.DUABELAS.
"Bunda bunga" ucapku sambil terus menangis di hadapannya, aku langsung memegang tangannya yang berada di pipiku aku terus menangis di hadapan nya aku terus menangis di pangkuanya.
"Sayang jangan nangis dong malu tuh sama rara" ucapnya sambil menengadah ke arah si rara yang sedaritadi mengahmbur ke pelukan bundaku, aku pun langsun mengikuti arah pandangnya
"Dia cantik ya laditt"_ ucapnya
"Dia satu satunya wanita yang sabar,dan satu satunya wanita yang ladit cintai" ucapku membalas perkataanya. Aku langsung terpokus lagi kearah wanita cantik yang ada di hadapanku. Yang sedang tersenyum ke arahku.
"Dia sangat cantik melebihi si apa pun, terkecuali bunda bundaku ini" ucapkusambil menyyunggingkan senyuman dan dia membalasnya
"Maaf kan dia kalo selalu bersikap egois ke kamu"
"Itu udah biasa bun, aku udah kebal" ucapku sambil membanggakan diri. Dan terdengar kekehan dari om adi dan tante bunga.
"Kamu paling bisa" ucapnya sambil mengelus puncak kepalaku.
"Tante titip dia yah" ucapnya yang membuat ku semakin takut. Aku terus terdiam melihat ke arahnya oh tuhan jangan aku mohon. Air bening itu terus berselancar tanpa ku minta aku malu kenapa harus menangis di hadapan orang yang sama sekali tidak menangis.
"Bunda percaya sama kamu." ptongnya mengambil napas yang menurutku berat" kamu laki laki yang mampu ngejaga rara."
"Apaan sih tan aku masih bocah esempe, dan lagiankan ada ayah bunda yang ngejagain" ucapku sambil melirik satu persatu seseorang yang selama ini aku kasihi.
"Kamu jangan percaya ayah adi dia itu selalu nelantarin anak istrinya" bisiknya di akhir kalimaat. Spontan aku langsung tertawa kecil setelah melihat raut wajah om adi.
"Bunnn" ucapnya di telinga tante bunga. Mereka masih mesra aja.
"Enggak deh ayah bunda cuman becanda, ayah emang suami terhebat buat bunda" ucapnya sambil mendongak mengarah suaminya itu. Om adi langsung mencium puncak kepala istrinya, yang kulihat laki laki itu sedang menahan tangisnya.
"Gini laditt bunda gk sepenuhnya percaya ama ayah adi atau pun ayah riyo" ucapnya sambil melirik ke arah ayah dan menyunggingkan senyuman nya
"Mereka workaholic tau, hari apapun jam berapapun tidak perlu tau lagi apa kalo ada tugas pasti itu harus segera di urus, kamu ngerti kan?" ucapnya sambil terus menatapku. Aku tetap tidak bergeming aku bener bener gk bisa mendengar kelanjutan katanya.
"Bunda titip Rara karna bunda yakin sama kamu, semoga kamu menjadi laki laki yang baik sayang." ucapnya sambil mengecup dahiku.
"Bundaa" suaraku terdengar sangat miris. Sesak rasanya.
"Bunda mohon titip ya, bunda gk bisa lagi untuk terus mengawasin dia, bunda hanya punya kamu yang mampu menahan egonya selain ayahnya bunda kamu dan ayahkamu" ucapnya sambil menghapus air mata yang akhirnya keluar.
"Bunda ngomong apa sih" ucapku menghilangkan rasa kekhawatiran yang sedari tadi melanda.
"Bunda mohon jaga anak bunda satu satunya ladit bunda mohon, dia sangat berharga dalam hidup bunda" dan seseorang langsung merangkul bunda bunga terlihat erat, dia menyembunyakn wajahnya di leekukan leher bundanya.
"Bundaa" suaranya serak dia terus memeluknya aku yang melihatnya merasa lebih sakit setelah semua orang yang ada di ruangan ini menangis. Semua yang Aku kasihi.
"Sayang jangan gini ah malu tuh sama laditt di liatin" ucapnya lantas rara mulai mengurai pelukan nya dan melihat ke arahku.
"Bunda... Bunda... Bundakan gk bakalan kemana mana kan? Dulu bunda janji kan kalau aku udah besar nanti bunda akan melihat ku suksek bunda akan mendampingi ku di pelaminan bersama yang lain" janji janji bunda bunga yang pernah terbuat itu menyeruak ke permukaan ku. Ingatan tentang kami berdua ngejailin Rara ninggalin Rara dengan tawa kami yang mungkin tidak akan terjadi lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
A' Little Girl
Teen FictionBELUM SELESAI -------------------- Mengapa sikapnya sangat berbeda terhadapku? Sungguh kadang itu membuatku bingung. Aurl~ Sikapku berbeda hanya kepada orang yang kusayang. Laditt~ [17++]
