Bagian 10

28 3 0
                                    

Langit biru di atas sana benar-benar berpihak pada cewek berhijab itu. Cewek itu sedang semangat-semangatnya mencari pekerjaan. Dan siang ini, sepulang sekolah, cuaca begitu membuat kakinya tak merasa lelah walau sudah berjalan jauh menyusuri komplek pertokoan dan restoran di sana.

"Din, kaki lo kuat bener deh. Makan apa sih tadi pagi?" Irvan tiba-tiba saja mengacaknya bercakap. Cowok itu setia menemaninya kapan pun dan di mana pun. Seperti sekarang ini, walau harus rela sarung tangannya lepek akibat kebanyakan menyeka titik-titik keringat dari dahinya.

"Makan orang," balas Andini sambil terus berjalan.

"Hahaha." Irvan tertawa dipaksa. "Nggak lucu ih."

"Van, jangan ngajakin ngobrol deh. Soalnya suara gue udah disiapin cuma buat wawancara kerja aja. Ngobrolnya nanti, kenapa sih."

Irvan tersenyum jahil. "Ih, sewot bener sahabatku ini." lalu kembali tertawa. Selang beberapa langkah perut Irvan mulai menggumamkan panggilan. "Din," panggil Irvan segera sambil cengengesan.

Andini menolehkan sedikit kepalanya, dan mendesah pasrah. "Iya deh, iya. Tapi lo yang traktir lho."

"Lah, kok gue?"

"Gak mau ya udah, gue tinggalin nih."

"Ya udah, ya udah, gue yang traktir."

Akhirnya mereka masuk ke salah satu restoran yang bangunannya terbuat dari kayu berwarna merah kecoklatan. Ukiran-ukiran khas mejeng dengan indahnya di samping lukisan bapak nelayan yang menggendong ikan besar.

Saat pintu kaca tersebut terbuka, kedua sahabat yang masih mengenakan seragam putih-abu itu disambut sapaan ramah beraksen Sunda. Andini dan irvan mengangguk sembari tersenyum, memilih tempat duduk di meja nomor 15, tempat paling pojok di samping kolam kecil berisi Koi yang punya suara bising menenangkan, percik air mancur.

"Ahhh, legaa banget rasanya." Irvan tak pikir panjang saat duduk selonjor kaki. Tangannya menopang tubuh ke belakang dan mulutnya menganga menikmati air conditioner ruangan tersebut.

Andini bersila, duduk di depannya dan melipat tangan di atas meja. "Lembek banget lo, Van. Baru jalan segitu aja udah loyo. Untung tadi ke sini pakai mobil lo, coba kalau pakai sepeda gue."

Irvan nyengir lebar. "Gue masih kuat kok, cuma laper aja, jadinya ya, kek gini deh."

Andini mendecih, tidak marah. "Alesan!"

Tepat saat Irvan akan menyanggah, seorang pelayan dengan seragam kuning kehijauan menawarkan buku menu dan membiarkan kedua remaja itu memilih pesanannya.

"Aku pesan gurame bakar, sayur kangkung, kepiting rebus, tahu-tempenya jangan lupa, Mas. Terus lalapan sama sambelnya banyakin yak. Apalagi ya?" Irvan mengelus dagunya berpikir.

Andini sendiri melongo melihat porsi makan sahabatnya ini. Sejak kapan dia makan begitu banyak?

Sedangkan si pelayan sendiri tengah asik menulis semua pesanan Irvan di note kecil di pegangannya.

"... minumnya es campur sama jus jeruk, Mas. Udah itu aja deh." Itu yang terdengar di telinga Andini. Begitu banyak pesanan membuat Andini sendiri lupa tadi Irvan pesan apa saja.

"Mbaknya mau pesan apa?" tanya si pelayan sopan.

Andini meneguk ludah. Selera makannya yang sedari awal tidak terlalu besar kini lenyap sudah. "Hmm. Aku nasi sama jus jeruk aja, Mas. Nanti aku minta lauknya dia aja." Sambil mengedikkan dagu mengarah ke Irvan.

Irvan membulatkan mata. "Lho? Pesan ndiri lah. Masa minta orang sih?"

"Gue bakal eneg lihat lo makan sebanyak itu sendirian. Jadi gue cuma mau ngebantuin lo aja ah." Andini berdalih.

"Nggak bisa! Apaan, semua yang gue pesan itu punya gue." Irvan tak mau kalah.

"Bodo. Gue cuma mau minta aja kali ini. Gak mau pesan."

Irvan langsung memasang muka siap menerkam. Matanya melotot tajam. "Lo--"

"Ma-maaf, Mas, Mbak. Jadinya pesan nasi sama jus jeruk aja nih buat Mbaknya?" si pelayan menengahi sebelum perdebatan itu makin panjang dan tak berujung.

Andini mengangguk. Pasrah, Irvan pun ikut mengangguk.

"Baik, Mas, Mbak, silakan ditunggu ya." si pelayan pun pergi membawa pesanan mereka berdua.

Andini dan Irvan saling bergulat pandang saat pelayan itu sudah menjauh. Andini menepuk lengan Irvan keras sambil memonyongkan bibir, meledek. Cowok itu balas menepuk lengan Andini masih dengan pelototan di matanya. Mereka tak sadar telah menjadi tontonan lucu bagi beberapa pengunjung restoran itu.

Setelah sepuluh menit berlalu, pesanan belum juga datang. Malahan ruangan ini sudah penuh pengunjung berdatangan. Mereka seperti sengaja berbondong-bondong datang ke sini. Sangat banyak sampai para pelayan terkesan kewalahan. Para pelayan mulai berinteraksi satu sama lain dengan berteriak—meskipun sebetulmya ini yang jadi pemikat utama restoran tersebut.

"Nomor lima, paket spesial buat pelanggan utama!" pinta seorang pelayan pada koki di balik bilik.

"Pelanggan utama, wilujeng siang! Pesanan siap antar!" balas serempak para koki.

"Nomor tiga belas," teriak pelayan lain yang kemudian menyebutkan serentetan nama makanan dalam menu. "teu make lila, nyak!"

"Bisi diatur...," balas para koki kembali serempak. "Tong poho pelicin na nyak! Hahaha!" imbuh mereka guyon.

Suasana ini membuat Andini terkesima akan kerjasama tim restoran. Andini malah membayangkan dirinya berada di tengah-tengah yang lain. Berteriak lantang menyebutkan pesanan para pelanggan, lalu mendapat balasan canda dari meraka, tertawa bersama di tengah-tengah kesibukan pekerjaan.

Pas buat dia yang lagi cari kerjaan sementara. Asik nih kayaknya kerja di sini.

Andini tersenyum senang melihat bagaimana senyum pelayan di sana nampak tulus. Seolalh bekerja tanpa beban berarti. Apalagi para pengunjung yang balas tersenyum pula, Seakan membuat pekerjaan adalah ibadah tersendiri.

"Gurame, kangkung, dan yang lainnya buat nomor 15 sudah siap!" teriak seorang koki dari dalam bilik.

Andini dan Irvan saling tatap, menaikkan alis, lalu mengedik bahu. Suara orang di dalam sana terdengar familiar.

"Za, lagi penuh ieu. Anterin sendiri nyak!" balas si Mas pelayan yang tadi menerma pesanan Andini dan Irvan.

"Allright!"

Kening keduanya luntur seketika saat pesanan tersebut sampai di meja mereka. Tak lain dan tak bukan, yang membuat penasaran kedua sahabat ini adalah si pembawa yang bercelemek dan bertopi koki.

"Wow," Andini merekahkan senyum melihat cowok itu.

"Ehhh?" Irvan membelalak mata.

Koki muda—yang dibalik celemeknya tersebut masih mengenakan kemeja putih sekolah—pun mendesah pendek. Dia kemudian tersenyum. "Yo Din, Van," sapanya datar.

"H-hai Reza."

"Reza?"

@@@@@

atߌR

DeeperTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang