anaknya hanya seorang seniman yang bermodal tekad kuat. Namun, aku selalu menyayangi Bapak dan Ibu meski kadang kasih sayang jarang tertuju padaku, bukan persoalan rumit, namun kadang aku cemburu pada duniaku.

TO PANJITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang