Gea's
Rafi bekerja dan aku tak mungkin mengganggunya, kami memutuskan untuk mengelilingi jakarta menggunakan taksi. Beberapa tempat yang cukup indah dan bagus untuk membidik foto kami kunjungi. Sebuah tawa ceria mengelilingi kami. Setelah lelah berjalan-jalan hingga sore, kami memutuskan untuk mencari tempat makan yang tak jauh dari kami berada.
"Astaga. Ini benar-benar panas." Komentar justin sembari duduk di kursi salah satu restoran yang kami putuskan untuk makan sore. Wajahnya berkeringat membuatku terus menatapnya, dia masih tampan. Justin mengelap keringat di dahinya menggunakan punggung tangan dan mengerutkan kening melihatku melamun menatapnya,
"Melamuniku atau mengagumiku?"
Aku langsung mengedipkan mata berkali-kali berusaha menyadarkan diri dan berdecak,
"Kau terlalu...."
"Aku ini tak percaya diri. Memang benar kan kau mengagumiku?"
Aku berdecak lagi sembari menyedot minuman yang baru saja datang, "Baiklah kau menang."
Handphone justin tiba-tiba berbunyi tanda pesan masuk. Justin langsung merogohnya dari saku celana, menatapnya sekilas dan memasukannya lagi. "Siapa?" tanyaku penasaran.
"Salah sambung."
"Salah sambung bagaimana?"
Makanan yang kami pesan akhirnya datang ke meja kami, "Entahlah aku tak mempedulikan itu. Kurasa makananmu enak."
Justin mencoba mengalihkan perhatiannya dan aku tahu itu. Satu kesimpulan yang dapat kutarik, teror itu datang lagi ke arah justin. Entah teror macam apa, hanya kurasa bukan teror bom yang akan mematikan hubungan kami.
Aku tersenyum tipis dan menyuapi justin yang menurutnya makananku enak,
"Mau mencoba milikku?" tawar justin. Aku menggeleng,
"Kurasa itu tak enak. Aku memakan yang aku saja." justin menepuk puncak kepalaku dan aku terkekeh, "Hanya bercanda. Tak usah."
--
"Jadi, kau tak akan mengunjungi keluargamu di bandung?"
Dia terkekeh, "Nanti saja, kalau ada libur panjang. Jadwal kerjaku benar-benar sibuk. Maaf pula aku tak bisa menemani kalian."
Aku dan justin berkunjung ke kosannya rafi saat ini, ia menjemput kami di hotel sepulang kerja. Kami pamit, satu minggu sudah aku menghabiskan waktu di jakarta bersama justin. Sudah saatnya kami ke Bandung.
"Tak apa-apa. Kau akan mampir ke Canada kan?"
"Tentu saja. Aku akan menghubungimu. Semoga aku dapat kesana dalam waktu cepat." aku menoleh ke arah justin. Dia hanya diam tak bergeming menatap kami berdua berbincang.
"Terimakasih untuk bantuanmu. Besok pagi kami berangkat." aku memeluknya cukup erat. "Kita akan bertemu lagi kan?"
"Astaga! Tentu saja." dia terkekeh. "Hubungi aku jika kau sampai di bandung." aku mengangguk.
--
"Aku baru sampai 10 menit lalu."
Aku mengirimkan pesan kepada rafi. Aku dan justin segera naik taksi menuju dago, rumah nenek beberapa waktu lalu. Sungguh, aku merindukan kota ini. Udaranya lebih sejuk daro jakarta. Setelah menaruh barang-barang di rumah, aku melangkahkan kaki menuju rumah rafi tepat disebelah. Mengunjungi keluarganya.
"Kau mau kemana?" tanya justin sembari membawa handuk dari kopernya.
"Ke rumah rafi. Kau mau ikut?" ia menggeleng,
"Aku ingin mandi. Kau tak lelah?"
"Hanya sebentar. Sembari memberikan beberapa oleh-oleh."
Justin mengangguk dan berjalan menuju kamar mandi. Aku menemui orang tuanya yang ada dirumah, ini hari minggu, mereka tak kerja.
Orang tuanya sangat ramah. Dia menanyakan justin pula bahkan sempat menanyakan fanny. Hanya berbincang selama setengah jam, aku kembali ke rumah dan mendapati justin tertidur pulas. Dia pasti sangat lelah.
Aku tersenyum tipis dan mengelus rambutnya perlahan, ini jam makan siang dan kami belum menyiapkan makanan. Sebelum membersihkan diri, aku memutuskan untuk masak beberapa makanan yang tadi sempat dibeli di supermarket. Setelah selesai menyiapkan di atas meja makan, aku segera membersihkan diri.
Suara ketukan pintu kamar mandi berbunyi saat aku sedang membersihkan puncak kepala, "Kau masih lama?"
"Kenapa?"
"Aku ingin buang air besar."
"Astaga! Dibawah saja!"
"Ayolah, aku tak kuat!" ucapnya sembari terus mengetuk pintu. Aku berdecak,
"Mesum sekali! Dibawah saja!"
"Aku takut! Sungguh! Ayolah!"
Dengan terpaksa aku membuka pintu kamar mandi dan membiarkannya masuk, dengan cepat aku menuju shower dan menutupnya dengan gorden sehingga justin tak dapat melihatku. Mungkin hanya bayangan.
"Aku sudah melihatmu saat kau membuka pintu tadi gea. Tak usah menutupnya dengan gorden." godanya.
Aku membulatkan mata lebar, "Kau mesum! Astaga! Diamlah!"
Dia kembali terkekeh, "Kuakui kau seksi."
"Justin! Kau bau sekali!" aku menutup hidungku.
"Sudah kubilang aku tak kuat."
"Kenapa tak dibawah?"
"Memangnya tak boleh menemanimu mandi?"
Aku berdecak dan segera melilitkan handuk. Aku membuka gorden dan mendapati justin yang baru saja menggunakan celananya. Dengan cepat aku berjalan menuju pintu dan saat melewati justin, ia menarikku sehingga aku terduduk di pangkuannya dan dia terduduk di closet.
"AAAAAA!" justin terkekeh dan memelukku dari belakang sembari mengendus-endus bahuku.
"Kau wangi." aku memukul kepalanya menggunakan kepalaku,
"Jangan mesum!"
"Memangnya kau tak suka jika aku mesum?"
"Astaga! Aku ingin menggunakan baju."
"Mau kupakaikan?"
"Ih! Lepaskan!"
Justin tetap terkekeh, "Tidak. Sebelum kau menciumku."
Aku berdecak untuk kesekian kalinya dan memutar bola mataku serta mengecup bibirnya cepat. Justin langsung melepasku dan masih tertawa.
"Kau menolakku sekarang. Baiklah, nanti malam." ucapnya masih dengan nada yang menggoda.
Aku segera memakai baju dan justin membaringkan diri di kasur sembari menatapku, ia tersenyum menggoda (lagi). Aku berusaha untuk mengabaikannya,
"Kenapa cepat sekali memakai bajunya?"
Aku berdecak, "Ayo turun. Aku telah menyiapkan makanan." justin segera bangkit dan menciumku sekilas lalu segera turun ke meja makan mendahuluiku.
YOU ARE READING
Dear Justin (Always, you)
FanfictionDear Justin, terimakasih telah menepati semua kata-kata yang kau ucapkan. Terimakasih telah menunggu. Aku rela mengulang semuanya dari awal, bersamamu. Kenangan itu memang tak akan kau ingat tapi akan selalu ada dalam otakku. Memori yang selalu tert...
