Vote and comment please :)
####
*Auhtor's POV*
"Bentar, bentar. Gue ambil earphone dulu."
Kuntara memperhatikan setiap gerak-gerik tubuh Kesha ketika mengambil earphone di gantungan atas kamarnya.
"Nah, dah. Jadi, lo mau cerita apa, kak?"
Kuntara berdeham lalu mulai bercerita.
"Sebenernya, hubungan ortu gue udah mulai ga enak sejak beberapa minggu yang lalu. Gue ga terlalu yakin masalahnya apa, yang pasti tepatnya kemarin malem ortu gue bertengkar hebat. Gue waktu itu lagi dengerin lagu, sampe-sampe gue denger suara bentakan dari bokap gue, gue juga denger suara vas bunga dilempar. Gue kaget, jujur, walaupun hampir setiap bokap gue balik mereka bertengkar, bokap gue ga pernah sampe ngelempar benda gitu. Gue keluar dan ngeliat nyokap gue jatuh di lantai. Mungkin ini naruni seorang anak ngeliat ibunya kaya gitu jadi gue langsung ngehampirin nyokap gue dan gue bener-bener kalap waktu itu... "
Kuntara tampak menghela nafas dulu lalu melanjutkan lagi.
"Gue... Gue berdiri di depan bokap gue dan nonjok muka bokap gue. Gue tau gue salah, tapi, sumpah itu reflek dan itu murni respon gue sebagai anak laki-laki yang ngeliat ibunya disakitin sama laki-laki bajingan kaya dia. Terus, dia gak terima dan akhirnya nampar gue. Dia bilang gue anak durhaka, dia nyumpah-nyumpahin gue, dia bilang gue anak haram. Gue ga ngerti kenapa bokap gue bisa ngomong gitu, kei. Gue sempet mikir, apa jangan-jangan gue itu... Gue itu bukan anak kandung bokap gue? Atau gimana? Gue ga ngerti..."
Setetes air mata jatuh mengenai baju Kuntara. Ia kemudan memijat pelipisnya dan mengusap air matanya kasar.
"Kak..."
Kuntara malu. Ia menangis dihadapan gadis yang ia sayangi. Ia tidak seharusnya tampak lemah begini. Tapi, jujur saja, ia tidak pernah menangisi segala hal kecuali masalah keluarga.
Kuntara juga takut kalau Kesha hanya akan kasihan kepadanya. Ia seharusnya sudah tau resikonya. Namun peduli apa? Ia sangat sangat ingin membagi ceritanya kepada Kesha.
"Kak, lo tau masalah ortu lo apa?"
Kuntara menggeleng, "Tapi, gue sempet denger nyokap gue bilang kalo bokap gue setiap hari selalu pulang malem karena dia pergi ke club, dia main cewek. Dan waktu ditegur, bokap gue bilang karena nyokap gue ga bisa ngelayanin dia seperti layaknya istri lain. Gue ga ngerti kenapa jadi kaya ada dua alasan gitu. Bokap gue pertama bilang begitu, kedua dia bilang gue anak haram."
Kesha menatap Kuntara dengan pandangan iba. Ia pun merasakan apa yang dirasakan Kuntara.
"Kak, kalo gitu, gue siap bantu lo kalo lo emang butuh bantuan gue. Gue siap jadi shoulder to cry on-nya lo kalo lo emang butuh sandaran. Dan, menurut gue, lo harus minta maaf sama bokap lo soal waktu lo nonjok dia, senyebelin apapun bokap lo, dia tetep bokap lo, kan? Lo harus ngehormatin dia. Dan karena kita baru deket, gue minta maaf kalo gue kesannya pengen tau banget privasi lo, gue cuma pengen ngebantu lo, kak."
Kuntara menatap mata Kesha dalam. Perlahan, kedua bibirnya membentuk lengkungan sempurna.
"Makasih, kei. Mulai sekarang, jangan anggep kita baru kenal. Anggep kita udah kenal lama."
Kesha tertawa kecil.
"Iya, kak. Oke, jadi mulai sekarang kita harus bikin pengesahan."
"Pengesahan apa?"
"Pengesahan bahwa gue sahabat lo, dan lo sahabat gue. Dan kita harus bantu satu sama lain, ngehibur satu sama lain dan berbagi segala hal satu sama lain di suka maupun duka hahahaha...najis bahasa gueee.."
KAMU SEDANG MEMBACA
Move On
Storie d'amoreGadis cantik dengan rambut sebahu yang duduk di bangku kelas 10 SMA terpaksa harus merasakan pahitnya cinta pertama. Ia, Kesha, mencintai seorang lelaki yang tidak mencintainya, namun ia tetap berharap pada lelaki itu. Sampai Ulangan Tengah Semeste...
